Hits: 117
Siti Farrah Aini
Barangkali puisi yang pernah ditulis oleh Sapardi Djoko Damono bertajuk Hujan Bulan Juni, bukan Januari. Merupakan puisi romantis yang melankolis, rindu yang sengaja disembunyikan, dan luka yang hadir dengan emosional.
Tidak, aku sedang tidak salah judul. Tidak juga sedang menuangkan isi puisi pujangga tanah air itu. Mari kumulai kisahku sendiri, tentang bagaimana hujan turun di bulan yang kudambakan hadirnya sekaligus mengubah hidupku.
–
Bandung, 20 Januari 2016.
Hujan mengguyur Bandung dengan deras. Tetesan air itu menembus langit, jatuh ke bumi, dan memecah kepadatan tanah. Tampak lebih jelas dari jendela-jendela kafe yang mulai menampilkan tetesan air yang bertambah banyak. Sepertinya, langit pun seakan merestui niatku saat ini, niat untuk memutus hal yang tak akan bertahan.
“Dit, kita sampai di sini aja, ya?” ujarku dengan sangat tenang, bahkan menyempatkan untuk meneguk smoothies yang bersanding dengan americano di meja.
Lelaki di hadapanku, Radit, menegakkan kepalanya. “Maksudnya, Ra?”
“Kita udah sahabatan sejak SMA, Dit, tetapi aku tahu kamu udah anggap hubungan ini lebih dari itu. Sebelum kamu mulai, aku mau kita berakhir sampai sini, ya?”
Radit menggeleng kuat. “Hari ini aku udah berniat buat ajak kamu ke hubungan yang serius, Ra. Kenapa tiba-tiba? Kasih aku kesempatan buat menjelaskan dan kamu udah sepatutnya buat menjelaskan juga ke aku.”
Aku terdiam, tetapi dengan cepat ikut menggeleng. “Nanti kamu ngerti, Dit. Maaf, aku jadi menyia-nyiakan waktu kamu dengan kita datang ke kafe ini. Aku-“
“Enggak, Ra. Aku enggak lagi pengen dengar kata ‘maaf’ dari kamu. Aku enggak ngerti kalau kamu malah nyuruh aku buat berusaha mengerti, Ra. Tolong, jelasin ke aku, ya? Apa karena kamu ngerasa aku terus gantung kamu? Kenapa, Ra?” potong Radit dengan mengenggam tanganku.
Perlahan kulepas tautan tanganku dengan Radit. “Maaf, Dit. Aku pamit, ya.”
Aku bangkit dari kursi, cepat-cepat menghilang dari pandangan Radit. Aku tak lagi memedulikan hujan yang turun dengan deras sore itu. Kudengar samar-samar Radit memanggil namaku, tetapi kakiku enggan berhenti dan terus berlari. Sepertinya, tetes air hujan mulai membasahi pipiku.
Padahal hari ini ulang tahunku, tetapi untuk kali ini saja aku ingin menghapus tanggal 20 Januari itu dari kalender.
–
Bandung, 19 Januari 2021.
Arlojiku menunjukkan pukul lima sore. Beberapa rekan kerjaku mulai berangsur mengosongkan isi kantor. Hanya aku dan beberapa desainer grafis lain yang masih berkutat dengan gawai masing-masing.
“Eh, aku mau order kopi, nih. Kalian mau order juga, enggak?” tanya Cinta, salah satu rekan se-timku. Cinta juga menjadi teman dekatku di kantor ini.
Berangsur-angsur yang tertinggal di ruangan itu langsung menyebutkan pesanannya. Wajar saja, bagi kami, kopi adalah keharusan.
“Aku americano aja, Cin,” ujarku.
“Heran, kamu udah minum americano tiga kali dalam minggu ini, Ra. Mungkin juga sepuluh kali dalam hampir sebulan. Awas sakit perut,” tanggap Cinta.
Aku tergelak dan menghiraukan ucapan Cinta, sementara ia langsung memproses semua pesanan. Iya juga, kenapa aku jadi suka americano?
Tepat 25 menit kemudian, Cinta kembali ke ruangan dengan membawa sebungkus pesanan kopi. Aku mengambil milikku dan duduk kembali ke kursi kerja. Ah, tetapi rasanya penat untuk terus menatap layar. Aku juga sudah melewatkan jam makan siang.
“Eh, mau ke mana, Ra? Ikut, dong. Kayaknya kalau lanjut kerja, saraf-sarafku lepas, deh,” ujar Cinta yang melihatku beranjak dari kursi.
Aku tertawa mendengar celetukannya. “Aku mau ke kantin sebentar. Lupa banget belum makan siang.”
“Astaga, Ra. Ya udah buruan ganjal perut, ya. Nanti kalau mau balik, kabarin aku biar kita pulang bareng,” ujar Cinta, “Kamu mau aku temani?”
Aku menggeleng pelan. “Enggak usah, Cin. Mending kelarin dulu kerjaan kamu, perasaan dari siang enggak selesai-selesai. Nanti kamu diteror Kak Jia, loh.”
Cinta sedikit menggerutu di kursinya, tetapi juga mengiyakan dan menyunggingkan senyumnya. Jujur saja, ia paling mengerti tentangku.
Aku menuruni tangga dan menyusuri kantor yang semakin sepi. Di lantai satu, tersisa beberapa staf di bidang lain yang bekerja dengan gawainya. Perlahan, aku berjalan menuju kantin yang terletak di belakang gedung kantor, membeli roti isi kacang untuk menemani americano yang berbanding terbalik rasanya.
Sesaat aku melihat langit yang sepertinya tampak lebih berwarna hari ini. Mungkin karena aku jarang keluar waktu sore hari, ya? Kuurungkan niatku untuk cepat kembali ke ruangan. Pasti Cinta akan menggerutu karena menunggu lama, tetapi sudahlah, bisa kujelaskan nanti.
Hanya ada dua bangku panjang yang saling berhadapan di dekat kantin. Di sekelilingnya, ada lahan kecil yang ditanami bunga. Aku duduk di salah satu bangku itu. Sedikit menenangkan karena tak ada siapa pun di sini selain Mas Cakra, sang petugas kebersihan, yang sedang membabat rumput-rumput panjang. Aku dan Mas Cakra tergolong sangat dekat lantaran selalu menjadi penghuni terakhir kantor.
Sepertinya Mas Cakra menyadari kehadiranku. Ia mendekat dan mencoba untuk duduk di sampingku. “Mbak, itu rotinya dimakan. Sayang kalau udah dibeli tahu-tahu yang dilihat cuma langit, doang.”
Aku terkesiap dari lamunanku dan memandang Mas Cakra dengan tatapan kaget. “Ya ampun, Mas. Aku kaget, loh.”
Mas Cakra tertawa kecil. “Makanya diisi perutnya, Mbak. Kebanyakan melamun nanti kerasukan, loh. Mbak enggak tahu banyak korban kerasukan di sini?”
“Yang bener?” tanggapku sambil melongo.
“Aku bercanda, Mbak. Monggo, makan dulu,” kata Mas Cakra sembari mengatur posisi duduknya.
Ah, dia bercanda rupanya. Dengan nikmat, aku melahap roti dan meneguk kopi secara bergantian. Sementara itu, Mas Cakra memandangi langit yang… tunggu, tiba-tiba gelap? Padahal, sebelumnya cerah.
“Aduh, Mbak. Kayaknya mau hujan, monggo kita duduk di dalam kantin aja, Mbak.”
Baru saja ingin kunikmati roti dan kopi ini dengan memandangi langit yang indah. Dengan langkah lemas, kuikuti Mas Cakra dan mengambil salah satu tempat duduk paling dekat dengan pintu kantin. Benar saja, hujan turun dengan sangat deras.
“Kalau hujan begini, jadi teringat masa kecil ya, Mbak. Dulu aku hobinya mandi hujan, terus beli es krim di warung. Alhasil, besoknya langsung demam plus pilek,” cerita Mas Cakra.
“Kalau gitu kenapa harus beli es krim, Mas? Pasti langsung sakit, lah,” timpalku sambil menggelengkan kepala.
Mas Cakra tertawa mendengarku. “Es krim itu paling enak kalau dimakan hujan-hujan, Mbak. Dingin-dingin, gitu. Masa Mbak enggak punya kenangan sama hujan waktu kecil?”
Aku sedikit terdiam. Rasanya, hujan ini mengingatkanku tentang hal yang tak bisa kusampaikan.
“Apa, ya? Dulu aku lomba siapa yang paling ngebut naik sepeda sama… sahabatku waktu kecil,” ujarku.
“Nah, itu, Mbak. Aku tebak sahabat Mbak itu, Mbak Cinta, ya?”
Aku menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. “Bukan, Mas. Kami udah lama enggak berkomunikasi lagi, Mas.”
“Oh… maaf, yo, Mbak. Aku ndak tahu. Kalau aku boleh tahu, Mbak sama temannya ada permasalahan apa, Mbak?” tanya Mas Cakra dengan hati-hati, “Kalau Mbak berkenan untuk cerita, monggo, Mbak.”
Aku menarik napas perlahan dan berusaha mengingat dengan baik.
“Dulu aku terpuruk banget, Mas. Lima tahun lalu, ayahku diberhentikan dari pekerjaannya. Keluargaku cukup banyak menjual barang dan pindah ke rumah yang lebih kecil untuk meminimalisir pengeluaran. Saat itu, aku masih kerja di kantor yang lama, tapi aku juga gegabah. Pikiranku tentang kondisi keluarga membuat aku enggak fokus dengan kerjaan, padahal waktu itu aku punya kesempatan untuk ditempatkan di kantor pusat. Aku banyak blunder yang berujung dengan… diberhentikan dari pekerjaan juga.”
Mas Cakra masih mendengarkan ceritaku dengan saksama. Aku melanjutkan ceritaku lagi. “Nama sahabatku itu, Radit. Aku dan dia janji untuk sama-sama menggapai mimpi kami. Aku bermimpi buat kerja di media besar dan Radit pengen jadi programmer, tapi aku enggak bisa menepati janji itu karena dalam satu waktu Tuhan memutar kehidupanku sepenuhnya. Aku enggak punya pekerjaan dan hidupku harus dimulai dari nol. Sementara itu, Radit yang saat itu adalah dosen ilmu komputer yang sedang sering melakukan penelitian ke luar negeri. Dia dekat dengan mimpinya.”
“Hari itu, hujan persis seperti saat ini, Mas. Di momen itu, Radit pengen ajak aku ke hubungan yang lebih serius,” jedaku sebentar, “Sayangnya, aku tolak sebelum dia sempat mengutarakannya. Saat itu, aku enggak pernah kasih tahu Radit soal segudang masalah yang kumiliki. Karena aku tahu bahwa aku enggak bisa bersama dia dengan keadaan yang seperti itu, Mas. Apa yang bisa kujanjikan dengan semua yang ia akan janjikan untuk aku?”
Ceritaku selesai seiring dengan hujan yang bertambah deras. “Aku udah ninggalin Radit tanpa sepeser penjelasan pun. Aku jahat, ya, Mas?”
Mas Cakra yang sedari tadi terdiam mendengar kisahku itu membetulkan posisi duduknya. “Yang Mbak lakukan itu untuk menyetarakan posisi Mbak dengan Mas Radit. Bukan orang yang jahat, karena aku mengerti kalau Mbak tentu ingin memiliki nilai diri, tapi kalau Mbak tanya aku sebagai Mas Radit, aku bakal bingung kalau ditinggal tiba-tiba, Mbak. Mungkin kalau Mbak mau mencoba untuk kasih tahu, Mas Radit enggak bakal mempermasalahkan kondisi Mbak.”
“Aku enggak pernah tahu bakal seperti apa reaksinya, Mas. Setelah kejadian itu, aku memang berusaha untuk berdamai dan mencari pekerjaan, tapi apa yang bisa diharapkan dari aku yang sudah hancur dunianya?” tanggapku dengan menundukkan kepala.
“Mbak, abangku pernah bilang kalau dunia seseorang itu hancur kala dia enggak tahu lagi tujuan hidup dan hidupnya saat itu. Hari ini, Mbak kerja di perusahaan ini dan mau untuk menceritakan masa sulit itu. Bagiku, Mbak sudah mendapatkan kembali dunianya, hanya sedikit berbelok arah saja.”
