Yulia Kezia Maharani

Pijar, Medan. Dunia bisnis menuntut kita untuk cermat agar dapat memanfaatkan peluang serta mengembangkannya lewat pengoptimalan target pasar milenial. Di Indonesia sendiri, generasi milenial merupakan salah satu demografi yang berpotensi menguntungkan bagi para pebisnis dengan jumlah populasi 25,87%. Apalagi kemajuan teknologi digital saat ini juga akan memengaruhi perilaku konsumen untuk membeli.

Dalam memahami target pasar melalui perilaku dan strategi jitu agar memenangkan pasar milenial, dvlop Indonesia menyelenggarakan webinar nasional dengan tema “How to Win Millenial Market (Millenial Consumption Behaviors as a Market Potential in Bussines)” bersama Riko Vani Umaiyah (GM Coca-Cola Amatil Indonesia) sebagai pemateri satu dan Laurencelo Sidamukti (PT Buka Data Indonesia) sebagai pemateri dua. Webinar ini berlangsung pada Kamis (8/4) pukul 18.00-19.30 WIB melalui Zoom meeting.  

Ketika kita berusaha memenangkan milenial marketing, kita juga harus melihat dan mengobservasi pasar apa yang akan kita masuki. “Social media is king. Semua hal selalu terkait dengan sosial media,” jelas Riko.

Melalui sosial media, kita dapat mengetahui perilaku (behaviors) kaum milenial dewasa ini. Beberapa cirinya, antara lain: merupakan digital natives, attach to social media, convenient and speed, revolution in buying habits, mudah terpengaruh oleh influencer culture, wellness and health lifestyle, experiental and exploratory learners, dan diversity.

Dengan mengetahui behaviors para milenial, kita dapat melihat trend serta market apa saja yang memiliki potensi untuk dijadikan sebuah bisnis. Setelah menentukannya, diperlukan pula penggunaan komunikasi pemasaran apa yang paling sesuai dengan market tersebut, seperti social media communication (Instagram, Facebook, dan YouTube) untuk memastikan sebuah produk dapat tersampaikan dan diterima oleh masyarakat. Kedua, diperlukannya influencer and peer recommendation agar sebuah bisnis dapat berkembang dan dikenal secara luas oleh masyarakat. Terakhir social and culture, di mana komunikasi pemasaran harus mengikuti perubahan sosial maupun budaya.

Laurencelo juga menjelaskan bahwa zaman sekarang ini sudah masuk ke dalam first and second wave digital era, yang mana connectivity dan juga hyper-connectivity sangat digarisbawahi. Kemudian, setelah kita mengetahui pasar milenial itu seperti apa, kita dapat memulai bisnis kita dengan berpusat pada sweet pot. Di mana sweet pot ini terkandung esensi Ikigai yang terdiri dari passion, mission, profession, serta vocation.

“Untuk memulai bisnis kita harus berani berinovasi. Dari inovasi tersebut juga, kita jangan terburu-buru untuk memikirkan profit, tetapi kita juga harus memikirkan brand engagement serta value produk kita supaya memiliki ciri khas, berani berbeda, dan juga meaningful,”  pungkas Lauren.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment