Hits: 3
Hetno Daniaty Br Singarimbun
Pijar, Medan. Budaya belanja online sangat diminati masyarakat. Sekarang banyak dari marketplace yang memperbarui fiturnya, di mana yang paling menarik adalah paylater. Paylater merupakan cara membayar cicilan mudah, cepat dan praktis yang disediakan oleh marketplace dan bisa dikatakan mirip dengan kartu kredit. Bedanya playlater menggunakan ponsel, sehingga langsung terhubung dengan nomor ponsel, submit foto dengan selfie memegang KTP, setelah itu tinggal hitungan menit langsung diproses oleh pihak marketplace.
Berbeda dengan kartu kredit dimana masih dalam mode konvensional. Harus mendaftar ke bank terlebih dahulu dan mungkin akan menunggu waktu yang lama. Hal ini menjadi fenomena sangat menarik. Paylater bisa membeli berbagai kebutuhan sehari-hari, alat elektronik, pakaian, makanan, dan bayar transformasi, bahkan bisa juga untuk liburan. Sesuai dengan namanya ‘beli sekarang dan bayar nanti’. Paylater memiliki sisi negatif dan positifnya. Dari sisi positif, memudahkan konsumen dalam berbelanja dan lebih fleksibel.
Sedangkan dari sisi negatifnya, dengan kemudahan tersebut berpotensi mendorong prilaku konsumtif dan pembelian implusif. Melihat bagaimana paylater memengaruhi gaya hidup kebiasaaan belanja, serta cara anak muda mengelola keuangan di tengah maraknya transaksi digital. Paylater di kalangan anak muda memang menjadi pisau bermata dua. Memberikan akses keuangan sekaligus berisiko menjebak dalam siklus utang. Fenomena ini memicu gaya hidup anak muda menjadi lebih konsumtif (You Only Live Once).
Takut ketinggalan tren memicu anak muda menggunakan paylater. Sehingga sering di gunakan dengan gengsi sesaat untuk memenuhi gaya, seperti dalam membeli tiket konser dan fashion. Sistem cicilan ringan ini akhirnya menciptakan ilusi perasaan mampu dan membuat barang mahal terasa murah dan terjangkau. Kondisi ini memicu tidak terkotrolnya membeli barang. Dikarenakan tidak mengunakan uang berbentuk fisik dari dompet. Sehingga tidak ada rasa penyesalan dalam membeli barang.
Kemudahan fitur sekali klik membuat anak muda terjebak dalam pembelian impulsif demi kepuasan instan tanpa mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Dampak ini sangat fatal bagi anak mudan dalam manajemen keuangan. Sehingga kondisi ini para anak muda akan terjebak dalam lingkaran setan, yakni gali lubang dan tutup lubang kembali. Ironisnya mereka tidak sadar bahwa keterlambatan atau gagal bayar, sekecil apa pun akan merusak skor kredit mereka di Sistem Layanan Informasi Keuangan yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan. (SLIK OJK).
Akibat kecerobohan ini, peluang mereka di masa depan untuk mengakses produk perbankan krusial seperti KPR rumah atau modal usaha bisa tertutup rapat. Menghadapi gempuran digital ini, anak muda harus membangun kuat benteng pertahanan diri dan harus tegas terhadap diri sendiri. Ketika belanja haruslah membeli barang yang hanya sesuai kebutuhan dan kemampuan diri saja. Sehingga paylater hanya digunakan ketika keadaan mendesak saja, tetapi juga bisa menjadi boomerang yang menghancurkan masa depan.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

