Naomi Adisty

Mereka memang ada dan nyata. Kehampaan yang diselimuti kekosongan menjadi bagian hidup mereka sekarang. Namun, semesta tak ingin kita dan mereka bersatu. Dunia kita berbeda, gelap, dan terang. Menantang kehadirannya sama saja membuatmu terjerat di dalamnya.

Gumpalan kapas itu menggantung di angkasa. Sedikit demi sedikit menyatu merubah angkasa bertabur bintang menjadi gelap tak bersahabat. Gadis itu mendongak mengharapkan langit yang gemerlap yang menghiasi. Berharap cemas agar tangisan deras semesta tak membasahi dirinya yang kini menunggu “si mas hijau”.

Duaaaarrr….

Semesta mengamuk dan tangisan itu memecah hingga deras. Tetesan itu tanpa pandang buluh mengenai semua orang yang tersisa. Cuaca malam kali ini tak bersahabat seperti malam kemarin. Dingin mulai menggelayuti di udara dan menusuk kulit. Gadis yang menepi di emperan toko itu memeluk dirinya sendiri.

Samar-samar dilihatnya dari kejauhan ada sebuah kendaraan mulai menepi ke arahnya. Deru hujan dan angin menjadi penghalang untuk melihat jelas kearah sana.

Tinnn…tinnnnn

Suara klakson berbunyi, membuat gadis itu sedikit tersentak dan kaget.

“Permisi, apa benar mbak yang bernama Niken Arendele memesan ojek online saya?” ucap pria yang kira-kira sudah menginjak kepala tiga itu.

Gadis itu pun mengangguk menimpali pertanyaan tersebut dan segera memakaikan helm. Tak peduli air yang turun dari langit membasahi, mereka menembusnya bersama dinginnya malam. Sebab gadis itu hanya memikirkan kamar kost yang tak mungkin ditinggalkannya hingga larut malam.

“Ini pak uangnya, maaf ya pak jadi kehujanan gini dan terimakasih ya pak sebelumnya,” ucap gadis itu lalu memasuki kamar kost.

Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana sebab kamarnya terlihat gelap tak ada secercah cahaya. Tapi entahlah, Niken merasa sebelum pergi dirinya sempat menghidupkan lampu luar. Kelelahan dan rasa kantuk yang semakin berat menghampiri membuatnya tak terlalu memusingkan hal itu, kini kasur lebih memikat dibanding yang lain.

Tok…tok…tok…

Suara ketukan yang cukup keras terdengar tepat pukul dua pagi.

Tok…tok…tok…

Ketukan itu semakin keras mengisi keheningan kala itu.

Tok…tok..tok…

Niken yang mulai merasa terganggu, mulai meringkuk dari tempat yang penuh daya magnet itu menuju ke sumber suara, pintu kamar kost.

“Siapa sih jam segini mau bertamu, gila kali ya,” gerutunya kesal sambil berjalan menghampiri.

Namun, tak ada seseorang pun di sana. Hanya suasana koridor gelap yang ada dan tidak membuat Niken takut dan justru sebaliknya, “Kurang ajar! tidur kalian woi, jangan ganggu aku, toh ga mempan kalian ganggu aku karena aku ga takut,” Niken berujar memperingatkan agar warga kamar kost lain mendengar, berharap siapa pun yang menjahilinya jera.

Niken pun memutuskan untuk melanjutkan bunga tidurnya yang sempat terjeda. Namun, tiba-tiba saja…

Dreett..dreett..dreett..

Suara yang berasal dari benda pipih di atas meja kecil itu bergetar begitu menggema suasana kamar yang sunyi. Dirinya meraih benda pipih berwarna rose gold itu dan terlihat nomor yang masuk tidak ia kenal hingga membuatnya geram.

“Siapa sih yang nelpon! Eh, hantu kau ya yang nelpon aku? Udahlah tidur aja sana, ga mempan menakutiku,” lantas dirinya bergegas ke kasur dan tidur.

Beberapa jam yang tenang telah dilewatinya bercampur dengan mimpi yang indah kini harus direnggut kembali dengan suara tak jelas begitu mengganggu. Tepatnya pukul empat pagi.

Tok…tok..tok…

Semakin keras suara ketukan itu bahkan terdengar seperti mendobrak. Hingga akhirnya membangunnya untuk kedua kalinya.

