Hits: 2

Michael Sitorus

Pijar, Medan. Sudah menjadi fakta umum bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya dengan budaya, termasuk budaya olahraga tradisionalnya. Beberapa daerah di Indonesia, sering kali memiliki sebutan nama yang berbeda dalam mendeskripsikan suatu permainan olahraga tradisional, dengan menyesuaikan bahasa dan budaya masyarakat yang ada.

Salah satu contoh olahraga tradisional tersebut adalah Gobak Sodor. Olahraga ini memiliki banyak nama yang berbeda di beberapa daerah di Indonesia. Di sejumlah daerah Melayu, seperti Riau, olahraga ini dikenal dengan nama Galah Panjang. Selain itu, olahraga ini juga dinamakan dengan Main Asing jika dimainkan di Sulawesi, khususnya Makassar. Walaupun begitu, perbedaan nama di setiap daerah tidak mengubah inti dari cara permainan olahraga tersebut.

Dilansir dari laman mediaindonesia.com, tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai waktu dan asal Gobak Sodor pertama kali muncul. Namun, terdapat beberapa sumber yang menyebutkan bahwa olahraga tradisional ini telah dimainkan di daerah pedesaan yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu, nama Gobak Sodor juga diperkirakan berasal dari bahasa Jawa, yaitu terdiri dari kata “Gobak” berarti bergerak secara bebas, sedangkan “Sodor” berarti tombak atau tongkat yang diulurkan.

Pada masa lalu, Gobar Sodor sering dimainkan oleh anak-anak di sore hari ketika berkumpul dengan teman-teman. Tidak memerlukan peralatan khusus untuk memainkannya, olahraga ini menjadi permainan yang dimainkan oleh masyarakat. Hal inilah yang membuat permainan ini cepat dikenal dan berkembang ke berbagai daerah di Indonesia, dan kemudian melahirkan perbedaan nama serta sedikit variasi dalam cara bermain.

Untuk cara bermainnya, Gobak Sodor dimainkan oleh dua regu, dengan tiap regu terdiri dari tiga hingga lima orang. Kedua regu tersebut akan bermain di sebuah lapangan berbentuk persegi panjang yang dibagi menjadi beberapa wilayah kotak, dengan ditandai batas garis di tanah. Kedua regu memiliki tugas masing-masing, seperti regu pertama bertugas sebagai penjaga garis agar tidak dilewati regu penyerang. Sebaliknya, regu kedua bertugas sebagai penyerang dengan berusaha melewati setiap batas baris tanpa tersentuh oleh regu penjaga.

Gobak Sodor juga tercatat memiliki beberapa manfaat untuk dimainkan. Dilansir dari laman hellosehat.com, olahraga ini bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam melewati setiap rintangan permainan, melatih kerja sama tim untuk mencapai kemenangan, melatih kepemimpinan dalam menyusun strategi, serta melatih tanggung jawab dalam menjalankan peran di permainan. Selain itu, olahraga ini juga bermanfaat untuk kesehatan karena dituntut untuk bergerak lebih aktif dengan lebih lincah.

Melansir dari referensi.data.kemendikdasmen.go.id, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menetapkan Gobak Sodor sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh dua daerah di Indonesia. Pada tahun 2013, olahraga tradisional ini ditetapkan sebagai warisan budaya Jawa Tengah. Kemudian, disusul oleh Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga mendaftarkan Gobak Sodor sebagai warisan budayanya di tahun 2022.

Penetapan dari pemerintah tersebut menjadi bukti bahwa Gobak Sodor memiliki nilai budaya yang penting untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Saat ini, beberapa sekolah dan komunitas mulai kembali mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak agar tidak kalah populer dengan permainan digital saat ini.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment