Hits: 4
Davva Abror Supriadi
Pijar, Medan. Di layar lebar, penyandang disabilitas sering menjadi bagian dari cerita yang menggugah simpati. Namun, bagaimana jika mereka tidak hanya hadir sebagai karakter pendukung, melainkan menjadi tokoh utama yang menggerakkan cerita? Pertanyaan ini menjadi relevan ketika film Istimewa hadir dengan menempatkan penyandang disabilitas sebagai pusat cerita.
Film produksi Kairos Film yang disutradarai oleh Ruben Adrian ini mengisahkan lima anak penyandang disabilitas yang tinggal bersama Pak Mahendra, sosok ayah yang merawat mereka dan sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Ketika Pak Mahendra menghilang, anak-anak tersebut memutuskan untuk mencari keberadaannya. Perjalanan itu membawa mereka menghadapi berbagai tantangan sekaligus menemukan makna keluarga, persahabatan, dan keberanian. Kisah ini pun terinspirasi dari pengalaman nyata.
Di balik cerita tersebut, terdapat proses produksi yang memperlihatkan pentingnya pendekatan antar pemain. Ruben Adrian mengungkapkan bahwa proses syuting berlangsung selama 28 hari, sementara masa pendekatan antara para pemain berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan. Pendekatan ini dilakukan untuk membangun kedekatan, chemistry, dan dapat membantu para pemain merasa lebih percaya diri di depan kamera.
Keterlibatan penyandang disabilitas juga tidak berhenti pada lima tokoh anak tersebut. Ruben menyebutkan bahwa terdapat sekitar 40 penyandang disabilitas yang terlibat sebagai pemeran tambahan. Hal ini memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai representasi tidak hanya berkaitan dengan siapa yang terlihat dalam layar, tetapi juga siapa yang memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam proses produksi film.
Representasi ini penting karena media turut menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mengenal suatu kelompok marjinal yang mungkin jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Cara suatu kelompok digambarkan dapat memengaruhi pemahaman publik, termasuk membentuk atau mempertahankan stereiotip. Dengan menghadirkan penyandang disabilitas sebagai pemeran utama, dapat membuka peluang cerita yang lebih beragam lainnya.
Banyaknya karakter penyandang disabilitas dalam sebuah film tidak langsung menjamin bahwa representasi terhadap kelompok tersebut sudah inklusif. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana karakter tersebut dikembangkan, apakah identitas mereka hanya dijadikan nilai jual dalam sebuah cerita, atau justru memiliki peran aktif dan ditampilkan secara utuh dan bangga.
Melalui film Istimewa, representasi disabilitas di bidang film Indonesia memperoleh ruang untuk dikembangkan lebih jauh. Kehadiran mereka menjadi salah satu penggerak untuk memberikan kesempatan kepada beragam kelompok untuk tampil, berkarya, serta dapat sorotan besar dalam industri film lokal.
Representasi yang bermakna bukan sekadar tentang siapa yang hadir dan tampak di depan kamera, tetapi tentang ruang yang diberikan kepada mereka untuk menyampaikan kisah dan karyanya sendiri. Karena, kesempatan untuk bercerita merupakan bagian penting dari keberagaman yang seharusnya hadir dalam sebuah industri film, khususnya dalam perfilman Indonesia yang dikenal dengan penuh keberagamannya.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

