Hits: 10

Lainatus Syifa Hasibuan

Pijar, Medan. Tidak banyak permainan tradisional yang mengandalkan ketajaman otak dan strategi murni. Di antara beberapa gim rakyat yang dikenal masyarakat, Domino atau yang akrab disapa Gaple dan Dam menjadi salah satu permainan yang tidak pernah mati dan selalu melintasi berbagai generasi. Biasanya, kepingan-kepingan Domino yang beradu di atas meja selalu menjadi pemandangan akrab di warung kopi, pos ronda, hingga sudut-sudut permukiman.

Tidak seperti catur yang membutuhkan durasi panjang dan hanya dimainkan dua orang, permainan Domino bergerak amat cepat. Menggunakan satu set kartu atau batu akrilik berjumlah 28, tiap pemain memegang tujuh kartu yang harus diturunkan sesuai urutan angka di kedua sisi. Pemain tidak hanya menghitung kartu yang sudah jatuh di meja, tetapi juga mengasah intuisi untuk meraba kartu di tangan lawan.

Meski telah lama populer di tengah masyarakat, Domino tidak pernah lepas dari bayang-bayang citra negatif. Selama bertahun-tahun, masyarakat mengidentikkan permainan ini sebagai aktivitas buang-buang waktu, pemicu rasa malas, hingga identik dengan sarana perjudian.

Stigma yang terbentuk tersebut, membuat potensi Domino sebagai permainan strategi yang kompetitif belum sepenuhnya mendapat perhatian. Padahal, ketika dimainkan dengan aturan yang jelas dan tanpa unsur perjudian, domino dapat menjadi ruang kompetisi yang mengedepankan kemampuan, kedisiplinan, serta sportivitas.

Perubahan perspektif terhadap Domino mulai memperoleh pijakan melalui kehadiran Olahraga Domino Indonesia (ORADO).

Mengutip dari metrotvnews.com, olahraga Domino memasuki babak baru dalam perjalanan pembinaan olahraga nasional setelah Pengurus Besar Olahraga Domino Nasional (PB ORADO) resmi menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Keputusan tersebut diumumkan dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI 2026.

Pengakuan ini menjadi momentum krusial bagi transformasi Domino di Indonesia. Permainan yang telah mengakar di tengah masyarakat kini memiliki landasan kelembagaan resmi untuk dikembangkan sebagai olahraga prestasi.

Di bawah naungan KONI Pusat, PB Orado dapat menggelar kompetisi yang terarah, profesional, dan berstandar resmi, sekaligus memperkuat pembinaan atlet secara berjenjang. Target terdekat yang dicanangkan adalah membawa Domino sebagai cabang olahraga ekshibisi pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.

Langkah ini menjadi titik balik penting dalam membangun identitas baru Domino di tengah masyarakat. Permainan yang dulu melekat dengan stigma buang-buang waktu hingga perjudian, kini bertransformasi menjadi arena kompetitif yang menuntut strategi murni, konsentrasi, dan sportivitas. Kehadiran wadah resmi menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi domino di luar stigma yang selama ini melekat.

Melalui pengembangan regulasi dan kompetisi yang terstruktur, ORADO diharapkan mampu memperkuat eksistensi Domino di tingkat nasional, sekaligus membuka peluang untuk menjangkau panggung internasional. Meski perjalanan menuju pengakuan yang lebih luas masih panjang, perkembangan ini menjadi pijakan bagi Domino untuk menapaki jalur olahraga prestasi dan memperluas penerimaannya di tengah masyarakat lintas generasi.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment