Hits: 137

Nabila / Nailah Yudi Permata

Pijar, Medan. Indonesia memiliki beragam jenis permainan tradisional yang menyenangkan dan tersebar di berbagai daerah. Permainan-permainan ini menjadi sarana hiburan bagi anak yang lambat laun akan terus dikenang kelak jika bertumbuh dewasa. Hingga saat ini, masih banyak anak Indonesia yang aktif memainkan permainan tradisional, tak terkecuali permainan pecah piring.

Permainan tradisional ini berasal dari suku Batak Pakpak yang berada di Provinsi Sumatra Utara, khususnya Kabupaten Pakpak Barat dan Dairi. Permainan ini juga biasa dimainkan oleh anak-anak di sore hari untuk mengisi waktu bermain mereka.

Walaupun disebut sebagai pecah piring, tetapi alat yang dijadikan “piring” dalam permainan ini bukanlah semata-mata merujuk pada piring kaca yang sebenarnya melainkan pecahan keramik bekas. Keramik yang dipecah tersebut lalu disusun tinggi layaknya menara. Semakin tinggi susunan keramiknya maka permainan akan semakin seru. Selain itu, alat lain yang juga digunakan ialah bola kasti atau tenis. Bola kasti ini berfungsi untuk melempar ataupun menghancurkan susunan keramik.

Untuk cara bermainnya sangat sederhana. Keseluruhan jumlah pemain harus genap agar bisa dibagi rata ke dalam dua kelompok sehingga dilakukanlah pemilihan kelompok yang biasanya diundi atau sesuai dengan kesepakatan para pemain.

Akan ada kelompok yang menjadi penyerang (njahat) guna menghalangi lawan untuk menyelesaikan susunan “piring” dan bertugas untuk “mematikan” lawan. Adapun kelompok yang diserang (burju) bertugas meruntuhkan susunan keramik dengan cara melempar bola kasti.

Anggota kelompok yang menjadi penyusun dan pemecah “piring” secara bergantian akan melempar bola ke arah susunan keramik melalui garis batas yang ditentukan. Jika susunannya runtuh maka kelompok burju harus langsung berlari menghindari bola yang dilempar oleh tim penyerang dan berusaha menyusun kembali kepingan “piring”.

Bersamaan dengan serangan bola yang dilontarkan, tim pelempar yang berhasil memecahkan dan menyusun kembali susunan “piring” tersebut akan dinyatakan memenangkan permainan. Namun, menyusun kembali reruntuhan “piring” bukan hal yang mudah karena mereka harus selalu fokus dan berjaga-jaga agar tidak sampai terkena bola.

Oleh karena itu, jika tim pemecah telah habis “dimatikan” oleh tim lawan maka posisi antarkedua tim pun akan saling berganti. Hal ini juga berlaku apabila sedari awal tidak ada yang berhasil memecahkan susunan maka akan terjadi pergantian posisi di mana kelompok lainlah yang akan menjadi penyusun dan pemecah.

Permainan ini juga memiliki peraturan yang harus ditaati agar kedua tim dapat bermain dengan sportif, yaitu dengan diberlakukannya peraturan tetap dan tambahan. Peraturan tetapnya ialah tidak boleh memegang bola dengan tangan (bagi tim yang diserang) dan tidak diperbolehkan berlari jauh dari batas lapangan.

Sedangkan, untuk peraturan tambahannya ialah tidak boleh menendang bola. Bagian tubuh yang boleh terkena bola hanyalah bagian pinggang hingga kepala saja. Selain itu, jika jumlah pemainnya banyak maka batas lapangan juga bisa diperluas.

Permainan ini cukup menguras banyak energi sehingga mampu menambah kelincahan gerak, daya tahan tubuh, kerja sama tim, kontrol emosi, kesehatan, dan memacu daya pikir. Hal ini disebabkan menyusun strategi untuk mengelakkan lemparan, menyusun keramik, dan menargetkan lawan membutuhkan keseimbangan yang baik dalam fokus, kegesitan, kerja sama tim, serta kejujuran.

Sayangnya, dalam permainan ini sering terjadi kecurangan. Salah satunya dengan menyembunyikan kepingan keramik sehingga menjadi sedikit dan mudah disusun. Adapun yang sebenarnya sudah “dimatikan”, tetapi tetap membantu menyusun kepingan keramik.

Di balik itu, permainan pecah piring ini selalu digemari bahkan hingga dijadikan perlombaan rakyat bagi anak-anak di festival nasional, seperti pada perayaan Kemerdekaan Indonesia. Hal ini ditujukan agar terbangunnya semangat anak-anak dalam menjunjung tinggi persaudaraan. Selain itu, permainan ini tidak memiliki batasan usia sehingga semua kalangan dapat memainkannya.

Namun, saat ini, pecah piring tidak lagi populer di kalangan anak-anak. Seiring berkembangnya teknologi, banyak anak zaman sekarang yang memilih bermain game online dengan segala kemudahannya daripada bersosialisasi di luar rumah bersama teman-teman di dunia nyata.  Hal ini membuat pecah piring tergeser posisinya sebagai permainan anak-anak.

Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran untuk melestarikan permainan tradisional. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah dengan mengenalkan dan mengajak anak-anak generasi saat ini untuk saling bercengkerama serta bermain permainan tradisional bersama.

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

Leave a comment