Hits: 71
Fadhilah Safa Salsabila Desky
Pijar, Medan. Atmaloka.id menggelar pertunjukan monolog dan pameran seni, sebagai upaya awal dalam menghidupkan kembali seni pertunjukan, khususnya teater di Kota Medan. Bertajuk “Bias Lampu Kota”, kegiatan ini diselenggarakan di Taman Budaya Medan, pada Sabtu (7/2/2026).
Pertunjukan ini merupakan garapan perdana Atmaloka yang berkolaborasi dengan Medan Teater. Selain menampilkan pertunjukan monolog, acara tersebut juga menghadirkan pameran seni dengan tema yang selaras, sehingga pengunjung dapat menikmati karya pertunjukan dan visual dalam satu ruang yang sama.

(Fotografer: Fadhilah Safa Salsabila Desky)
Pimpinan Produksi Atmaloka 2026, Talitha Nabilah Ritonga, menyampaikan bahwa Atmaloka hadir sebagai medium bagi pelaku seni pertunjukan di Medan untuk menampilkan karya kepada publik, sekaligus memperluas jangkauan penonton. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi teater di Medan yang dinilai masih minim perhatian.
“Kalau berdasarkan fenomenanya yang kita lihat, seni pertunjukan di Kota Medan itu masih sepi, jalan yang sunyi. Jadi, Atmaloka punya visi, punya tujuan, punya mimpi untuk meningkatkan seni pertunjukan di Kota Medan,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam penyelenggaraan pertunjukan teater saat ini adalah menjangkau generasi muda. Berdasarkan survei internal tim, minat anak muda terhadap teater dinilai masih ada, tetapi informasi mengenai pementasan belum tersebar secara luas.
“Anak-anak muda sebenarnya masih banyak yang mau nonton teater, tetapi mereka tidak tahu mau nontonnya di mana. Makanya, Atmaloka hadir untuk itu,” jelasnya.
Sebagai bentuk dari upaya tersebut, Atmaloka menghadirkan monolog “Bias Lampu Kota” yang disutradarai Ahmad Munawar Lubis dan diperankan oleh Aucintia. Pertunjukan ini mengangkat potret kehidupan perempuan di ruang perkotaan melalui berbagai karakter yang ditampilkan dalam satu panggung.
Salah satu penonton, Yunawidita Candrika Putri, menilai pertunjukan tersebut mampu menghadirkan pengalaman yang menyentuh dan menghibur. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar agar pegiat seni di Medan semakin dikenal.
“Aku harap pegiat-pegiat seni di Kota Medan itu bisa dikenal lagi dan lebih gencar lagi. Karena dulu, dunia seni di Medan itu ramai, sekarang kenapa pada nggak begitu kelihatan? Jadi, aku harap semoga semakin banyak digelarnya pertunjukan-pertunjukan seperti ini lagi,” ujarnya.
Melalui penyelenggaraan monolog dan pameran seni, Atmaloka menandai komitmennya dalam menghadirkan ruang ekspresi bagi pegiat seni di Medan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mereka untuk kembali menarik perhatian publik terhadap seni pertunjukan yang dinilai mulai kehilangan panggungnya. Pihak Atmaloka juga mengharapkan pertunjukan ini menjadi awal dari agenda-agenda seni yang serupa ke depannya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