“Astaga apa lagi sih ini!” gerutunya kesal sambil berjalan kearah pintu kamar kost. Namun, anehnya suara itu kini bukan berasal dari sana….melainkan….

Tok…tok…tok…

Ya, melainkan dari kamar mandi, sebab hanya ada dua pintu di sini. Dirinya hanya diam mematung sejenak tak ingin membuka pintu kamar mandi itu sebab ia masih heran mengapa bisa pintu kamar mandi ada yang mengetuk. Lebih memungkinkan bila ada yang mengetuk pintu luar.

“Eh kalian hantu, ini ulah kalian kan? Udahlah aku mau tidur loh!”

Dubrak…dubrak..dubrak…

Seerrr….

Suara pintu kamar mandi didobrak diikuti dengan suara kran air yang menyala. Kamar mandi itu bagaikan ada seseorang yang sedang mandi disana sebab suara guyuran air begitu keras terdengar.

“Eh han,“ belum sempat melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba lampu yang menyala mulai meredup dan mati. Niken kini pasrah dan berdiri diam mematung. Ia ingin duduk tetapi diurungkan niatnya karena takut tiba-tiba bertemu sosok lain. Niken hanya mengandalkan sinar dari senter handphone.

Sreeettt….

Suatu bayangan besar berambut lewat tepat di depan matanya. Sosok itu mungkin ada di belakangnya. Niken mengarahkan sinar dari senter handphone ke arah tembok yang di hadapannya. Betapa kagetnya ia melihat bayangan badan besar begitu jelas di tembok itu.

Tap..tap..tap..

Deru langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya. Niken hanya bisa memejamkan mata. Bahkan sinar dari benda pipih miliknya diarahkannya ke sembarang arah. Benar saja, dirinya mencium aroma amis dan merasakan ada seseorang yang mengibaskan rambutnya lalu menyentuh kulitnya. Niken bisa merasakan betapa dingin tangan itu. Ia berusaha untuk membuka mata perlahan dan betapa terkejut dirinya sebab tangan yang menyentuhnya itu kulitnya terkelupas dengan kuku yang memanjang. Samar-samar dilihatnya wajah sosok itu terkelupas setengah mengeluarkan banyak darah namun matanya menatap kosong.

“Arrghhh!!” teriaknya kaget hingga berkeringat dingin.

Lampu pun menyala dan semua suara yang menganggu dari kamar mandi hilang seketika. Kini dirinya hanya duduk terkulai lemas dan tidak bisa membayangkan kejadian tadi. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul lima.

 “Tidur sejam kayanya sempat deh,” Niken memuaskan rasa kantuknya dengan tidur sejenak.

Tok…tok…tok…

“Niken buka pintunya, bangun Nik! Kuliah woi hari ini ada presentasi,” teriak alarm berwujud manusia yang menjadi teman sekampusnya, Arkan.

Tersadar dari tidurnya, Niken pun bergegas ke kamar mandi sebab waktu hampir menunjukkan pukul  delapan pagi.

Sreettt….

Dubrak…dubrak…

Niken yang mendengar itu tengah membasahi rambutnya sontak kaget. Bahkan ada darah yang menggenang di lantai kamar mandi itu. Dirinya segera mengambil handuk dan bergegas berpakaian dan keluar dari kamar kost itu.

Tok…tok..tok…

Niken hanya bisa mematung ketika hendak keluar kamar kost sebab suara itu begitu mengintimidasi dirinya sepanjang malam. Namun tiba-tiba saja…

Dubrakk…

“Happy birthday Niken,” ucap teman-teman dekatnya Arkan dan Diska.

“Surprise hahaha pasti kagetkan?  Maaf ya Nik kalau tadi malam itu ulah aku dan Arkan,” Diska memberi penjelasan disertai suara tawa menggelegar Arkan.

Niken pun ikut tertawa, “Gila ya kalian buat ide seseram itu awas aja ya, tapi darah yang ada di kamar mandi itu ulah kalian juga? Aneh dan niat aja sih kalau semisal ulah kalian juga.”

Arkan dan Diska pun saling melempar tatapan heran lalu menggeleng perlahan. Lalu, siapa pelakunya? Mereka akan hadir kala seorang mengundang dan menantangnya.

Leave a comment