Hits: 19

Miftahul Janah

Pijar, Medan. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi topik utama yang diperbincangkan pada webinar kali ini sebab minyak jelantah memiliki peluang akan bisnis energi yang menjanjikan. Karena tidak selamanya barang bekas akan menjadi limbah. Jika diolah dengan tepat, minyak jelantah juga dapat memiliki manfaat salah satunya yaitu pengolahan alternatif minyak goreng bekas yang diolah menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau biasa disebut biodisel.

Waste4 Change berkolaborasi bersama Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (KESDM RI) dan Pemerintah Kota Bekasi menyelenggarakan webinar series dengan topik “Mengenal Potensi dan Dampak Minyak Jelantah”, Selasa (16/3).

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai biodisel dapat menjadi opsi terbaik dalam penanggulangan limbah dan tentunya juga dapat meningkatkan sirkulasi eknomi dalam pemanfaatan sumber daya alam. 

Effendi sebagai perwakilan KESDM mengatakan bahwa pengolahan  minyak sawit menjadi BBN/Biodiesel, merupakan salah satu bagian dari hilirisasi sektor kelapa sawit. Hal ini juga dapat mendorong industri peningkatan methanol dan katalis. 

Saat ini, target bauran EBT pada Bauran Energi Primer memperlihatkan capaian yang signifikan. Pada semester I 2020 sebesar 10,90%, di mana 34% nya adalah kontribusi Biodisel (B-30). Program B-30 merupakan salah satu upaya dari sektor energi dalam mencapai target pengurangan emisi GRK, yang artinya penggunanan Biodisel sebesar 30% dan solar 70%.

“Diharapkan implemntasi B-30 kedepannya dapat berjalan sesuai target, kemudian dapat melakukan money secara ketat, memfasilitasi debottleenecking di lapangan, dan meningkatkan infrasturktur,” ucap Effendi.

Salah satu program biodisel yang tengah dikembangkan ialah program pengembangan di Kalimantan. Di mana kelompok Swadaya Masyarakat di Tarakan Timur berhasil memproduksi biodisel berbasis minyak jelantah dengan rata-rata produksi 180 liter per hari dan dijual dengan harga Rp11.000/liter. Dari produksi ini mendapatkan keuntungan 2 juta/hari. Oleh karena itu, minyak jelantah tak bisa dianggap sepele. Karena ternyata dapat menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. 

Di negara lain, minyak jelantah untuk biodisel bukanlah hal yang baru, sudah banyak juga yang menggunakan minyak jelantah sebagai biodisel. Contohnya di negara Finlandia, Inggris, Belanda dan negara lainnya. Kini, Indonesia sudah memulai penggunaan minyak jelantah menjadi biodisel. 

Negara-negara yang sudah mulai menggunakan minyak jelantah sebagai biodisel. (Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Untuk itu dengan terselenggarakannya webinar ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk membantu pemerintah daerah dalam mengumpulkan minyak jelantah agar didapatkan dalam skala besar, karena jika pengolahannya dalam skala besar biaya produksi pun lebih hemat. Agar minyak jelantah tidak menjadi limbah yang sia-sia apalagi menyebabkan pencemaran.

Terakhir Effendi mengatakan bahwa minyak jelantah ini memiliki masalah tersendiri dalam penggunaan berulang kali yang dapat membahayakan kesehatan dan pembuangan sembarangan yang dapat mencemari tanah maupun air. Oleh karena itu, untuk masalah ini kita semua harus sadar akan hal tersebut. Karena pemahaman ini adalah tugas kita bersama, dan bersama-sama mengumpulkan minyak jelantah. Sehingga tidak dibuang percuma ataupun dikonsumsi kembali. Biodisel ini pula dapat menjadi peluang usaha sendiri bagi masyarakat. Jadi, mulai sekarang jangan sia-siakan lagi minyak jelantah di rumahmu.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

 

Leave a comment