Hits: 27

Tengku Rayya / Ferdi Rakiven Sianturi

Pijar, Medan. Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI adalah sebuah peristiwa yang ditandai sebagai momen untuk mengingat perjuangan para pahlawan yang gugur pada peristiwa kelam tersebut. Peristiwa ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dipimpin oleh D.N Aidit selaku Ketua PKI dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Soekarno dan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis.

Momen bersejarah yang paling dikenal dari gerakan ini adalah peristiwa Lubang Buaya, sebuah pemberontakan yang meninggalkan catatan kelam bagi sejarah bangsa Indonesia. Pada momen tersebut, enam jenderal dan satu perwira yang berasal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) turut menjadi korban yang gugur.  Kini ketujuh orang tersebut dikenal sebagai tujuh (7) Pahlawan Revolusi.

Hingga saat ini, masih banyak perdebatan tentang kebenaran di balik peristiwa kelam tersebut. Dilansir dari ganto.co, fakta menarik tentang G30S/PKI adalah gerakan ini menargetkan enam jenderal senior yang ada di TNI AD, tetapi terdapat sebuah kejanggalan karena Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu memimpin Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), malah tidak dijadikan target. Ini menjadi dasar kecurigaan bahwa Soeharto dan kelompoknya kemungkinan terlibat dalam gerakan ini guna mendapatkan kekuasaan.

Setelah peristiwa G30S/PKI terjadi, Soeharto berhasil mengendalikan situasi dan menetapkan PKI sebagai dalang utama di balik peristiwa pemberontakan ini. Pemerintah kemudian membuat propaganda anti-komunis baik melalui pendidikan, media, hingga film berjudul “Pengkhianatan G30S/PKI” untuk memengaruhi pandangan publik terhadap peristiwa bersejarah ini. Akan tetapi, film yang menggambarkan kekejaman PKI ini kemudian juga mendapatkan kecaman karena dianggap tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Dikutip dari kompas.com, Sri Margana, pakar sejarah dari Universitas Gadjah Mada (UGM),  menilai bahwa  film G30S/PKI adalah film yang cacat akan fakta. Hal tersebut ia sampaikan berdasarkan pengakuan sutradara dari film tersebut serta bukti-bukti yang tidak pernah ada sebelumnya.

“Film ini terbukti cacat fakta yang sudah diakui oleh sutradaranya sendiri. Misalnya, soal penyiksaan para jenderal sebelum dimasukkan di Lubang Buaya itu terbukti dari arsip-arsip visum tidak ada,” ungkapnya.

Dikutip dari ganto.co, dijelaskan bahwasanya terdapat 500.000 hingga 1 juta orang tewas dikarenakan pembantaian massal terhadap anggota PKI dan orang-orang yang dianggap sebagai bagian dari komunis. Banyak yang dipenjara tanpa proses pengadilan yang jelas, karena pembantaian ini juga digunakan untuk menyingkirkan lawan-lawan politik. Bahkan setelah Soeharto turun pada 1998, stigma ini tidak juga menghilang. PKI tetap menjadi topik yang sensitif di Indonesia.

Sri Margana menambahkan bahwa G30S/PKI memang harus dijadikan peristiwa bersejarah dan dijadikan pembelajaran, tetapi bukan untuk mewariskan dendam.

“Yang mengerikan itu hendak diwariskan pada semuanya yang tidak berkaitan dengan masalah itu. Jadi jangan wariskan dendam,” tambah Sri Margana.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment