Sumbar Connect Adakan Webinar Spesial Hari Film Nasional 2021

Sumber Foto: Youtube Sumbar Connect

Annisa Van Rizky

Pijar, Medan. Peringatan Hari Film Nasional yang ditetapkan setiap tanggal 30 Maret, tidak terlepas dari perjuangan Usmar Ismail yang telah melahirkan karya-karya membanggakan di masa lalu. Adanya peringatan Hari Film Nasional ini juga menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk dapat mengapresiasi karya-karya anak bangsa.

Menuju Peringatan Hari Film Nasional 2021 dan 100 Tahun Usmar Ismail, Sumbar Connect sebagai media berjejaring dan literasi untuk netizen muda minang, menghadirkan webinar spesial Hari Film Nasional, yang berjudul “Layar Takambang, Membingkai Identitas Minangkabau dalam Film” yang diselenggarakan pada Minggu (28/3) melalui platform Zoom meeting dan disiarkan langsung melalui YouTube Sumbar Connect.

Webinar ini menghadirkan dua narasumber yaitu, Emil Bias (Produser Film Nasional) dan Arief Malinmudo (Sutradara Film Nasional). Emil dan Arief sebelumnya telah bekerjasama dalam memproduksi film “Surau dan Silek” (2017), sebuah film lokal Minangkabau yang telah dipublikasikan secara internasional, serta film “Liam dan Laila” (2018) yang mengangkat budaya dan adat istiadat Minangkabau di dalamnya.

Di hari pertama pengambilan gambar Film “Darah dan Doa” karya Usmar Ismail tersebut, ditetapkan sebagai Hari Film Nasional dan Usmar Ismail kemudian dianggap menjadi Bapak Perfilman Nasional.

Sutradara Arief mengungkapkan bahwa kita perlu belajar dari sosok Usmar Ismail, “Sebagaimana sebuah negara yang baru merdeka butuh disuarakan identitas kebangsaannya. Usmar Ismail yang pada saat itu bukanlah orang pertama yang bisa membuat film, hal tersebut perlu digarisbawahi. Kemudian film “Darah dan Doa yang dijadikan film nasional tanggal 30 Maret itu menandai adanya sebuah kebanggaan dari sebuah bangsa. Punya perusahaan film sendiri, kemudian membuat film dengan sumber daya manusia dari negara itu sendiri, tujuannya adalah menyuarakan identitas kebangsaan sebuah negara yang baru merdeka.”

Arief kemudian melanjutkan, bahwa dari film “Darah dan Doa” membakar semangat nasionalisme yang tadinya masih setengah-setengah terintegrasi, akhirnya kita merasa menjadi satu kesatuan. Hal tersebut dianggap berhasil pada tahun 1950 dalam film “Darah dan Doa”, serta pada tahun 1953 ketika Usmar Ismail membuat film daerah “Harimau Tjampa”. Kemudian menjadi timbul satu pertanyaan, “Apakah Usmar Ismail membuat film daerah di saat beliau dianggap sebagai bapak film nasional?”

Menjawab pertanyaan tersebut, Arief berpendapat bahwa Usmar ismail menjadikan budaya dan cerita dari Minangkabau itu sebagai salah satu alat mengkomunikasikan identitas kebudayaan Indonesia. “Tawaran baru di Film Harimau Tjampa adalah ketika Usmar Ismail dan penulis skenarionya, Muhammad Alwi Dahlan, memasukkan unsur transisi atau pembabakan dalam randai ke dalam film itu. Ketika ditonton di belahan dunia lain menjadi tawaran baru secara estetika film. Tidak menggunakan bahasa kelahirannya, Usmar Ismail memilih bahasa Indonesia untuk menghimpun keindonesiaan daerah-daerah lain yang menonton film tersebut, karena pada saat itu memang film adalah satu pilar kebangsaan.”

Saat ini, kondisi industri perfilman di Indonesia sedang sangat memprihatinkan dan pihak-pihak penayangan sedang berduka karena adanya pandemi Covid-19. Beberapa pelaku industri juga harus memilih jalur lain, yaitu streaming platform. Dalam hal ini, Produser Emil mengungkapkan harapan ke depannya, “Harapannya adalah kondisi segera membaik secepatnya, pandemi Covid-19 adalah problem yang bukan hanya buat kita, tetapi semua orang di  dunia.”

Emil kemudian mengungkapkan rasa syukurnya ketika melihat pelaku dalam industri perfilman mengajukan petisi untuk bapak presiden, dan hampir semua pihak industri ini mengunggah dan direspon walaupun masih belum kelihatan. “Saya dengar, walaupun ini belum resmi untuk disampaikan bahwa pemerintah akan memberikan stimulus kepada produser untuk menayangkan filmnya. Kita lihat saja nanti bagaimana realisasinya seperti apa. Menurut saya ini adalah respon yang cukup baik, karena kan industri film paling tergerus saat ini, bioskop mati suri dan ini butuh stimulan dari pemerintah bahwa pemerintah harus bantu industri.”

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *