Fotografer: Zain Fathurrahman

Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dalam Rangkaian Strategi Keamanan Nasional

Zain Fathurrahman

Pijar, Medan. Status Indonesia sebagai Negara Maritim sudah tidak diragukan lagi. Dengan luas laut sebesar 3,25 juta Km² ditambah luas Zona Ekonomi Eksklusif sebesar 2,55 juta Km², Indonesia memiliki kekayaan alam bahari yang melimpah ruah. Agar bisa memanfaatkan sumber daya alam sebesar itu, maka dibutuhkan suatu kedaulatan yang melindunginya baik dari dalam, maupun dari luar.

Lebih lanjut lagi mengenai hal tersebut, Universitas Sumatera Utara menyelenggarakan sebuah kuliah umum bertajuk “Strategi Keamanan Nasional dalam Rangka Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Indonesia” pada Senin (29/03) pukul 09.25 WIB.

Menariknya, kuliah umum ini dilaksanakan secara hybrid yang tidak hanya dilakukan melalui platform Zoom dan Live YouTube, tetapi juga secara luar jaringan (luring). Adapun dalam hal kegiatan luar jaringan, seminar ini diadakan di Aula FISIP USU dan dihadiri oleh sekitar 50 orang yang berasal dari kalangan dosen, pemerintahan mahasiswa (PEMA), perwakilan organisasi, dan juga perwakilan mahasiswa.

Penyerahan plakat penghargaan kepada Sesjen Wantannas Laksfa TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro sebagai pemateri. (29/3) (Fotografer: Zain Fathurrahman)

Kuliah umum ini mengundang Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Sesjen Wantannas) Laksda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos, S.H., M.H. dan juga Rektor Universitas Sumatera Utara, Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si. yang diwakili oleh Wakil Rektor II, M Arifin Nasution S.Sos., M.Sp.

Acara dibuka dengan kata sambutan dan pembukaan dari Wakil Dekan III, Drs. Hendra Harahap, M.Si., Ph.D. yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai ketahanan maritim nasional oleh Sesjen Wantannas, Harjo Susmoro.

“Posisi geografis kita sangat luar biasa, memungkinkan kita untuk mengambil manfaat yang sangat besar untuk bisa meningkatkan taraf ekonomi,” ujar Harjo Susmoro dalam penyampaian materinya.

“Semua sumber daya alam yang tidak ada di negara-negara yang ‘katanya’ lebih maju, bisa ditemukan di Indonesia,” tambahnya.

Acara berlangsung dengan baik dan interaktif. Hal tersebut terlihat dari banyaknya peserta yang ingin bertanya kepada pemateri, baik dari daring maupun luring. Namun, pertanyaan yang tertampung hanya 4 saja.

Setelah satu tahun lebih pelaksanaan acara dilakukan secara daring, kuliah umum ini merupakan salah satu acara yang dilakukan secara luar jaringan. Pemenuhan kewajiban protokol Covid-19 juga terlihat baik dengan tersedianya hand sanitizer dan pengukur suhu tubuh di luar aula.

“Kalau saya, terus terang lebih suka secara offline, karena bisa memperhatikan pesertanya memperhatikan atau tidak, tidur atau tidak, sehingga saya bisa membuat orang yang sebelumnya cuek jadi memperhatikan. Tetapi, dalam kondisi seperti ini ya kita tidak bisa memaksakan,” jawab Harjo Susmoro ketika ditanya mengenai keberhasilan acara luring meski dalam kondisi pandemi.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *