Hits: 65

Cintya Novi Yanti

Pijar, Medan. Youthpreneur Community, sebuah komunitas bisnis yang terbuka bagi generasi muda, menyelenggarakan acara perdananya dengan mengusung tema ”Entrepreneurial Mindset: Building a Growth Mindset in Business”. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai fakultas dan universitas yang memiliki minat di bidang bisnis dan kewirausahaan. Acara ini dilaksanakan pada Jumat (16/5/2025).

Youthpreneur Community merupakan inisiasi dari Himpunan Mahasiswa Kewirausahaan (HMW) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU). Komunitas ini dibentuk sebagai wadah diskusi dan kolaborasi bagi anak muda yang tertarik dengan dunia bisnis dan kewirausahaan. Tujuan utama dari komunitas ini adalah untuk menciptakan ekosistem wirausaha yang inklusif, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan bimbingan dari praktisi berpengalaman.

Ketua Youthpreneur Community, Khairul, menjelaskan manfaat kegiatan yang diselenggarakan oleh pihaknya.

“Youthpreneur Community akan berkelanjutan sebagai ruang diskusi yang membahas terkait bisnis dan sharing session kepada semua orang, baik dari bidang akademik maupun non akademik,” ujarnya.

Ketua Umum HMW, Daffa Rizki Hervindo, menjelaskan bahwa Youthpreneur Community dibentuk sebagai tanggapan atas kebutuhan mahasiswa jurusan Kewirausahaan dalam memperluas jaringan dengan kalangan muda di luar lingkup USU.

“Kuncinya itu yang penting punya minat dan tertarik di bidang bisnis dan kewirausahaan, tanpa harus punya bisnis yang sudah berjalan,” ujar Daffa.

Setelah sesi pembuka dan perkenalan Youthpreneur Community, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Arif Qaedi Hutagalung, selaku mentor sekaligus dosen Kewirausahaan. Arif menekankan pentingnya pola pikir berkembang dalam dunia bisnis dibandingkan pola pikir tetap. Menurutnya, seorang wirausaha dengan pola pikir berkembang mempunyai peluang sukses lebih tinggi karena mampu mencari solusi dan menganggap konflik bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai tantangan yang bisa diatasi.

Tidak hanya sekadar diskusi, kegiatan ini juga diselingi dengan permainan interaktif untuk menguji pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi pertanyaan tantangan. Pertanyaan yang diberikan seputar reaksi seorang wirausaha sebagai sebuah tim ketika menghadapi konflik, serta bagaimana tindakan yang sebaiknya diambil.

“Harapan kami dengan adanya komunitas ini, mahasiswa yang berasal dari keilmuan yang berbeda, seperti sastra dan kedokteran, tetap bisa mengembangkan ide bisnis mereka tanpa dibatasi,” tutup Arif.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment