Hits: 19
Reporter Pijar
Pijar, Medan. Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) bekerjasama dengan ABCID Australia menggelar loka karya (workshop) dengan tajuk “Stop Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO) untuk Jurnalis Perempuan”. Loka karya dilaksanakan beserta pameran foto yang bertemakan “Pemberdayaan Perempuan: ‘We Work Too’” di Hotel Grandhika Medan pada 22-23 Maret 2023.
Loka karya dengan total 16 peserta ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan KGBO dan keamanan digital. Kegiatan ini menghadirkan Devi Asmarani, Pemimpin Redaksi Magdalene.co dan Aseanty Pahlevi, Kepala Divisi Kesetaraan dan Inklusi SAFEnet sebagai pematerinya.
Hari pertama loka karya dibawakan oleh Devi yang menjelaskan mengenai dasar-dasar dari KBGO itu sendiri. Ia mengatakan KGBO tidak memiliki perbedaan yang jauh dengan kekerasan berbasis gender di dunia nyata, hanya saja KGBO terjadi di ranah online yang menggunakan teknologi digital sebagai mediumnya.
Berdasarkan Purple Code Collective, KGBO sendiri terbagi atas 14 jenis, antara lain: trolling, penyebaran foto dan video intim nonkonsensual (non-consensual dissemination of intimate image/ NCII), pemerasan, penguntitan (online stalking), pengawasan dengan bantuan teknologi (tech-enabled surveillance), penyebaran informasi personal (doxing), menyebarluaskan identitas gender atau preferensi seksual orang lain (outing), impersonasi, peretasan, pornografi, manipulasi foto dan video, honey trap, pornografi anak online, serta cyber grooming.
Para peserta workshop KGBO melakukan Focus Group Discussion (FGD) pada Jumat (22/03/2023)
Sumber Foto: Dokumentasi Panitia (FJPI)
Kegiatan disertai dengan focus group discussion (FGD), di mana para peserta membentuk kelompok untuk membahas studi kasus mengenai KBGO yang diberikan dan mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masing-masing.
Hari kedua membahas tentang pentingnya menjaga keamanan digital untuk meminimalisir terjadinya KGBO yang dibawakan oleh Aseanty. Ia menyampaikan bahwa loka karya ini dinilai bagus karena dapat memperkuat jurnalis perempuan dan aktivis jika mendapat ancaman dan serangan ketidakamanan digital.
“Penting sekali perempuan melaporkan apa yang terjadi, apalagi perempuan merupakan korban terbanyak dalam kasus kekerasan berbasis gender online,” ujarnya.
Ketika ditanya terkait masih banyaknya KGBO saat ini, ia menanggapi bahwa inilah yang menjadi tantangan semua pihak, termasuk pemerintah.
“Sebenarnya sudah ada peranan pemerintah yakni dengan adanya payung hukum diantara UU Perlindungan Anak dan Perempuan dan UU ITE. Namun, yang menjadi masalah bagaimana UU itu bisa melindungi kita sebagai warga negara, karena menurut saya ada juga UU itu digunakan untuk menyerang balik aktivis dan jurnalis,” katanya lagi.
Nurni Sulaiman selaku Ketua FJPI Sumut, mengatakan harapannya setelah terselenggaranya kegiatan loka karya KGBO ini.
“Harapannya kita, ya, 16 peserta ini menjadi agen untuk KGBO. Menginformasikan juga, menyebarkan bagaimana kita bisa terpapar oleh KGBO itu, dimulai dari lingkungan terkecil pun gapapa, seperti keluarga, tetangga, begitu,” jelasnya.
Lewat adanya kegiatan ini, para jurnalis maupun aktivis dapat menekan ancaman dan serangan terhadap keamanan digital. Loka karya KGBO dari FJPI Indonesia ini juga akan diadakan di beberapa kota, yakni Surabaya, Pontianak, Malang, Manado, dan Sorong.
(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

