Hits: 4

Rani Sakraloi

“Selamat datang, sayang,” kata ibu dengan lembut kepada seorang bayi perempuan di rangkulan tangannya. Bayi itu tertidur dengan pulas dan Lala sangat senang memerhatikannya. Wajah bulat dan tangan kecilnya yang menggemaskan, membuat Lala selalu ingin menggendongnya.

Setiap kali Lala meminta untuk menggendong adik kecilnya, ibu mengajaknya untuk mendekat dan menaruhnya dengan perlahan di pangkuan Lala. Ibu memastikan agar keduanya merasa nyaman di atas kursi roda yang selalu menjadi dudukan Lala.

“Silvi sangat lucu, Bu. Aku jadi selalu ingin berada di dekatnya,” ucap Lala kepada ibunya.

“Tentu saja. Tugas kakak ‘kan memang harus menjaga adiknya. Jadi, kalian berdua akan selalu bersama apapun kondisinya,” jawab ibu.

“Benar. Aku akan selalu menjaganya, Bu. Tapi, apakah aku tetap bisa menolongnya ketika aku saja tidak bisa berjalan?”

“Kamu selalu punya cara untuk menyelesaikan suatu masalah, Lala sayang. Kamu harus lebih percaya diri. Karena dalam dirimu selalu tersimpan bunga yang menunggu untuk mekar. Hari ini belum saatnya, mungkin saja besok atau lusa.”

Mendengar hal tersebut, senyum Lala semakin merona. Hari demi hari Lala dan Silvi habiskan untuk bermain dan belajar bersama. Waktu yang singkat bagi keduanya hingga tak terasa 15 tahun telah berlalu. Lala dan Silvi semakin dewasa. Keduanya bertumbuh menjadi yang paling berprestasi diantara semua temannya.

Lala memasuki tahun keduanya di dunia perkuliahan. Ia yang hobi melukis, menghabiskan waktunya untuk menaruh setiap imajinasinya kepada kanvas maupun layar di depannya. Ia berdedikasi penuh untuk membanggakan keluarganya dan tidak pernah mau untuk bergantung kepada orang lain.

Ya, kakinya memang lumpuh sedari ia kecil. Namun, hal itu tak membatasi bakatnya. Impiannya tak pernah terlalu tinggi untuk digapai. Dan percaya dirinya tak pernah pudar berapa kalipun orang-orang mengolok atau merendahkannya.

Ia pun membantu keluarganya dengan menjual beberapa karya seninya di internet untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari. Sebagian lagi, ia sisihkan untuk membayar keperluan sekolah adiknya yang saat ini mulai memasuki jenjang SMA.

Di lain sisi, Silvi menjadi remaja yang cantik dan penuh semangat. Tiada hari tanpa badminton. Ia selalu menyukai olahraga yang satu ini. Bahkan, ia terus bergabung ke tim badminton sekolah dan menang di setiap pertandingan. Prestasi yang membanggakan bagi dirinya dan keluarganya. Dalam hal ini, Lala hampir tak pernah melewatkan pertandingan adik berharganya itu. Ia selalu berada di tribun dengan maksud mendukung dan bersorak untuknya.

Minggu ini, Silvi akan mengikuti pertandingan dan Lala berencana akan datang. Silvi mengetahui bahwa kakaknya akan datang ke tempat pertandingan seperti biasanya. Namun, ia merasa malu jika teman-teman SMA-nya melihat kakaknya.

“Kak, kali ini tidak usah datang, ya,” kata Silvi kepada kakaknya.

“Loh, kenapa begitu? Aku bisa kok, meluangkan waktu sebentar,” Lala terkejut dengan pernyataan adiknya itu.

“Pokoknya ga usah, kak. Kakak urus saja urusan kakak sendiri. Kerjain tugas atau apa kek. Ga usah datang. Apapun hasilnya tetap aku kasih tahu, kok.”

Lala merasa aneh dengan apa yang disampaikan oleh Silvi kepadanya. Tidak biasanya Silvi bersikap seperti itu. Biasanya, Silvi akan senang melihat keluarganya menghadiri pertandingannya. Ya, seluruh anggota keluarga. Tak terkecuali Lala. Silvi bahkan akan bertambah semangat ketika Lala datang. Namun, kali ini berbeda. Lala merasa ada yang lain dari Silvi, tapi hal ini hanya ia pendam untuk dirinya sendiri.

Hari pertandingan pun tiba. Silvi mengepak segala barangnya dan bergegas pergi tanpa memberitahu Lala. Lala keluar dari kamarnya dan segera menuju dapur. Ia berharap dapat bertemu Silvi dan mengucapkan salam keberuntungan kepadanya sebelum ia berangkat. Nihil. Ia tidak menemukan siapapun di sana. Yang ia temukan hanya sekotak bekal hangat di atas meja.

Kotak bekal itu harusnya untuk Silvi. Ibu selalu menyiapkan bekal makanan untuk Silvi setiap sebelum berangkat sekolah. Tergerak oleh perasaan, Lala pun mengemas bekal tersebut ke dalam tas bekal. Kemudian, Lala segera menelepon ibu untuk menjemput bekal Silvi yang tertinggal.

Di tempat pertandingan, Silvi bertanding di putaran terakhir. Ia percaya bahwa ia akan mengakhiri pertandingan dengan sangat cepat. Ia merasa bahwa tidak akan ada halangan yang bisa menggagalkannya kali ini. Dengan cekatan dan tepat sasaran, ia terus berhasil menangkis setiap serangan lawannya.

Tak lama kemudian, ia melihat bahwa kakaknya sudah duduk bersama ibu di tribun. Silvi yang masih bermain pun merasa terkejut dan panik. Ia menjadi tidak fokus. Silvi yang awalnya memiliki poin unggul, kemudian mulai terkejar oleh ketertinggalan lawannya. Semakin lama, Silvi terbawa emosi dan gagal menangkis serangan lawan berkali-kali hingga akhirnya pertandingan berakhir.

Kali ini, Silvi gagal. Ia kalah dalam putaran akhir. Padahal, ia sudah sangat yakin. Ia merasa kecewa akan dirinya sendiri dan marah kepada kakaknya.

“Sial,” serunya dalam hatinya.

Setelah pulang ke rumah, Silvi segera menuju ke arah kakaknya dengan penuh dendam. Ia menyimpan banyak sekali keluhan untuk disampaikan kepadanya.

“Kakak! Aku sudah bilang untuk tidak datang. Kenapa kakak malah datang? Sedikit lagi, aku sudah hampir menang.”

“Awalnya aku hanya ingin ibu membawakan bekalmu ke tempat pertandingan. Tetapi, ibu juga ingin aku datang mendukungmu. Ya… Aku juga sangat ingin datang sehingga aku ikut bersama ibu untuk mendukungmu,” jawab Lala dengan tenang.

“Harusnya ga usah! Aku kalah, kak. Apa yang bisa dibanggakan dari itu?”

“Kamu hanya kalah hari ini. Bukan berarti itu membuatmu tak berguna selamanya. Ingat! Kamu punya bunga dalam dirimu yang belum mekar. Mungkin tidak hari ini, tetapi bisa saja besok atau lusa.”

“Kakak terlalu banyak baca buku. Ga penting! Tau ga? Aku kalah karena kakak. Aku malu, kak. Semuanya ngeliatin dan ngomongin kakak di belakang. Yang kena siapa? Aku!”

Lala terkejut mendengar setiap perkataan adiknya. Ia tidak pernah bermaksud untuk membuatnya malu. Ia merasa sangat bersalah karena telah menganggu kehidupan adiknya yang sempurna tanpa dirinya. Tidak lama, Silvi pergi meninggalkan suasana menegangkan itu.

Semenjak hari itu, keduanya jarang bertegur sapa. Silvi tak pernah membalas senyum kakaknya seolah Lala sudah tak dianggapnya ada lagi. Setiap kali Lala mencoba mengajaknya mengobrol atau bermain bersama, Silvi pergi dan menghindarinya. Hal ini membuat Lala menjadi sangat jenuh dan sedih.

Akhirnya, untuk berdamai dengan semua masalah, Silvi pun menghabiskan lebih banyak waktunya di kampus. Sambil mencari pencerahan dan solusi, ia selalu menyempatkan diri untuk mendesain dan menulis agar bisa membelikan adiknya sepasang sepatu badminton di hari ulang tahunnya.

Ia pikir hal ini bisa meluluhkan hati adiknya sedikit saja dan kemudian memaafkannya. Lala sangat berharap bahwa hadiah tersebut bisa memperbaiki hubungan mereka dan akhirnya hubungan mereka kembali baik seperti semula.

Dua minggu kemudian, kue dan dekorasi ulang tahun tertata rapi di rumah. Semua teman Silvi hadir dan ia tidak khawatir untuk pestanya ini karena kakaknya yang sepanjang hari tidak akan terlihat selama pesta berlangsung. Namun, sebelum pesta akan dimulai, ayah mengangkat telepon dari Ibu yang mengabarkan bahwa Lala kecelakaan dan sedang kritis di rumah sakit.

Sontak, Silvi langsung terkejut mendengar kabar tersebut. Ayah dan Silvi segera pergi meninggalkan rumah dan memulangkan teman-teman Silvi yang sudah lama berkumpul di pestanya tersebut.

“Ayah, apakah kakak akan baik-baik saja? Aku takut dia kenapa-kenapa,” kata Silvi dengan wajah penuh kecemasan.

Ayah pun menjawab pertanyaan Silvi dengan tetap fokus menyetir, “Kita hanya bisa berdoa agar Lala baik-baik saja. Ayah yakin kakak akan bertahan.”

Mereka pun tiba di rumah sakit. Silvi segera turun dari mobil. Dengan masih mengenakan gaun pestanya, ia berlari menuju ruangan yang telah diarahkan petugas rumah sakit. Sungguh pedih hati Silvi. Belum lama ia baru sampai ke ruang perawatan kakaknya, Lala sudah tidak bernyawa.

Selimut putih menutupi sekujur tubuh Lala yang membeku dari ujung kaki hingga ke seluruh wajahnya. Pada saat itu juga, Silvi sudah tidak mampu menahan air matanya. Ia mendekati kakaknya tersebut dengan hati yang sangat berat dan dipenuhi penyesalan. Tubuhnya gemetaran meraih tangan kakaknya yang sudah kaku sambil menangis tidak karuan.

“Kakak! Kakak!”

Tidak ada jawaban. Hanya ada keheningan di balik suara tangisan keluarganya. Seketika itu juga ibunya menyerahkan sebuah bingkisan kepadanya. Silvi membuka bingkisan tersebut dan menemukan sepasang sepatu dengan catatan kecil di dalamnya yang bertuliskan:

“Selamat ulang tahun, adikku tersayang. Sampai kapanpun kita berjauhan, kita akan tetap bersama. Aku akan tetap menjaga dan mendukungmu. Aku selalu merasa bahagia karena kamu adalah adikku. Maaf kalau selama ini aku telah menyusahkanmu. Kuharap sepatunya berguna. Semoga kamu juga selalu bahagia, Silvi. Salam termanis dari kakak.”

Silvi merasa sangat sedih. Hatinya sangat sakit membaca kata demi kata dari yang dituliskan kakaknya untuknya. Selama ini, kakaknya pasti terluka akan apa yang dilakukannya pada kakak tersayangnya itu. “Seharusnya itu aku, kak. Aku yang minta maaf. Kakak tak pernah salah, aku saja yang selalu kalah dalam menghadapi gengsi sendiri.”

Leave a comment