Hits: 9
Yudika Phareta Simorangkir
Tim Learnix, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), menggelar sosialisasi pada siswa/i kelas VII, SMP Negeri 7 Medan yang berlokasi di Jalan H. Adam Malik No. 12, Silalas, kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Sumatra Utara, pada Rabu (13/5/2026).
Bertajuk “Jejak Digital: Bijak Berbagi, Waspada Phising”, kegiatan ini berfokus pada edukasi terkait pentingnya menjaga dan memahami dampak dari jejak digital sejak dini, serta tip menghindari pengelabuan (phishing) di tengah gempuran kejahatan siber masa kini. Kegiatan ini merupakan realisasi dari mata kuliah Literasi Media Digital (LMD) yang menjadi acuan dalam pelaksanaannya.
Latar belakang dari pemilihan “Jejak Digital: Bijak Berbagi, Waspada Phising”, diawali karena peningkatan pengguna internet dan media sosial di kalangan remaja dengan kesadaran akan dampak digital yang masih sangat minim. Adanya rekam jejak dari setiap aktivitas digital menjadi peluang timbulnya berbagai kejahatan siber, salah satunya phishing, apabila pengguna tidak bijak menggunakannya.
Deasy Glorya Situmorang, selaku Ketua Pelaksana Tim Learnix, menyatakan bahwa topik ini sangat penting untuk disampaikan. Pasalnya, setiap aktivitas digital akan meninggalkan rekam jejak yang berpengaruh terhadap masa depan seseorang.
“Kesadaran mengenai dampak dari jejak digital dan ancaman phishing perlu ditingkatkan. Setiap aktivitas di dunia digital meninggalkan rekam jejak yang dapat memengaruhi masa depan seseorang, sehingga penting bagi siswa untuk memahami cara menjaga privasi dan keamanan data pribadi mereka,” jelasnya.
Kegiatan ini diisi oleh berbagai rangkaian acara yang edukatif dan menarik, seperti sesi pemaparan materi, tanya jawab, kuis, hingga permainan. Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai jejak digital, mulai dari bijak dalam menyebarkan informasi atau data pribadi di media sosial, dampak negatif dari jejak digital yang buruk, cara menjaga jejak digital sejak dini, mengetahui pola-pola phishing, hingga cara menghindarinya.
Bukan hanya itu, peserta disuguhi langkah-langkah dalam melindungi data pribadi. Mereka juga didorong untuk memahami dan menganalisa langsung melalui kasus-kasus phishing yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
Master of Ceremony (MC) sekaligus salah satu pemateri, Rakhel Claudia Putri Hulu, mengatakan bahwa setiap subtopik materi disusun sedemikian rupa agar bisa dipahami dan diterima dengan baik oleh peserta. Menurutnya, memberikan edukasi seperti ini sangat relevan dengan usia remaja yang labil dan belum memiliki kematangan emosional.
“Materi ini sangat relevan untuk usia anak SMP yang berada di fase transisi. Mereka umumnya sudah sangat aktif secara digital, tetapi kematangan emosional dan logika risikonya masih dalam tahap perkembangan. Mereka cenderung mengunggah apa saja demi tren, likes, atau sekadar FOMO tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang,” ujarnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

