Hits: 2

Siti Nasuha Abidin Damanik

Pijar, Medan. Tingginya volume sampah wadah sekali pakai yang sulit terurai serta banyaknya limbah kulit buah durian di Kota Medan melahirkan sebuah inovasi ramah lingkungan bernama Duriofoam.

Nurul Hanifah Nasution, selaku Ketua Tim Duriofoam menjelaskan bahwa hal ini berawal dari kepedulian terhadap permasalahan lingkungan. Tim pengembang memilih untuk memanfaatkan limbah kulit dan biji durian yang selama ini belum diolah secara optimal menjadi barang yang lebih bernilai guna.

Nurul menambahkan bahwa produk ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah pengganti plastik yang ramah lingkungan, tetapi juga untuk membawa nilai edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah.

“Kami memilih limbah durian karena jumlahnya cukup melimpah khususnya di Kota Medan dan memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan yang lebih bernilai, sehingga kami tidak hanya menghadirkan alternatif wadah minuman yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah pada limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan,” ujarnya.

durifoam
Cup Inovasi dari Limbah Kulit dan Biji Durian)
Sumber Foto: Dokumentasi Tim Duriofoam

 

Dalam perjalanannya, tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini telah menyiapkan berbagai strategi terkait arah distribusi dan pengembangan produk Durifoam cup ke depannya. Tim menyasar sektor usaha makanan dan minuman yang memiliki kebutuhan cup dalam jumlah besar dan penggunaan rutin agar distribusi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Meski produk ini berawal di Kota Medan, jangkauannya kini sudah mulai merambah konsumen di luar kota melalui penjualan secara online, bahkan telah sampai ke Sulawesi.

“Ke depannya, kami ingin terus memperluas jangkauan distribusi secara online maupun melalui kerja sama dengan pelaku usaha di berbagai daerah,” harapnya.

Tim Duriofoam menyatakan keterbukaan mereka untuk bekerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau pelaku usaha minuman. Bentuk kemitraan tersebut tidak hanya sebatas penggunaan Duriofoam sebagai wadah produk yang mereka jual, tetapi juga mencakup keterlibatan dalam uji coba dan pemberian feedback.

“Selain itu, kami juga ingin membangun kerja sama dalam bentuk uji coba dan pemberian feedback, sehingga kami bisa terus menyesuaikan dan mengembangkan produk sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha,” jelasnya.

Setelah program PKM-K selesai, Tim Duriofoam telah merancang sejumlah rencana jangka panjang. Hal itu mencakup peningkatan kapasitas produksi guna memenuhi permintaan dalam jumlah yang lebih besar, memperluas jangkauan pasar, hingga menghadirkan variasi ukuran cup baru sesuai dengan kebutuhan dan permintaan konsumen agar dapat menjangkau lebih banyak jenis usaha.

“Jadi, setelah program PKM-K selesai, kami berharap Duriofoam tetap berjalan sebagai usaha yang berkelanjutan dan tidak berhenti hanya sebagai program mahasiswa,” ungkapnya.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment