Hits: 29
Hetno Daniaty Br Singarimbun
Sejak kecil, cita-cita Hartono sudah jelas: ia ingin masuk ke dunia hukum. Baginya, ‘keberanian itu ada di pikiran, sedangkan keadilan ada di hati’.
Prinsip itu lahir dari pengalaman pahit keluarganya. Ayahnya pernah terlibat kasus hukum dan dipenjara karena permainan orang-orang yang tak berperikemanusiaan. Di balik jeruji besi, sang ayah meninggal dunia ketika Hartono masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, Hartono hanya tinggal bersama ibunya.
Melihat keadaan hukum di negeri ini—tajam ke bawah, tumpul ke atas—Hartono semakin yakin dengan pilihannya. Ia ingin menjadi penegak hukum yang benar-benar adil.
Di sekolah, Hartono bukanlah siswa yang menonjol. Ia bukan juara kelas, tetapi memiliki naluri yang tajam dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Waktu luangnya banyak dihabiskan untuk bermain dan membaca. Ia gemar membaca apa saja—mulai dari novel, puisi, hingga karya sastra para pahlawan bangsa. Dari setiap halaman yang dibacanya, Hartono belajar tentang kasih sayang, kepekaan, dan perjuangan. Ia memahami bagaimana kata-kata mampu mengguncang nurani.
Melihat kegemarannya itu, ibunya sempat mendorongnya untuk kuliah di jurusan Bahasa Indonesia agar kelak bisa menjadi guru. Namun, Hartono menolak.
“Aku mau ambil hukum, Bu! Aku mau menegakkan keadilan, karena keadilan itu ada di dalam hati,” katanya tegas.
Ibunya terdiam. Trauma masa lalu membuat sang ibu takut kehilangan anaknya, sebagaimana dulu ia kehilangan suami. Namun akhirnya, dengan hati berat, ia merelakan sang anak menempuh jalan pilihannya.
Di bangku kuliah, Hartono tumbuh menjadi pribadi yang unik. Saat teman-temannya sibuk membaca buku pasal dan hukum, ia masih setia membawa novel dan puisi. Tak jarang ia dianggap aneh, tetapi Hartono percaya bahwa memahami rasa manusia sama pentingnya dengan memahami pasal-pasal hukum.
Setelah lulus, ia meniti karier sebagai penegak hukum. Lambat laun, namanya dikenal sebagai hakim yang adil dan peka terhadap rakyat kecil. Hartono menjadi sosok yang disegani. Namun, godaan dunia politik dan hukum begitu besar. Suap dan korupsi seakan menjadi pemandangan sehari-hari.
Awalnya, ia mampu bertahan. Tetapi perlahan, godaan itu menyeretnya juga. Hartono yang dulu berjanji menolak ketidakadilan, kini ikut hanyut dalam arus gelap korupsi.
Suatu malam, ia duduk sendiri, termenung. Hatinya gelisah. Ia merasa berdosa karena telah menindas rakyat yang dulu ingin ia bela.
“Ya Allah… betapa hinanya aku. Aku lupa bahwa keadilan bukan sekadar kata-kata, tetapi amanah,” ucapnya lirih.
Dengan hati remuk, Hartono memutuskan berhenti dari dunia yang kotor itu. Ia melanjutkan pendidikannya dan memilih menjadi dosen. Namun, rasa bersalah itu tidak pernah hilang. Seiring waktu, ia akhirnya menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya di hadapan hukum.
Sebelum menyerah, Hartono sempat berpesan kepada mahasiswa dan orang-orang muda yang masih bersih dari lingkaran hitam.
“Kalau kalian masih di luar lingkaran hitam, kalian bisa banyak bicara. Tapi kalau sudah masuk, itu tidak mudah. Jadi, perkuatlah iman kalian.”

