Star Munthe

Pijar, Medan. Rumata menggelar kegiatan nonton dan diskusi film bertajuk “Reformasi: Pemutaran film dan Diskusi” melalui aplikasi Zoom Meeting (29/5).  Film yang diputarkan adalah film pendek Laut Bercerita yang di adaptasi dari novel bergenre politik dan sejarah. Laut Bercerita ini merupakan karya Leila S. Chudori.

“Reformasi” yang merupakan rangkaian kegiatan pra-event Makasar International Writers Festival 2021 dan mengundang empat perempuan sebagai narasumber diskusi. Leila S. Chudori (Penulis buku Laut Bercerita), Gita Fara (Produser film pendek Laut Bercerita), Pritagita Arianegara Sutradara), dan Prof. Dr. Melani Budianta (Guru Besar FIB UI).

Film pendek Laut Bercerita coba menceritakan isi buku yang telah menjadi ringkasan cerita yang seharusnya tak boleh dilupakan. Potongan-potongan sejarah yang disajikan dalam karya fiksi ini sejatinya merupakan hasil imajinasi Leila S. Chudori yang dalam tahun-tahunnya menjadi wartawan di Tempo.

Melalui potongan wawancara, potongan hasil liputan, dan sumber-sumber lainnya menjadikan karya Leila S. Chudori tak bisa jauh dari suara-suara penegakan HAM. Melalui Laut Bercerita, Leila berusaha menceritakan bahwa ada sejarah kelam yang begitu menakutkan dan tidak berhak dilupakan karena harapan jangan sampai terulang.

“Saya sebenarnya pada awalnya berfokus pada bidang feminisme dan keluarga ketika di Tempo pada waktu itu. Namun, karena saya terlibat dalam berbagai edisi khusus Tempo yang membahas tentang HAM, seperti Whiji Thukul dan lain-lain, saya akhirnya tak bisa lepas juga dari HAM,” ujar Leila S. Chudori saat menceritakan latar belakangnya menuliskan Laut Bercerita melalui diskusi “Reformasi.”

Leila S. Chudori menceritakan bagaimana proses yang ia lalui dalam menuliskan Laut Bercerita.
Sumber Foto: Rumata Artspace

Film yang disutradarai oleh Pritagita ini sejatinya digunakan sebagai medium promosi ketika launching buku Laut Bercerita. “Saat menulis Laut Bercerita, satu persatu draft bab buku ini saya kirimkan ke para wartawan untuk dikritik. Kemudian ada yang memberikan saran bahwa buku ini ketika launching menggunakan film saja sebagai sarananya, tidak usah theatrical reading lagi,” ucap Leila dalam menceritakan fungsi Film Pendek Laut Bercerita.

Niat tersebut yang akhirnya melibatkan nama-nama seperti Dian Sastro, Reza Rahardian, Pritagita, dan Cita Fara sebagai sosok yang berpengaruh dalam film pendek Laut Bercerita. Film ini bisa dikatakan berhasil. Alih-alih membuat penonton mengantuk karena membahas sejarah lagi, film ini ternyata mencuri sedikit ruang dalam hati penonton yang harus meneteskan air mata atas kisah sejarah penghilangan paksa pada dekade 1998.

Biru Laut yang hidup dalam keberanian akhirnya tinggal di dalam dasar laut bersama semua harapan. Film pendek ini memang tak menceritakan seluruh bagian dari buku Laut Bercerita, tapi ia mampu mengangkat kisah Biru Laut menjadi sebuah pengingat tentang salah satu rekaman sejarah bangsa ini.

Aktivitas-aktivitas yang dulu lekat dalam kehidupan akademisi, seperti diskusi dan membaca buku adalah sebuah alarm berbahaya bagi penguasa. Di mana mahasiswa dilarang kritis, karena barangkali yang kritis akan berakhir seperti Biru Laut. “Dulu membaca buku itu menjadi suatu hal yang menakutkan, bahkan sempat ada yang bertanya kepada saya, ‘Orde Baru memang semenyeramkan itu ya bu?’ saya jawab iya. Dulu kalau membaca buku yang dilarang oleh pemerintah akan diancam. Tapi sekarang, saya harus mengancam mahasiswa saya supaya mau baca buku,” guyon Prof. Dr. Melani Budianta.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment