Hits: 179

Shafna Jonanda Soefit Pane

Pijar, Medan. Permainan tradisional dahulu bukan hanya sebagai sarana hiburan saja, tetapi juga memiliki banyak sekali manfaat. Selain mendekatkan kita dengan sesama, permainan tradisional juga menyehatkan tubuh karena membutuhkan pergerakan dari seluruh tubuh. Melompat, berlari, dan banyak jenis gerakan lainnya. Salah satu permainan tradisional tersebut adalah lompat karet.

Permainan lompat karet ini mirip seperti lompat tali. Disebut lompat karet karena alat bermain yang digunakan terbuat dari karet gelang yang disatukan sehingga membentuk tali panjang. Dilansir dari theasianparent.com, Dinas Kebudayaan Jakarta menyebutkan bahwa lompat tali karet atau lompat karet berasal dari Betawi, tetapi sebenarnya tidak diketahui siapa pencipta dan dari mana asal mula permainan ini.

Tidak ada penjelasan pasti mengenai asal mula permainan ini. Namun, diketahui bahwa permainan ini dahulu hanya dimainkan oleh anak-anak Belanda dan dikatakan berasal dari benua Eropa hingga menyebar ke Asia

Lompat karet umumnya banyak dimainkan oleh anak perempuan. Namun, tidak jarang pula anak laki-laki akan ikut bermain. Tidak ada aturan khusus untuk jumlah pemain dari lompat karet ini. Umumnya, dibutuhkan tiga sampai sepuluh orang untuk bermain. Jika tidak memungkinkan, bisa juga dimainkan oleh dua orang dengan bantuan tiang untuk mengikat ujung tali karetnya.

Alat yang digunakan untuk bermain lompat karet pastinya adalah sebuah tali panjang yang terbuat dari kumpulan karet gelang yang dianyam. Karet gelang tersebut disambung hingga membentuk tali sepanjang tiga sampai lima meter.

Cara bermain lompat karet adalah dengan membagi pemain menjadi dua tim, tim penjaga dan tim pemain. Tim penjaga terdiri dari dua orang yang bertugas memegang masing-masing ujung karet. Tim pemain akan bermain dan melompati tali yang dipegang oleh tim penjaga. Anggota tubuh pemain tidak boleh menyenggol tali. Tali karet akan dinaikkan ketinggiannya setelah diloncati oleh semua anggota tim pemain. Ketinggian karet dimulai dari mata kaki penjaga tali, hingga yang paling tinggi adalah setinggi tangan yang diangkat ke atas.

Pertukaran tim akan dilakukan jika pemain mengenai atau menyenggol tali karet ketika melompat. Pemenang dari permainan ini adalah pemain yang pertama kali berhasil melewati semua tingkatan tali tersebut.

Permainan lompat karet yang sederhana ini ternyata memiliki beberapa manfaat. Gerakannya melibatkan ketangkasan, sehingga dapat melatih otot kaki dan koordinasi tubuh. Fungsi kognitif juga terlatih dan kepadatan tulang meningkat. Lompat karet termasuk dalam jenis olahraga ringan yang baik sebagai aktivitas kardio untuk jantung.

Lompat karet ini dapat menjadi sarana bersosialisasi bagi anak-anak. Anak juga dilatih untuk bersikap sportif, jujur, menjunjung kebersamaan, menaati aturan, serta bersikap lapang dada. Motorik anak yang masih kasar akan terasah, sehingga nantinya otot-ototnya padat dan kuat.

Kini, permainan lompat karet sudah mulai dilupakan. Permainan tradisional sudah banyak ditinggalkan, digantikan dengan kegiatan secara online yang dilakukan di dalam ponsel. Hal ini membuat tingkat sosialisasi dan kebersamaan anak-anak menjadi menurun. Padahal, ada banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh jika kita terus melestarikan permainan-permainan tradisional yang ada di Indonesia.

Permainan tradisional dahulu tidak kalah serunya dengan permainan online dalam gadget. Siapa yang dahulunya juga bermain permainan ini? Apakah kalian rindu bermain lompat karet ini?

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment