Hits: 3
Hetno Daniaty Br Singarimbun
Setelah makan malam selesai, Alan langsung segera bergegas untuk melanjutkan hafalan pelajaran sejarahnya karena besok ia akan mengadakan ulangan di sekolah. Terlihat Alan sedang membaca dengan kuat sambil menghafal pelajaran yang sudah di jelaskan oleh ibu guru. “Indonesia dijajah Belanda selama tiga ratus lima puluh tahun,” mulut Alan komat-kamit dan jarinya ikut menunjuk. “Tiga ratus lima puluh tahun… tiga ratus lima puluh tahun…”.
Bapak yang sedang menghembuskan kepulan asap di udara sambil memutar-mutar rambut di atas bibirnya. Ia melirik, sambil mengetukkan ujung rokoknya ke pinggir asbak, membiarkan sejumput abu-abu jatuh perlahan, dan kembali menghisap rokok tersebut.
“Ratusan tahun itu lama sekali, Nak. Kamu percaya?” tanya bapak tiba-tiba. Suaranya berat, tenang, tapi selalu punya nada yang menuntut jawaban logis. “Tidak masuk akal, gini besarnya negara kita, punya ribuan kerajaan dan pendekar, gak mungkin segitu lamanya kita dijajah. Mungkin juga karena saking kejamnya penjajahan itu, jadi perasaan orang tua zaman dulu terasa lama sekali.” Bapak sambil menggumam dan mengeluarkan suara kecil yang masih bisa terdengar oleh telinga Alan “Tidak masuk logika”.
Alan mengerutkan kening dan langsung merasa kesal. Setiap kali Alan pulang sekolah dan menceritakan apa yang dikatakan guru di kelas, bapak hampir selalu menyanggahnya. Ia pasti langsung menantang Alan, “Kenapa tidak kamu jawab begitu ke gurumu? Kenapa tidak kamu tanyakan bagaimana bisa begitu, dan kenapa kamu tidak bilang begini?“.
Di hati kecil Alan yang paling dalam, ego seorang anak-anak memberontak sekaligus bingung. Ada bagian yang membisikkan hati Alan, “Eh, betul juga ya kata Bapak.” Tetapi, Alan tetap memilih membenarkan gurunya. Kenapa? Karena Alan sudah dididik untuk selalu patuh kepada guru dan orang tua.
Di situ juga ada ibu, sibuk dengan ponselnya yang memancarkan cahaya kebiruan. Ia sedang asyik menonton siaran langsung di TikTok tentang baju-baju model terkini, dan bersiap melakukan pembelian untuk baju yang sejak tadi menarik perhatiannya.
Ibu Alan adalah seorang guru. Didikannya bertolak belakang dengan bapak. Bagi ibunya, kepatuhan adalah nomor satu. Sejak Alan Kecil, ia selalu menanamkan doktrin bahwa guru di sekolah adalah orang tua kedua yang harus dihormati dan diterima apa adanya. “Nurut saja apa kata gurumu di sekolah ya, Nak. Jangan membantah.” Begitu kalimat yang selalu didengar oleh Alan. Bagaimanapun, Alan akan selalu berpihak pada didikan ibunya, karena ibu adalah guru pertama bagi seorang anak.
Maka, demi menjadi anak yang “baik” dan aman di sekolah, Alan memilih meredam logika bapak. Alan mengubur pertanyaan-pertanyaan kritis itu dan menganggap obrolan bapak malam itu hanya omong kosong orang tua yang sok tahu. Alan memilih menjadi pembeo yang patuh demi angka seratus di lembar ujian dan senyuman bangga dari ibu.
Waktu berjalan tanpa permisi, dan keluguan anak SD itu berganti menjadi jaket almamater universitas. Alan mulai masuk ke dunia perkuliahan, tempat di mana mimbar akademik yang menjadi ruang paling bebas untuk beradu argumen.
