Hits: 11

Dita Andriani

“Satu rintangan yang memisahkanmu dengan tujuan”.

Pijar, Medan. Sepenggal kata dari film “exam” yang disutradari Stuart Hazeldine ini mampu menggugah rasa penasaran untuk terus menonton. Film yang dikemas dengan sederhana tetapi mampu menghadirkan sisi menegangkan, penasaran, mencekam, misteri dan rasa simpati yang ada disetiap adegannya. Film yang berdurasi 101 menit ini dapat membuat kita merasa dalam tekanan skenario yang dirancang untuk menguji kecerdasan kita.

Film ini mengisahkan ujian akhir yang dilakukan oleh sebuah perusahaan, dengan 8 kandidat terbaik dari berbagai latar belakang kultur dan etnis yang berbeda. Untuk menjadi yang terbaik mereka harus bertarung dengan waktu untuk mencari pertanyaan. Hanya ada satu pertanyaan dan satu jawaban yang diperlukan. 8 kandidat hanya diberi waktu 80 menit untuk menyelesaikan ujian ini. Para kandidat tersebut ditempatkan dalam satu ruangan khusus yang diawasi oleh satu penjaga. 80 menit untuk melihat apakah kandidat layak bergabung dengan perusahaan dan penentuan nasib mereka 80 tahun kedepan.

Argumen demi argumen bermunculan dimenit awal film ini yang membuat para penonton untuk terus berpikir siapa yang benar. Mereka saling bekerjasama untuk mendapatkan pertanyaan. Memanfaatkan apapun yang ada didalam ruang ujian tersebut, mencoba berbagai kemungkinan yang ada dengan berbagai teori yang dilontarkan oleh Pollyanna Mcintosh (Brunette) dan Chuk Iwuji (Black).

Percobaan pertama mencari pertanyaan dari cahaya lampu yang menerangi ruangan tersebut. Gagal adalah langkah awal bagi mereka untuk terus berjuang mencari jawaban. Teori demi teori terus dilemparkan dan membuat kita ikut berpikir. Memecahkan lampu yang ada agar mendapatkan cahaya yang tak terlihat seperti ultraviolet dan infrared. Sinar hitam pun datang menerangi pemikiran para kandidat. Keraguan terus bermunculan seiring terhempitnya krisis waktu.

Kecurangan dan arogansi perlahan mulai terlihat dengan ancaman waktu yang berjalan. Ujian ini membuat mereka lebih tahu mengenai perusahaan dan karakter setiap kandidat. Pemikiran baru terus bermunculan, mencoba berbagai cara hingga membasahi kertas ujian dengan air yang dianggap mampu memberikan jalan keluar. Berbagai cara telah dicoba dan yang dihasilkan hanyalah kegagalan demi kegagalan. Satu demi satu kandidat gugur dengan cara dicurangi oleh kandidat lain. Menit yang semakin krisis membuat kita semakin bertanya-tanya. Siapakah yang layak keluar sebagai pemenang?

Film yang dirilis pada Juni 2009 ini mampu menenggelamkan pikiran penonton kedalam teka-teki pertanyaan. Film ini berhasil menunjukan bahwa film dengan ide cerita sederhana mampu menimbulkan sensasi bagi penontonnya. Tak hanya itu, penonton juga mendapatkan pesan positif dari film tersebut secara tersirat. Penonton yang menyukai plot krisis dan ruang gerak yang sempit sangat tepat untuk menontonnya. Stuart Hazeldine mampu membuat penonton tidak merasa bosan walaupun latar belakang tempat hanya di satu tempat saja dan hanya memainkan sembilan pemain di dalamnya.

Leave a comment