Hits: 2

Ghina Raudhatul Jannah

Pijar, Medan. Akhir bulan telah tiba, gaji belum juga masuk, tetapi keranjang belanja di aplikasi e-commerce sudah penuh. Ada pesanan makan siang, sepasang sepatu yang beberapa hari lalu hanya dilihat-lihat, hingga produk perawatan wajah yang baru saja masuk keranjang belanja. Cukup dengan satu ketukan pada pilihan “Bayar Nanti”, semuanya bisa dibeli tanpa harus mengeluarkan uang saat itu juga.

Pemandangan seperti ini bukan lagi hal yang asing. Paylater atau layanan “Beli Sekarang Bayar Belakangan” semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Kehadirannya bahkan sudah menjadi salah satu pilihan metode pembayaran di berbagai aplikasi belanja dan layanan digital. Tanpa perlu menunggu uang tersedia, pengguna bisa menyelesaikan transaksi hanya dengan beberapa kali klik.

Salah satu alasan Paylater begitu diminati adalah proses penggunaannya yang mudah. Pendaftaran umumnya hanya memerlukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan swafoto. Setelah melalui proses verifikasi, pengguna bisa mendapatkan limit untuk bertransaksi. Tidak perlu datang ke bank, menyiapkan slip gaji, ataupun memiliki kartu kredit. Bagi anak muda, terutama mahasiswa dan pekerja yang baru memulai karier, layanan ini menjadi cara praktis untuk memenuhi keinginan berbelanja meskipun uang belum tersedia.

Kemudahan tersebut perlahan mengubah kebiasaan seseorang dalam berbelanja. Jika sebelumnya seseorang perlu mempertimbangkan kondisi keuangan sebelum membeli sesuatu, kini keputusan belanja bisa diambil lebih cepat karena pembayaran dapat ditunda. Barang yang awalnya hanya ingin dilihat-lihat akhirnya dibeli karena merasa belum perlu mengeluarkan uang saat itu juga.

Penggunaan Paylater pun semakin beragam. Bukan hanya untuk membeli barang dengan harga mahal, layanan ini juga sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari membayar ongkos ojek online, membeli kopi sore, mengisi ulang gim, hingga memesan makanan. Karena nominalnya relatif kecil, transaksi semacam ini sering kali tidak terasa seperti sedang berutang. Padahal, jika dilakukan berulang kali, pengeluaran kecil tersebut bisa menumpuk menjadi tagihan yang cukup besar.

Kebiasaan ini semakin sulit dikendalikan ketika berbagai promosi ikut ditawarkan. Cashback, gratis ongkos kirim, hingga diskon khusus pengguna Paylater sering kali menjadi alasan untuk melakukan transaksi. Penawaran cicilan nol persen untuk tenor tertentu juga memberikan kesan bahwa berbelanja dengan Paylater tidak membutuhkan biaya tambahan. Akibatnya, seseorang bisa membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena merasa sayang melewatkan promo yang tersedia.

Jika terus dilakukan, kebiasaan berbelanja karena tergiur berbagai penawaran tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang Paylater. Layanan yang awalnya digunakan sebagai alternatif pembayaran perlahan dianggap sebagai sumber dana tambahan untuk memenuhi keinginan belanja. Limit yang bertambah justru dipandang sebagai kesempatan untuk berbelanja lebih banyak. Kebiasaan tersebut membuat seseorang semakin bergantung pada pembayaran tertunda dan kesulitan mengatur pengeluaran sendiri.

Risikonya pun tidak berhenti pada tagihan bulanan. Keterlambatan pembayaran dapat menimbulkan denda dan memengaruhi riwayat kredit pengguna. Catatan tersebut bisa menjadi pertimbangan ketika seseorang mengajukan pembiayaan lain di kemudian hari, seperti kredit kendaraan atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup sesaat akhirnya bisa berdampak pada kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Karena itu, hal sederhana yang perlu mulai dibiasakan adalah memberi jeda sebelum bertransaksi. Tidak semua barang yang menarik di keranjang belanja harus langsung dibeli. Ada baiknya mempertimbangkan kembali apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat karena tergiur diskon. Selain itu, penting untuk menghitung kemampuan finansial sebelum menggunakan Paylater, termasuk memastikan penghasilan berikutnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar tagihan.

Paylater memang memudahkan seseorang untuk berbelanja, terutama saat uang belum tersedia.  Namun, kemudahan tersebut juga bisa membuat batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur. Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata terletak pada layanan Paylater, melainkan bagaimana seseorang menggunakannya. Sebab, kebiasaan belanja yang sulit dikendalikan bisa dimulai dari keputusan kecil yang terus diulang. Pembayaran boleh ditunda, tetapi tanggung jawab tetap harus dipenuhi.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment