Hits: 49
Luan Nayoka Purba / Hanina Afifah
Pijar, Medan. Apa jadinya jika kamu tersesat di tengah pegunungan tanpa membawa Global Positioning System (GPS), atau tiba-tiba temanmu cedera, sementara kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) tak ada di dalam ransel? Situasi-situasi ini bisa mengubah perjalanan yang seharusnya menyenangkan menjadi penuh risiko. Itulah sebabnya, setiap orang yang ingin mencoba olahraga Hiking perlu membuat persiapan matang.
Kini, olahraga Hiking atau berjalan kaki di alam terbuka semakin digemari berbagai kalangan, baik untuk mencari ketenangan, menjaga kesehatan, maupun menambah pengalaman baru. Popularitasnya semakin meningkat, didorong oleh berbagai unggahan di media sosial yang menampilkan keindahan alam, membuat semakin banyak orang tertarik mencobanya.
Dilansir dari halodoc.com, olahraga ini bermanfaat bagi tubuh dan pikiran, mulai dari menjaga kebugaran, menurunkan risiko penyakit jantung, hingga meningkatkan kesehatan mental. Kenyataannya, tidak sedikit yang masih salah kaprah dalam memaknai Hiking. Kerap kali ini dijadikan ajang bergaya dengan pakaian (outfit) menarik, adu konten, bahkan ada pula yang mengajak anak kecil mendaki tanpa memperhatikan aturan keselamatan.
Dikutip dari kompas.com, Ketua Umum Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Rahman Mukhlis, menjelaskan bahwa anak yang boleh ikut mendaki umumnya mulai usia 10 tahun, atau minimal tiga tahun bila jalur ringan dan tidak lebih dari 2.000 Meter di atas Permukaan Laut (MDPL). Ia mencontohkan kasus orang tua yang membawa anak usia dua tahun ke Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.000 MDPL, dinilai tidak tepat karena terlalu berisiko.
Sebab itu, olahraga ini menuntut persiapan serius, karena setiap pendakian memiliki tantangan dan risiko tersendiri. Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan ketahanan fisik, penguatan mental, serta rasa tanggung jawab dibutuhkan sebagai faktor utama dalam persiapannya.
Untuk memulai persiapan fisik, tubuh perlu dibiasakan dengan aktivitas berjalan jauh dan menanjak, sebab jalur pendakian biasanya curam, berbatu, dan licin yang cepat menguras stamina. Tingkat kesulitan juga dipengaruhi ketinggian MDPL. Semakin tinggi sebuah gunung, maka oksigen pun semakin menipis, suhu lebih dingin, dan jalur lebih menantang. Maka memahami karakteristik gunung yang akan didaki sangat diperlukan.
Sebagai bagian dari persiapan fisik, pemanasan dengan gerakan dinamis juga wajib dilakukan. Melansir dari idntimes.com, selain memperlancar aliran darah ke otot, manfaat pemanasan juga dapat meningkatkan elastisitas dan fleksibilitas otot, serta mengurangi risiko cedera.
Selain fisik, mental juga berperan penting. Saat mendaki, pendaki akan sering berhadapan dengan kondisi tak menentu. Mulai dari cuaca yang berubah, hingga jalur menanjak dan berliku yang menguras emosi. Memiliki mental yang kuat dapat membantu pendaki tetap fokus dan tenang saat mendaki. Sebaliknya, mental yang lemah membuat mudah panik dan kehilangan fokus, sehingga potensi risiko kecelakaan semakin besar.
Persiapan perlengkapan juga tidak kalah penting. GPS, senter, kotak P3K, ransel tahan air, kantong sampah, jas hujan, Alat Pelindung Diri (APD), hingga obat anti nyamuk termasuk peralatan dasar yang wajib dibawa. Semua ini berguna untuk mengantisipasi berbagai situasi, mulai dari teman yang cedera, hingga jalur yang rawan membuat pendaki tersesat.
Terakhir, menjunjung etika adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari olahraga ini. Saat melakukan Hiking, pendaki harus peduli pada diri sendiri, teman, dan lingkungan. Bila ada teman yang mengalami kondisi darurat saat pendakian, maka pemahaman akan tanda-tanda bahaya dan kekompakan tim menjadi kunci.
Etika juga harus diselaraskan dengan alam dan budaya setempat, seperti dengan menjaga sikap di gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat sekitar, tidak merusak jalur, serta tidak membuang sampah sembarangan merupakan wujud tanggung jawab untuk melestarikan alam sekaligus menghormati budaya.
Sejatinya, tujuan Hiking bukan sekadar mencapai puncak tertinggi. Lebih dari itu, Hiking mengajarkan arti kesiapan dan perencanaan yang baik dalam mengutamakan keselamatan diri, memupuk nilai solidaritas, melatih kerja sama, serta menumbuhkan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan. Dengan bekal yang tepat, setiap langkah pendakian akan lebih aman, menyenangkan, dan penuh pelajaran berharga.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

