Hits: 23

Siti Nasuha Abidin Damanik

Pijar, Medan. Setelah diselenggarakan di berbagai belahan dunia pada tahun-tahun sebelumnya, sorotan pencinta olahraga kini resmi tertuju pada Italia. Italia didapuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2026, atau yang secara resmi dikenal sebagai Milano Cortina 2026. Turnamen akbar ini dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 22 Februari 2026, dengan upacara pembukaan yang telah berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026.

Penunjukan ini merupakan hasil keputusan sidang International Olympic Committee (IOC) ke-134 di Lausanne, Swiss, di mana Italia berhasil mengungguli Swedia berkat konsep yang menonjolkan keberlanjutan dan efisiensi infrastruktur. Kemenangan Italia ini membawa perubahan paradigma dalam penyelenggaraan ajang olahraga internasional.

Berbeda dengan edisi sebelumnya yang sering kali meninggalkan jejak pembangunan masif tetapi tidak terpakai, Milano Cortina melakukan efisiensi infrastruktur yang signifikan. Sekitar 93% venue yang digunakan merupakan fasilitas yang sudah ada atau hanya berupa struktur sementara. Langkah berani ini diambil untuk menekan dampak lingkungan serta memastikan tidak ada bangunan yang terbengkalai pascaacara. Sebuah perbedaan nyata jika dibandingkan dengan edisi Sochi atau Beijing yang banyak membangun stadion baru dari nol.

Secara historis, ini merupakan kali ketiga Italia menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin setelah kesuksesan di Cortina (1956) dan Torino (2006). Namun, edisi 2026 mencatatkan sejarah unik sebagai Olimpiade pertama yang diselenggarakan secara resmi oleh dua kota sekaligus. Seluruh pertandingan cabang olahraga es, seperti Figure Skating dan Hoki Es, dipusatkan di kemegahan metropolitan Milan. Sementara itu, untuk olahraga salju seperti Ski Alpen dan Bobsleigh, para atlet akan bertanding di tengah pesona alam pegunungan Dolomites, tepatnya di Cortina d’Ampezzo.

Sebanyak 92 atlet dari National Olympic Committees (NOC) yang bertanding merasakan euforia Milano Cortina 2026 semakin berwarna berkat komposisi atletnya yang mencerminkan inklusivitas tinggi. Tahun ini, jumlah partisipasi atlet perempuan dan laki-laki berada pada titik yang hampir setara. Hal ini merupakan kebijakan progresif IOC yang menghadirkan lebih banyak nomor pertandingan kategori putri, serta penambahan kuota atlet putri secara signifikan. Perubahan ini memberikan warna baru pada persaingan medali yang kini terasa jauh lebih kompetitif dan setara bagi semua gender.

Selain inklusivitas, kehadiran bintang-bintang dunia di lintasan salju dan es juga berhasil mendongkrak kembali pamor cabang olahraga yang sempat meredup. Figure Skating dan Ski Alpen kembali menjadi magnet utama, terutama dengan lahirnya ikon-ikon baru seperti Alysa Liu. Atlet Figure Skating asal Amerika Serikat tersebut mencetak sejarah sebagai salah satu atlet seluncur es termuda dan paling berprestasi di generasinya. Penampilannya yang memukau dan menyenangkan bahkan sempat menjadi tren di berbagai platform media sosial. Hal ini menarik minat generasi muda untuk kembali melirik olahraga musim dingin.

Dengan segala inovasi dan semangat kesetaraan yang dibawa, Milano Cortina 2026 dipastikan akan menjadi standar baru bagi penyelenggaraan ajang olahraga internasional di masa mendatang. Pesta olahraga ini berhasil membuktikan bahwa sebuah kompetisi global tidak hanya soal mengejar rekor tercepat, tetapi juga tentang meninggalkan warisan yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi selanjutnya.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment