Hits: 46

Lolita Siregar

Pijar, Medan. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) mengadakan panggung budaya dengan nama kegiatan Seni dan Demokrasi HMI. Panggung budaya ini merupakan program kerja dari bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI FIB USU yang terlaksana di pelataran Gedung Pancasila, Jumat (17/3/23).

Kegiatan yang mengusung tema “Mengasah Kreativitas Mahasiswa dan Menumbuhkan Nilai-Nilai Demokrasi di Lingkungan Kampus” ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengekspresikan idealis yang dimiliki lewat karya dan seni. Panggung budaya ini juga menampilkan pertunjukan dari mahasiswa yang ingin menampilkan bakat dan kemampuannya.

HMI FIB USU Adakan Seni dan Demokrasi sebagai Ruang Ekspresi Mahasiswa - www.mediapijar.com
HMI FIB USU adakan panggung budaya sebagai bentuk ekspresi pada Jumat (17/3/23).
(Fotografer: Naomi Adisty)

“Nah, dibuatlah panggung ini supaya mahasiswa yang memang ingin menyuarakan seperti ingin baca puisi dan ingin orasi dipersilakan. HMI FIB USU memberikan panggung, gitu dan terbuka untuk umum,” jelas Rawahul Amin Pulungan selaku Ketua HMI FIB USU.

Seni dan Demokrasi HMI ini ingin mengajak para mahasiswa untuk dapat lebih mengasah kemampuan berpikirnya serta terus membangun pikiran yang kritis. “Karena banyak mahasiswa, saya pikir, yang enggak idealis lagi, nih. Dia paham tentang pergerakan-pergerakan kampus, tetapi lebih cendrung itu ‘dijual’ di kepalanya. Dan orang-orang di atas juga, ya sudah, amankan dari sini lah, gitu. Gak bebas lagi berekspresi sebenarnya mahasiswa ini,” ujar Rawahul.

Adhe Junaedy, salah satu anggota HMI FIB yang turut hadir dalam panggung budaya ini, mengatakan bahwa terdapat panggilan hati dan dorongan terhadap keresahan yang ia miliki dengan melihat kondisi-kondisi mahasiswa yang sekarang. Ia melihat mahasiswa sekarang perlu diberikan ruang dalam menampilkan aspirasinya lewat karya atau seni yang akan dibawakan.

Ia juga berharap agar mahasiswa terus dapat memperbarui isu-isu terkini dan nasional agar tidak menjadi mahasiswa yang pragmatis dan apatis. Menurutnya, mahasiswa harus berani menyuarakan apa yang ada di benaknya karena hal tersebut juga menjadi bagian dari mahasiswa.

“Mahasiswa sekarang kebanyakan diam, takut untuk menyuarakan apa yang ada di isi kepalanya, gitu. Padahal itu salah satu tugas mahasiswa sendiri. Dan salah satu bentuk pengekspresian kitalah terhadap mahasiswa. Kita kan juga sebagai mahasiswa enggak hanya akademis aja tapi kita juga membela hak-hak rakyat,” ucap Adhe.

Kegiatan yang akan dilaksanakan rutin setiap minggu ini juga memaparkan enam spanduk yang berisikan kegelisahan yang ada pada mahasiswa. Kegelisahan tersebut, antara lain “Organisasi Bukan untuk Dikomersialisasi”, “UKT Melejit Orang Tua Sulit”, “Meskipun Tubuhmu Kecil Bukan Halangan Bernyali Besar”, “Diam Adalah Pengkhianatan”, “Reformasi Dikorupsi”, dan “Stop Kekerasan Seksual di Kampus”.

(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

Leave a comment