Hidayat Sikumbang

Pijar, Medan. Ragam cerita indah hadir dari gelanggang lapangan hijau dalam satu dekade terakhir. Salah satu yang teringat jelas tentu saja, tatkala Leicester City untuk pertama kalinya berhasil menjadi juara Liga Premier Inggris Musim 2015-2016. Klub yang bahkan pada saat itu hanya dianggap sebelah mata oleh sebagian pundit, sebutan untuk penganalis sepakbola.

Torehan juara Leicester City ibarat mimpi di siang bolong. Sebelumnya, Riyad Mahrez dan koleganya bermain di Liga Premier setelah promosi sebagai juara Football League Championship pada 2013-2014. Mereka kembali ke kasta teratas Liga Premier Inggris setelah terakhir turut andil di 2004 silam. Terseok-seok ketika memasuki musim 2014-2015 dan hanya mampu selesai di peringkat ke-14, tangan dingin Claudio Ranieri akhirnya mampu membuat klub ini bermental juara.

Leicester, bukanlah tim sepakbola dengan taburan bintang. Nama Riyad Mahrez, Jamie Vardy, Shinji Okazaki, dan N’golo Kante masih kalah glamor dengan Aguero dari Manchester City ataupun Eden Hazard di Chelsea. Namun, cerita dongeng tersebut pada akhirnya berubah menjadi kenyataan. Seluruh dunia pun turut bersuka cita mendengar klub berseragam biru-biru ini menjadi juara. Banyak yang terpana melihat performa dari klub dengan julukan The Foxes ini. Ungkapan suka cita pun berdatangan.

Salah satunya dari Garry Lineker, mantan pesepakbola Inggris yang pernah merumput di Leicester. “Bahkan kalau ada yang mengajak bertaruh sejak awal musim, saya enggan melakukannya. Anda bisa saja menawari saya 10 juta banding satu, dan tentu saya akan bilang, ‘Tidak, saya tidak akan mau. Itu hanya buang-buang recehan saja’,” ceplos Lineker. Garry Lineker memiliki masa lalu yang menyenangkan dengan klub ini. Ia pernah merumput secara profesional pada periode 1978-1985 di Leicester.

Kisah Leicester dan dongeng di siang bolong yang menjadi kenyataan membuktikan, bahwa tingkat dominasi tim-tim kaya yang populer bisa dipatahkan dalam sekejap mata. Belum lagi cerita ini menjadi semakin sempurna ketika penyerang mereka, Jamie Vardy memecahkan rekor Van Nistelrooy pada musim 2015-2016 dengan membukukan gol dalam 11 laga secara berturut-turut ketika itu.

Leicester City dalam catatan grafik penggemar masih kalah jauh. Di Inggris, berdasarkan data yang dirangkum oleh Analis Krist Wongsuphasawat, Liverpool mendominasi jumlah penggemar di Inggris. 20 klub EPL musim ini, tim raksasa seperti Manchester United, Liverpool, Arsenal dan Chelsea tampak mendominasi di seluruh dunia. Swedia, Prancis, Jerman, Polandia, Belarusia, Ukraina, dan Belanda mengagumi The Gunners, sedangkan Chelsea sangat populer di Spanyol, Portugal, Italia, Turki, Kroasia, dan Bulgaria. Kedua klub ini saling bersaing di ‘daratan Amerika’ dengan Arsenal mendominasi benua Amerika Utara sementara Chelsea tampak unggul di benua Amerika Selatan.

Sedangkan untuk Afrika banyak menyukai Arsenal, Manchester United dan Chelsea. Kemudian, Manchester United menjadi klub yang paling digemari di Asia, dengan India tampak menjadi penyumbang fans terbanyak. Sementara di Indonesia sendiri juga didominasi oleh fans Setan Merah.

Penggemar sepakbola di Indonesia adalah salah satu yang menakjubkan. Hal itu diungkapkan langsung oleh John Dykes, komentator kondang Liga Inggris. Baginya, penggemar sepakbola di Indonesia begitu spesial karena mampu menggandrungi liga domestik dan liga inggris dengan kapasitas yang sama besar.

“Saya telah berada di Asia Tenggara, dan melihat fans di Indonesia berbeda. Indonesia punya sejarah panjang terhadap sepakbola. Dan dari sepanjang sejarah itu tumbuh tradisi dalam diri pendukung sepakbola. Hal itu sudah ada dalam hati mereka,” ungkapnya seperti yang dikutip dari laman Indosport.

(Editor: Muhammad Farhan)

Leave a comment