Arsy Shakila Dewi

Pijar, Medan. Banyak yang berpikir bahwa minimalisme adalah sebuah gaya hidup yang hanya memiliki sedikit barang. Padahal minimalisme merupakan konsep yang layak diterapkan di semua hal dalam kehidupan. Membahas fenomena tersebut, apalagi menjelang lebaran seperti sekarang, muncul pertanyaan, perlukah kita membeli baju lebaran yang baru? Untuk itu Tempo Institute menggelar webinar dalam seri Ramadhan Fest berjudul “Minimalism dan Fast Fashion” melalui platform Zoom meeting dan Live YouTube pada Kamis (6/5) pukul 16.00-17.00 Wib.

Webinar ini menghadirkan Dian Purnomo selaku penulis dan aktivis lingkungan, serta Qaris Tajudin selaku direktur Tempo Institute. Acara yang berkonsep sharing session ini membahas tentang apakah kita perlu membeli baju lebaran yang baru untuk hari raya dengan mempertimbangkan konsep minimalisme dan juga bahaya dari fast fashion itu sendiri.

Dian purnomo mengatakan bahwa dirinya sudah tidak pernah membeli baju lebaran sejak tahun 2013. Ia kerap menggunakan baju yang sama setiap tahunnya dan berpikir bahwasanya apakah membeli baju lebaran yang baru adalah sebuah hal penting. Ia pun menambahkan pendapatnya, bahwa boleh membeli baju lebaran yang baru apabila baju tahun lalu sudah tidak bisa digunakan lagi.

“Saya sendiri sudah gak beli baju (lebaran) baru, terakhir beli 2013. Terus 2014 sampai ke sini itu bajunya, baju yang sama terus setiap lebaran. Bagusnya di keluarga besar kami gak ada tradisi baju kembar, seragam gitu terus foto keluarga. Tahun depannya ganti lagi bajunya, ganti lagi padahal itu hanya dipakai sekali ya udah pas lebaran itu aja. Jadi mikir gitu emang seperlu itu ya lebaran pakai baju baru, kayaknya engga deh kecuali anak-anak kali ya pengecualian karena kan badannya terus tumbuh-tumbuh mungkin baju tahun lalu tidak bisa dipakai lagi ya gapapa beli baju baru menurutku,” jelas Dian.

Sharing session dengan Dian Purnomo dalam webinar seri Ramadhan Fest yang bertemakan minimalisme dan fast fashion pada Kamis (6/5) melalui platform Zoom. (Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

Ada alasan yang melatarbelakangi Dian tidak membeli baju baru saat lebaran, yaitu efek dari fast fashion sendiri. Dilansir dari zerowaste.id, fast fashion adalah istilah yang digunakan oleh industri tekstil yang memiliki berbagai model fashion yang silih berganti dalam waktu yang sangat singkat, serta menggunakan bahan baku yang berkualitas buruk, sehingga tidak tahan lama.

Misalnya ketika musim panas, industri fast fashion akan memproduksi pakaian musim panas. Dan dalam waktu yang singkat, mereka akan memproduksi pakaian untuk musim dingin ketika musim dingin datang. Bahkan saat ini, kebanyakan industri fast fashion memproduksi hingga 42 model fashion dalam waktu 1 tahun.

Industri fast fashion seringkali tidak memperhatikan dampak buruk terhadap lingkungan dan mengorbankan keselamatan para pekerjanya. Salah satu contoh kasus yang terjadi di Indonesia, yaitu Sukoharjo. Di Sukoharjo, pabrik tekstil mencemari polusi lingkungan baik itu air dan udara, masyarakat tinggal dalam radius 5 km dari pabrik pembuat rayon harus merasakan bau tinja setiap harinya.

Adanya gerakan-gerakan seperti tukar baju, menggunakan baju lebaran yang lama, membeli baju preloved adalah sebuah konsep minimalisme yang tujuan jangka panjangnya untuk menyelamatkan bumi dan lingkungan.

Dari sisi agama, Qaris menjelaskan memakai baju baru tidak ada dalam agama. Sebenarnya yang disarankan oleh agama adalah memakai baju terbaik, namun hal ini sering disalahartikan oleh kita. Kita menganggap bahwa baju yang terbaik adalah baju di toko. Padahal baju terbaik yang dimaksud adalah yang kita miliki. Pada akhirnya, kita memiliki kebiasaan membeli baju baru saat lebaran.

“Jadi ada beberapa hal yang perlu kita kritisi dari cara beragama kita, kita menyampuradukkan antara agama dan kebiasaan kita. Memakai baju baru itu jelas gak ada dalam agama. Itu hanyalah kebiasaan kita. Sebetulnya kan yang disarankan oleh agama adalah memakai baju terbaik kalau memang bajunya hitam semua, yaudah gakpapa pakai baju hitam yang kita miliki. Kita selama ini menganggap yang terbaik adalah yang terbaik di toko,” tegas Qaris.

Di akhir acara, Dian pun menambahkan tips untuk mengatasi pandangan orang yang ribet mengenai baju lebaran yang itu-itu saja, yaitu dengan memberikan edukasi kepada mereka dan dapat dimulai dari lingkaran terdekat terlebih dahulu.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment