Hits: 125

Deswita Fajarani

Pijar, Medan. Banyak sekali jenis olahraga yang ada di Indonesia, termasuk salah satunya adalah olahraga tradisional yang mulai punah digantikan dengan olahraga yang ‘terkesan’ lebih modern. Salah satu olahraga tradisional yang mungkin masih sangat asing di telinga banyak orang, terutama kawula muda ialah Jemparingan.

Jemparingan merupakan olahraga panahan khas Kerajaan Mataram, Yogyakarta yang dilakukan dalam posisi duduk. Olahraga ini terbilang unik dikarenakan berbeda dengan memanah seperti biasanya yang dilakukan dengan posisi berdiri dan anak panah yang terbuat dari bambu. Tak hanya unik, Jemparingan juga olahraga yang tidak memandang bulu alias semua kalangan gender dan umur bisa melakukannya.

Dikutip dari indonesia.go.id, jemparing atau anak panah terdiri atas deder atau batang anak panah, bedor atau mata panah, wulu atau bulu pada pangkal panah, dan nyenyep atau bagian pangkal dari jemparing yang diletakkan pada tali busur saat memanah. Untuk busur dinamakan gandewa yang terdiri dari cengkolak atau pegangan busur, lar atau bilah yang terdapat pada kiri dan kanan cengkolak, serta kendheng atau tali busur yang masing-masing ujungnya dikaitkan ke ujung-ujung lar.

Mengulik kisah mengenai olahraga ini, bermula sejak adanya keberadaan Sri Sultan Hamengku Buwono I yang berperan sebagai raja pertama Yogyakarta. Ia mendorong pengikutnya untuk belajar memanah sebagai wadah untuk membentuk watak ksatria dengan empat nilai yang harus dijadikan pegangan. Empat nilai tersebut terdiri dari sawiji (konsentrasi), greget (semangat), sengguh (rasa percaya diri), dan ora mingkuh (tidak gentar).

Tak hanya terdengar unik, Jemparingan juga seni memanah yang kaya filosofi. Sehubungan untuk tercapainya pembentukan watak ksatria (sawiji) itulah yang membuat panahan ini berbeda dari yang lain. Pemanah jemparingan tak hanya memanah dengan posisi bersila, namun juga tidak membidik dengan mata. Ketika ingin memanah, posisi busur mendatar di hadapan perut sehingga hasil bidikan panah didasarkan pada perasaan pemanah. Gaya memanah tersebut sejalan dengan filosofi pamenthangin gandewa pamanthenging cipta yang memiliki pesan bahwa manusia yang punya cita-cita agar berkonsentrasi penuh kepada tujuannya agar tercapai.

Sangat disayangkan jika generasi penerus bangsa tidak melestarikan tradisi olahraga Jemparingan ini. Kawula muda harus punya kesadaran diri untuk menjaga dan melestarikan budaya, termasuk olahraga tradisional yang satu ini. Kita semua pasti sama-sama berharap dan berusaha agar olahraga ini tetap dapat dianggap ‘keren’ di masa sekarang.

Semua pihak harus menjaga kelestarian tradisi olahraga Jemparingan agar tetap hidup dan dikenal banyak orang. Karena warisan budaya Indonesia menjadi identitas bagi rakyat-rakyatnya. Cara yang dapat dilakukan seperti mengetahui apa dan bagaimana olahraga ini, membuat semacam perlombaan, dan juga memperkenalkan olahraga ini kepada masyarakat yang masih asing mendengarnya.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment