Hits: 50
Adinda Amelia Putri Br. Tarigan
Pijar, Medan. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Peringatan ini dilakukan untuk mengenang hari kelahiran Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.
Dilansir dari laman resmi kompas.com, Ki Hajar Dewantara telah berhasil mendirikan sebuah sekolah yang dikenal dengan Taman Siswa, di mana sekolah ini bukanlah sekadar sekolah biasa. Tempat ini didirikan sebagai bentuk nyata dari pendidikan nasional yang melawan sistem pendidikan kolonial. Pada proses pelaksanaannya, Taman Siswa berdiri tanpa bantuan dari pemerintah kolonial dan pemerintah daerah, sehingga tempat ini berjalan dengan kekuatan sendiri yang dilandasi keinginan dan semangat yang luar biasa.
Tujuan dari memperingati Hardiknas sendiri ialah untuk mengingat betapa pentingnya pendidikan berkarakter dalam kemajuan bangsa. Tema yang diusung untuk memperingati Hardiknas pada tahun ini adalah “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua”. Setiap tahunnya, Hardiknas selalu diperingati dengan melaksanakan kegiatan utama, yaitu pelaksanaan upacara yang dihadiri oleh seluruh tenaga pendidik.
Peringatan ini bukan hanya sekadar menjadi momentum seremonial saja, melainkan beriringan dengan wacana adanya perubahan besar dalam sistem pendidikan Indonesia, yaitu mengembalikan sistem penjurusan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
“Jurusan akan kita hidupkan kembali, jadi nanti akan ada jurusan IPA, IPS, dan Bahasa,” ucap Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada penyampaian nya, Mu’ti juga menjelaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) hanya akan berfokus pada mata pelajaran yang sesuai dengan minat dan kemampuan akademik peserta didik, sehingga hal ini akan menjadi landasan utama untuk mengukur kemampuan siswa secara lebih spesifik saat menuju ke perguruan tinggi.
Kebijakan ini cukup banyak mendapat dukungan dari sebagian masyarakat. Namun, di sisi lain, jika kebijakan ini direalisasikan secara tergesa-gesa tanpa persiapan yang matang, ditakutkan akan mengganggu sistem kurikulum yang sedang berjalan.
“Saya melihat wacana ini sebagai bentuk dinamika dalam dunia pendidikan kita. Pengembalian sistem kejurusan memang memiliki kelebihan, salah satunya adalah memperjelas arah minat dan bakat siswa sejak dini. Namun, jika diterapkan secara tergesa-gesa tanpa kajian mendalam dan kesiapan infrastruktur sekolah, hal ini berisiko mengganggu konsistensi kurikulum yang sedang berjalan,” ujar Maysarah Simatupang selaku Pelaksana Tugas (Plt) Kasi SMA dan PK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Sumut.
Maysarah juga menjelaskan bahwa saat kurikulum merdeka mulai diterapkan secara luas di berbagai sekolah, masih terdapat beberapa sekolah yang berada di tahap beradaptasi dengan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, masih diperlukannya evaluasi secara menyeluruh sebelum kebijakan tersebut benar-benar diterapkan. Peringatan Hardiknas tahun ini diharapkan menjadi momentum untuk kembali meninjau arah pendidikan Indonesia
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

