Hits: 14

Putri Romawani Simanjuntak

 

Di bawah langit yang dulu cerah membiru,

kita melangkah diiringi desir keluh.

Awan mulai menangis tanpa jeda,

seperti bumi tak lagi mampu menahan luka.

 

Perlahan namun pasti, sungai kita terisi,

Air meluap tanpa peduli.

Membawa ingatan tentang hari-hari,

Seolah menegur manusia yang kerap lupa diri.

 

Air merayap ke halaman dan ruang,

membasahi dinding, mengguncang pondasi yang kokoh terpasang.

Tubuhnya menjelma bak raksasa tanpa batas,

menghempas apa saja yang tak sempat berpegangan tegas.

 

Mungkin Tuhan mendengar doa yang dipanjatkan,

sehingga murkanya tak dibiarkan berlarut panjang.

Biarlah peristiwa ini menjadi peringatan,

bagi manusia yang sering lupa memberi perhatian.

Leave a comment