Hai… Kau..
Iya.. Kau.. Yang berdiri disana
Bertanggungjawablah atas diriku
Suasana di kamar ini lengang. Menyisakan aku dan sekelebat bayang-bayang tentang peristiwa menakjubkan yang baru saja terjadi. Pukul satu dini hari. Aku masih tak dapat tidur. Masih terbawa suasana beberapa jam yang lalu. Telepon genggam ku bergetar.
Akhir-akhir ini hujan sering hadir
Terhisap oleh tanah dan menyuburkan buah-buah bibir
Karena tak semua orang suka buah
Maka,
Subur pun tak selamanya menghibur
Hujan turun membawa alur kacau pada hal manis yang perlahan luntur
Sebelum hari itu
Mereka yang masih tertawa
Mereka yang masih ceria
Mereka yang tak pernah menduga
Seketika suasana hening dan ia belum juga mau menceritakannya. Aku menunggu dan tetap terus menenangkannya. Tak lama, ia bercerita kepadaku.
Saat malam mulai sunyi
Hati merasa terlalu sepi
Tak ada satupun yang bisa menemaniku
Suara itu!
Sebulan setahun bahkan seratus tahun
Aku selalu menunggu
Menunggu sesuatu yang tak pasti
Menunggu suatu harapan darimu
Menunggu sesuatu yang tak akan pernah terwujud
Ramadhan ini menyadarkanku
Betapa besar rasa sayang Allah padaku
Dia memintaku untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan
Padahal Dia menyimpan pesan agar aku berhenti dari kebiasaan burukku
Tuanku yang dulu
Kulihat tak pernah lepas tawa bahagiamu
Yang pastinya bukan saat bersamaku
Tapi dengan puanmu yang baru
Ku pikir diriku sedang bermimpi
Melihat dirimu tengah tersenyum kepadaku
Aku masih mengingat senyuman itu