Aku terdiam mendengarkan Mas Cakra. Lantas, ia melihat ke arah hujan yang perlahan berhenti. “Dulu, Mbak pengen bekerja di media besar, tapi mungkin Tuhan sedang menunjukkan skenario-Nya. Mbak merasa itu satu-satunya mimpi yang harus dicapai, tapi mungkin Mbak belum merasakan mimpi yang lain, yang belum pernah Mbak niatkan untuk dicapai. Misalnya, jadi desainer grafis juga tidak buruk, kan, Mbak? Bukan mimpi Mbak yang pertama, tapi setidaknya Mbak selalu bahagia untuk menjalaninya.”
Mas Cakra menyunggingkan senyumnya. “Hidup itu memang Tuhan yang atur, Mbak. Tuhan juga yang bisa memutar hidup ke titik terendah atau tertinggi. Tugas kita sebagai manusia adalah selalu berusaha dan menguatkan diri di titik mana pun. Aku yakin Tuhan hanya sedang menguji dan Mbak sudah berhasil melaluinya. Jadi, jika ada kesempatan untuk dipertemukan lagi, aku harap Mbak sudah tahu untuk menghadapinya, sekali lagi.”
“Kayak hujan, Mbak. Turun di bulan Januari memang sudah musimnya, tapi kadang-kadang kalau curahnya tinggi sekali, padi jadi busuk dan petani harus tanam lagi. Mereka melewati masa gagal tanam, tapi mempersiapkan diri lagi untuk menanam kembali. Mereka mengetahui cara menghadapinya dan mengulang siklusnya dengan lebih baik.”
Aku memandang Mas Cakra yang sudah hendak berdiri. “Mbak, hujannya berhenti, tuh. Saya mau lanjut beresin rumput, Mbak mau balik lihat pemandangan?”
Dengan cepat, aku mengekori langkahnya. Ia membersihkan bangku panjang yang sempat basah sedikit dan mempersilakanku untuk duduk. Aku menyadari bahwa langit lebih indah setelah hujan sempat turun. Hujan tak selamanya membawa hal buruk, setidaknya ada yang bisa kukenang dari hari ini.
“Makasih, ya, Mas. Pikiranku jauh lebih terbuka, semoga aku bisa memenuhi yang Mas bilang, ya,” ucapku dengan tulus.
Mas Cakra mengangguk dan mengacungkan jempol. “Aku yakin Mbak bisa. Atau, Mbak mau coba sekarang?”
Dahiku berkerut tak mengerti. Mas Cakra menunjuk salah satu bangku panjang di seberang jalan. Bagian belakang kantorku ini memang langsung berhadapan dengan jalan raya. Di seberang sana, jajaran ruko berderet rapi. Terdapat bangku-bangku panjang di depan setiap ruko dan ada seseorang yang duduk di salah satunya.
“Mas itu selalu datang di tanggal dan jam yang sama selama empat tahun, Mbak. Bawa sebuket bunga dan duduk di bangku depan ruko yang sama, terus pulang ketika udah jam tujuh malam. Aku enggak tahu dia sedang nunggu siapa, tapi sepertinya aku paham setelah Mbak cerita. Mbak masuk kantor ini empat tahun yang lalu, mungkin itu orang yang sedang cari Mbak?”
Aku tahu postur duduk itu karena aku yang paling mengenalnya. Aku sedikit menunduk hormat kepada Mas Cakra, lalu menyebrangi jalan raya yang sedang lengang.
Napasku tercekat setelah tiba di seberang. “Radit?”
Ia menegakkan duduknya dan berbalik ke arahku. Tatapannya tak bisa kuartikan, sama dengan pikiranku saat ini. Tiada percakapan antara kami berdua, hanya Radit yang sesaat kemudian mendekapku dengan erat dan aku yang menangis dalam dekapannya.
–
Aku kembali melewati hujan di bulan Januari. Akan tetapi, kali ini kulewati dengan lebih baik karena aku tahu cara menghadapinya.
.

