Hits: 4
Ferdi Rakiven Sianturi
Pijar, Medan. Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober. Tahun ini, peringatan tersebut mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Peringatan tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, mendorong kepemimpinan pemuda dalam pembangunan, serta menumbuhkan generasi muda yang kreatif, inovatif, berdaya saing, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Di tengah kondisi bangsa yang penuh dinamika dan berbagai persoalan, Hari Sumpah Pemuda seharusnya menjadi momentum untuk kembali menyalakan semangat patriotisme dan kepedulian terhadap tanah air. Namun, di tengah kekecewaan dan kejenuhan terhadap situasi yang ada, apakah pemuda hari ini masih memiliki semangat untuk membela bangsa, atau justru mulai kehilangan gairah untuk memperjuangkannya?
Menanggapi hal tersebut, Raihan Atmajaya, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (USU), menilai bahwa diamnya pemuda bukan berarti mereka tidak peduli. Menurutnya, kurangnya pemahaman politik membuat sebagian pemuda belum memahami latar belakang, faktor penyebab, dan dampak dari suatu peristiwa sehingga memilih untuk tidak bersuara. Meski demikian, Raihan meyakini bahwa kepedulian dan perhatian pemuda terhadap berbagai persoalan bangsa masih tetap ada.
“Menurut saya, generasi muda bukan tidak peduli terhadap kondisi bangsa, tetapi masih membutuhkan pendidikan politik dan pemahaman yang cukup agar mampu memahami persoalan sebelum mereka menyuarakan pendapat. Diamnya pemuda bukan berarti mereka tidak peduli, melainkan karena kurangnya pemahaman tentang latar belakang dan dampak suatu peristiwa tersebut,” ucap Raihan.
Di sisi lain, Rafael Royto Azra Marpaung, mahasiswa Fakultas Hukum USU, menilai bahwa pemuda tidak pernah berhenti memperjuangkan keadilan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Namun, ia juga menyoroti adanya kelompok pemuda yang memilih diam karena memiliki kepentingan dengan pihak-pihak berkuasa yang mungkin terlibat dalam persoalan tersebut.
“Banyak pemuda melalui komunitas dan organisasi terus mengupayakan kesejahteraan masyarakat lewat bakti sosial. Para influencer dan creator pun turut menyuarakan kebenaran serta melakukan aksi nyata, seperti memperbaiki fasilitas publik di wilayah kurang mampu. Mereka juga terus menyuarakan keresahan melalui instastory Instagram hingga mencapai “itik-titik,” jelas Rafael.
“Di sisi lain, sebagian pemuda memilih diam karena menyuarakan kebenaran memiliki risiko dengan kepentingan pemangku kuasa yang mungkin memiliki keterlibatan dalam persoalan yang dipermasalahkan,” tambah Rafael.
Sebagai generasi penerus bangsa, pemuda harus memiliki kepedulian, cinta tanah air, semangat persatuan, dan jiwa patriotisme. Mencintai Indonesia bukan berarti selalu setuju dengan pemerintah, melainkan berani menyuarakan kebenaran demi perbaikan bangsa.
Kritik bukan sekadar luapan emosi, tetapi wujud kepedulian dan tanggung jawab terhadap masa depan Indonesia. Sejalan dengan ungkapan “Vox Populi, Vox Dei” yang berarti “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”, suara rakyat memiliki peran penting dalam menyampaikan aspirasi, menegakkan keadilan, dan mendorong perubahan.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

