Hits: 66

Reporter Pijar

Pijar, Medan. Tanggal 24 Maret menjadi salah satu hari penting bagi masyarakat Indonesia dalam memperingati peristiwa Bandung Lautan Api. Perjuangan warga Bandung demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia di kala itu melambangkan momentum krusial dalam hari peringatan tersebut.

Sebagai kilas balik sejarah, peristiwa Bandung Lautan Api ditandai dengan ultimatum yang diberikan pihak Sekutu kepada Perdana Menteri Syahrir pada 23 Maret 1946. Ultimatum tersebut menginstruksikan rakyat Bandung untuk segera meninggalkan Bandung Selatan selambat-lambatnya pada 24 Maret 1946 pukul 00.00 sejauh 10-11 km dari pusat kota dan menyerahkan seluruh alat senjata yang ada.

Ultimatum ini merupakan ultimatum kedua yang diberikan oleh pihak Sekutu. Penolakan sempat terjadi, tetapi desakan terus dilayangkan oleh Sekutu sehingga terjadi pengosongan Kota Bandung. Masyarakat Bandung membumihanguskan beberapa titik vital di Kota Bandung sebelum serentak meninggalkan pusat kota, agar Sekutu dan NICA tidak bisa menggunakan Bandung sebagai markas militer.

Perjuangan masyarakat Indonesia di masa lampau memiliki kesamaan dengan kondisi terkini di Indonesia. Belakangan ini, pengesahan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) pada 20 Maret 2025 mendapat kecaman dari berbagai pihak. Pasalnya, rancangan tersebut mencantumkan ketentuan yang dapat membuka peluang bagi TNI untuk berperan dalam bidang di luar pertahanan, serupa dengan konsep dwifungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada era Orde Baru.

Kabar ini memancing respons kekecewaan dan kemarahan dari seluruh rakyat. Bentuk ketidakterimaan pengesahan RUU TNI tersebut digaungkan melalui aksi demonstrasi pada beberapa daerah, terkhusus di Kota Bandung.

Aksi yang terjadi di Bandung berlangsung sangat panjang. Para massa berkumpul dari terang hingga gelap, bahkan bermalam dengan memasang tenda di sepanjang titik utama lokasi aksi, yaitu kantor DPRD Kota Bandung. Beberapa pedagang juga turut terlibat dalam menyiapkan makanan bagi para demonstran untuk keperluan sahur dan buka puasa.

Dilansir dari salah satu akun X (@barengwarga), massa aksi terlihat menyanyikan lagu “Bandung Lautan Api” selama demonstrasi berlangsung sebagai bentuk perjuangan mereka dalam menyuarakan aspirasi rakyat.

Kekecewaan, kekesalan, dan kemarahan yang dirasakan oleh rakyat Indonesia nyata adanya. Aksi demonstrasi dianggap sebagai salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi. Hingga saat ini, protes terhadap RUU TNI masih berlangsung dengan harapan pemerintah segera memberikan titik terang dan masyarakat terus mengawal Penolakan RUU TNI.

“Jangan mau dibungkam, Jangan takut untuk bersuara, jangan lelah untuk bersuara. Stay determined!” ujar salah satu akun X (@yasutatan_).

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment