Hits: 134

Davina Syafa Fatia / Erna Berliana

Pijar, Medan. Senioritas di lingkungan kampus kerap disebut sebagai kegiatan pembentukan karakter bagi mahasiswa baru. Namun, beberapa pihak menilai bahwa praktik ini adalah bentuk perundungan secara tidak langsung. Tidak sedikit mahasiswa baru yang merasa bahwa tradisi senioritas lebih terasa seperti pengintimidasian ketimbang pembimbingan. Apakah senioritas masih relevan di era sekarang?

Secara umum, senioritas sendiri berarti merujuk pada status atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau organisasi, berdasarkan lama waktu mereka berpartisipasi atau banyaknya pengalaman yang dimiliki. Praktik senioritas awalnya berfungsi untuk memberi arahan, panduan, serta bantuan dari senior terhadap junior agar dapat lebih mudah beradaptasi, baik di lingkungan sekolah, kuliah, atau kerja. Namun, dalam praktiknya, senioritas sering kali beralih fungsi menjadi bentuk dominasi yang tidak sehat.

R, mahasiswa baru Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara mengatakan, “Menurut saya, alasan mahasiswa masih melakukan tindak senioritas karena adanya rasa ingin dihormati dan dihargai yang menggebu-gebu, haus akan validasi, membutuhkan pengakuan, dan keinginan untuk berkuasa.”

Kemudian ia menambahkan, “Memang sudah sepantasnya kita menghormati yang lebih tua, tetapi adanya senioritas yang terlalu berlebihan, saya rasa itu tidak penting untuk diteruskan.”

Beberapa pihak menganggap bahwa sudah saatnya senioritas dilunturkan atau setidaknya diolah ulang agar tidak menjadi ajang intimidasi dan lebih bersahabat. Di sisi lain, tidak sedikit juga yang masih percaya dan mendukung tindak senioritas, tetapi secara benar dan tanpa tekanan sebagai wadah pembentukan karakter. Seperti menurut Emilia Ramadhani, salah seorang dosen Program Studi Ilmu Komunikasi USU.

“Kalau saya, jika senioritas dilakukan dengan benar, maka lebih banyak baiknya. Senior bisa kasih info-info tentang beasiswa, mereka juga sharing sesuatu yang mereka buat salah, adik-adiknya jangan salah.”

Emilia juga mengungkapkan, bahwa belakangan untuk penerimaan mahasiswa baru sudah tidak ada perploncoan seperti zaman dulu, karena dianggap tidak ada manfaatnya, meskipun di beberapa fakultas, terutama di fakultas eksakta hal tersebut masih terjadi. Padahal, kata Emilia, perploncoan memiliki sisi positif juga.

“Sebenarnya, perploncoan itukan gunanya agar kita menghormati senior, segan, sungkan, namanya juga dia senior kita yang harus kita hormati. Nah, sejak gak ada perploncoan ini, Kakak pribadi lihatnya, adik-adik kelas jadinya gak terlalu takut sama seniornya dan kurang sopan juga kayak teman padahal beda tingkat, untung kakak kelasnya baik-baik.”

Fenomena ini masih banyak menuai perdebatan. Meskipun senioritas dapat menjadi sarana berbagi pengalaman dan pengetahuan, perlu diperhatikan praktik yang sesuai agar dapat membantu mahasiswa baru tanpa embel-embel intimidasi. Sudah saatnya kampus dan mahasiswa berbenah, mencari jalan tengah agar hubungan antara mahasiswa dan mahasiswa baru terjalin harmonis tanpa melupakan nilai-nilai penghormatan.

(Redaktur Tulisan: Hana Anggie)

Leave a comment