Hits: 8
Dwi Garini Oktavianti
Pijar, Medan. Peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia yang jatuh pada 2 April, kembali menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai autisme yang hingga kini masih kerap disalahpahami. Pada tahun 2026 ini, tema yang diangkat adalah “Autism and Humanity–Every Life Has Value” atau “Autisme dan Kemanusiaan–Setiap Kehidupan Berharga”, yang menegaskan bahwa setiap individu, termasuk penyandang autisme memiliki nilai yang sama dalam kehidupan.
Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi, serta merespons lingkungan. Melansir dari autismeurope.org, autisme disebut sebagai “spektrum” karena memiliki tingkat keparahan dan karakteristik yang berbeda pada setiap individu. Ada yang membutuhkan dukungan intensif, tetapi ada pula yang mampu hidup mandiri dengan penyesuaian tertentu.
Penting untuk dipahami bahwa autisme bukan penyakit yang bisa “disembuhkan”, melainkan sebuah kondisi yang perlu dipahami dan didampingi. Dalam banyak kasus, individu dengan autisme memiliki cara berpikir yang berbeda atau disebut sebagai perbedaan kognitif. Hal ini dapat memengaruhi perkembangan sosial dan emosional mereka.
Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang keliru dengan menyamakan autisme dan sindrom down (down syndrome). Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Sindrom down terjadi akibat kelainan kromosom, sementara autisme berkaitan dengan perkembangan fungsi otak. Kesalahan pemahaman ini seringkali memperkuat stigma dan memperlambat upaya inklusi sosial bagi para penderita autisme.
Individu dengan autisme bukan hanya tentang keterbatasan, tetapi juga tentang potensi. Banyak dari mereka menunjukkan kemampuan luar biasa di bidang tertentu, seperti seni, musik, hingga analisis logika. Namun, tantangan terbesar seringkali bukan berasal dari kondisi itu sendiri, melainkan dari lingkungan sosial yang belum sepenuhnya menerima.
Nur, seorang ibu dengan anak autis berusia 16 tahun, mengaku mengalami tekanan sosial sebelum anaknya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB).
“Stigma-stigma yang kurang enak didengar untuk anak autis banyak. Saya sendiri pernah mengalami ketika anak saya dibilang bodoh, dibilang seperti orang gila,” ujarnya.
Menurutnya, penilaian tersebut muncul karena masyarakat belum memahami karakteristik anak autis yang cenderung memiliki dunia sendiri, sulit fokus, dan terkadang kesulitan mengontrol emosi.
Perubahan mulai dirasakan setelah anaknya bersekolah di SLB. Lingkungan yang lebih memahami kebutuhan anak berkebutuhan khusus membuat Nur merasa tidak lagi sendirian dalam menghadapi situasi tersebut.
“Banyak stigma-stigma yang saya rasakan dulu, tetapi semenjak saya sekolahkan dia di sekolah yang berkebutuhan khusus, saya merasa tidak sendiri,” ungkapnya.
Melalui peringatan ini, edukasi menjadi kunci utama untuk menghapus stigma dan membangun empati. Masyarakat di seluruh dunia diharapkan tidak sekadar mengetahui apa itu autisme, tetapi juga belajar untuk menerima dan mendukung.
“Anak saya mungkin berbeda, tapi dia tetap punya perasaan dan impian. Saya berharap orang-orang bisa lebih memahami, bukan sekadar memberi label,” tutup Nur.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