Namun, di sinilah Alan tersadar akan sebuah ironi yang pahit. Kepatuhan yang ditanamkan sejak kecil ternyata mengakar terlalu kuat. Di dalam kelas-kelas kuliah, ketika dosen menyampaikan sebuah teori atau pernyataan yang begitu informatif, Alan secara otomatis percaya seutuhnya terhadap apa yang dikatakan oleh dosen. Alan hanya bisa diam meski sebagian pernyataan atau pertanyaan tidak masuk akal baginya.
Di dalam lubuk hati yang paling dalam, Alan ingin menyanggah, tapi ia tidak berani. Ia memilih untuk patuh tanpa perlawanan. Padahal mahasiwa yang kritis adalah mahasiswa yang bagus di perkuliahan. Setiap dosen yang masuk pasti menekankan para mahasiswa agar berani memberikan pendapat atau menyanggah apa yang di sampaikan dosen, karena dunia di kelas dibuka lebar untuk forum dikusi. Kebiasaan dari masa kecil itu pun berulang. Setiap kali pulang kampus, Alan sering bercerita di rumah tentang apa yang disampaikan oleh dosen-dosen hari itu.
Tanggapan bapak tetap tidak berubah sejak belasan tahun lalu. Ia menatap Alan dengan sorot mata yang sama, lalu menyela, “Kenapa tidak kamu jawab begitu ke dosenmu? Kenapa tidak tanya begini, begitu?”.
Detik itu, di dalam lubuk hatinya, sebuah tamparan keras mendarat, “Iya juga ya, kenapa aku tidak berani, kenapa aku gak berpikir gitu, ya?”
Alan menatap bapak yang rambutnya kini sudah sebagian memutih. Tiba-tiba ada rasa sesal yang menyergap dada Alan, “Andai saja dulu waktu kecil, aku lebih memilih berpihak pada didikan Bapak, andai saja aku lebih berani merawat sifat kritis yang coba Bapak tanamkan, mungkin aku tidak akan tumbuh menjadi manusia yang biasa saja. Aku pasti akan lebih berani menyuarakan kebenaran di depan dosen-dosenku. Aku akan menjadi mahasiswa yang lebih berani tampil dan menjadi seorang pemimpin.” Kini Alan hanyalah mahasiswa yang selalu mengikuti arus tanpa melawan sedikit pun arus itu.
Malam itu, suasana rumah terasa seperti hari-hari biasanya. Bapak sedari tadi asyik mengepulkan asap ke udara sambil memutar mutar rambut yang ada di atas bibirnya. Saat itu, Alan sedang asyik menyusuri beranda TikTok dan melihat konten yang sedang tren, pembahasan tentang Sejarah Indonesia yang banyak dipelintir.
Dalam benaknya, “Baru sekarang sadar.. bapakku dari dulu sudah tau. Andai dulu bapakku berani angkat suara, pasti bapakku duluan yang trending.” dan Alan pun tersentak memanggil bapaknya “Pak, betul apa yang yang dulu Bapak pernah ajarkan ke aku. Sejarah Indonesia banyak yang dikarang, kenapa dulu kita gak angkat suara ya pak…” Bapak yang hanya tersenyum sinis berkata, “Sudah Bapak bilang, tapi kapan kalian percaya sama Bapak.” Alan hanya tersenyum malu.
Alan pun kembali bercerita kepada bapaknya mengenai perkuliahanya hari ini. Tapi memang tabiat sang bapak suka membuat sang anak kesal, dengan memberi pertanyaan-pertanyaan yang membuat Alan bingung cara menjawabnya. Meski begitu, Alan tersadar, di balik deretan gelar fungsional guru dan dosen di luar sana yang mengajari Alan di ruang kelas, ternyata ada satu orang di dalam rumahnya sendiri yang pengetahuannya jauh lebih luas, yang pikirannya jauh lebih terbuka, dan yang paling tulus mengajarinya cara manusia berpikir, yaitu ayah Alan sendiri.

