Hits: 85

Diva Meilisa

Pijar, Medan. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) menyelenggarakan pelantikan pengurus baru untuk periode 2025/2026 dengan tema “Quo Vadis Gerakan Mahasiswa” pada Rabu (19/3/2025).

Pergantian pengurus GMNI FISIP USU periode ini diikuti dengan kebangkitan baru, yaitu  penambahan beberapa bidang yang bertujuan untuk mengembangkan organisasi tersebut.

Gerakan mahasiswa yang menganut asas Marhaenisme ini memiliki beberapa visi dan misi dalam kepengurusannya yang baru. Visi dan misi tersebut adalah untuk mewujudkan GMNI FISIP USU sebagai organisasi progresif yang berakar kuat pada ideologi Marhaenisme, responsif terhadap isu sosial-politik, serta aktif dalam pengembangan kader dan pengabdian masyarakat.

Mengusung beberapa program kerja unggulan, GMNI FISIP USU bertujuan untuk terus melaksanakan kaderisasi. Salah satunya adalah menciptakan program kerja baru berupa Pekan Olahraga Marhaenis (POM) untuk meningkatkan solidaritas antar tim. Selain itu, program kerja prioritas dalam pengabdian masyarakat yang merupakan kolaborasi antara GMNI FISIP USU dengan Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik bertema “Quo Vadis Gerakan Mahasiswa” yang dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di Sumatera Utara sebagai pembicara, yakni Masinton Pasaribu selaku Bupati Tapanuli Tengah, Mutia Atiqah sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Medan, dan Faisal Andri Mahrawa selaku Akademisi dan Dosen FISIP USU.

Pelantikan Pengurus dan Diskusi Publik GMNI FISIP USU Periode 2025/2026 - www.mediapijar.com
Diskusi publik oleh beberapa pembicara mengenai arah pergerakan
(Fotografer: Diva Meilisa)

Diskusi publik ini mendorong anggota GMNI FISIP USU untuk tidak hanya menggelar pelantikan yang bersifat seremonial, tetapi juga kegiatan diskusi yang memiliki muatan untuk khalayak luas.

Dalam sesi diskusi, Faisal Andri Mahrawa menyoroti perbedaan aktivis pada masa reformasi dengan masa sekarang.

“Pada masa reformasi, aktivis mahasiswa benar-benar memiliki kesadaran dalam merespons dan menyikapi isu-isu sosial dan politik negaranya. Sementara, aktivis mahasiswa di masa sekarang hanya berfokus pada keaktifan mereka di kegiatan organisasi, tanpa menyadari situasi dan kondisi yang ada,” tuturnya.

Sebagai penutup, Lewis Gordon kembali menyampaikan harapannya terhadap perkembangan kepengurusan baru dalam satu periode ke depan.

“Saya berharap semoga semua pengurus dapat bekerja sama untuk saling mewujudkan kinerja tim dalam organisasi. Semoga apa pun yang dilakukan bukan hanya untuk organisasi itu sendiri secara ekslusif, tetapi juga seluruh mahasiswa yang dapat berkolaborasi dalam program kerja yang membangun sesama,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment