Hidayat Sikumbang

 

Pernahkah kau membenci angin?

Yang melipir begitu saja tanpa menghadirkan bentuk

Yang berhembus tatkala lembayung menepi di suatu ufuk

Membuat ombak pun melantunkan suara yang mendayu

 

Burung di angkasa ikut menari

Melafalkan jatuh cinta di angkasa

Berkicau-kicau menyampaikan suatu renjana

Tapi pernahkah ia membenci angin?

 

Kita beraksa dalam karsa

Alunan dersik membuat raga tersedu

Semua berubah menjadi cendala

Hingga genta melantunkan nada sendu

 

Aku benar-benar membenci angin

Semoga ia mati dikulum awan

Begitu juga kau yang pernah menjadi paling ingin

Karena pengalam menjadi widyaiswara kehidupan

Leave a comment