Hits: 69

Fatiha Fayza / Khairun Nisa Lubis

Pijar, Medan. Panitia Penjaringan dan Penyaringan Calon Rektor (P2CR) Universitas Sumatera Utara (USU), menggelar audisi pemilihan rektor di Auditorium USU. Acara dihadiri oleh Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik, pihak fakultas, serta perwakilan mahasiswa pada Rabu (24/9/2025).

Audisi ini menjadi bagian dari rangkaian pemilihan rektor USU yang puncaknya akan berlangsung pada 2 Oktober 2025. Dalam kegiatan ini, delapan calon rektor, yaitu Firman Syarif, Muryanto Amin, Poppy Anjelisa Zaitun Hasibuan, Johny Marpaung, Syahril Efendi, Isfenti Sadalia, Himsar Ambarita, dan Hasim Purba memaparkan visi serta misi mereka untuk lima tahun ke depan.

Tamrin, selaku Sekretaris MWA untuk periode 2025-2030 sekaligus Ketua P2CR, menjelaskan bahwa proses pemilihan rektor terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah penjaringan terbuka yang berlangsung pada 28 Agustus hingga 10 September 2025. Pada tahap ini, terdapat 14 orang pendaftar. Dari jumlah tersebut, sembilan orang lolos verifikasi awal, kemudian mengerucut menjadi delapan calon setelah seleksi administrasi.

“Pendaftaran untuk calon rektor ini kita buka boleh untuk siapa saja, bisa dari luar, masyarakat umum, yang paling penting sudah harus S-3,” jelasnya.

Tahap kedua melalui pemilihan oleh Senat Akademik. Dari delapan calon, tiga nama dengan perolehan suara tertinggi akan diputuskan dan dikirimkan ke MWA. Tahap kedua akan digelar pada Kamis (25/9/2025).

Berlanjut ke tahap ketiga sekaligus tahap akhir adalah pemilihan rektor oleh 21 anggota MWA pada 2 Oktober 2025 yang akan dilakukan di Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Tamrin juga menegaskan, bahwa panitia berkomitmen menjaga netralitas selama rangkaian pemilihan, serta pentingnya menjaga integritas proses pemilihan agar tetap berlangsung sesuai aturan.

“Kami berharap proses ini dapat berjalan dengan jujur, transparan, demokratis, serta bermartabat agar menghasilkan pemimpin terbaik bagi USU,” ujar Tamrin.

Namun, suara kritis juga datang dari mahasiswa. Muamar, mahasiswa Antropologi, menilai jalannya audisi masih belum sepenuhnya terbuka.

“Proses ini tidak cukup transparan menurut saya karena sesi diskusi terbatas. Bahkan yang bertanya juga tidak merata, sehingga menimbulkan kecurigaan apakah sudah disiapkan sebelumnya. Perlu ada agenda dari mahasiswa sendiri untuk berdialog langsung dengan seluruh calon rektor agar aspirasi dari bawah benar-benar terdengar,” ungkapnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment