Grace Kolin

Pijar, Medan. Potret Boemi Poetra, acara perdana yang bertajuk kebudayaan Indonesia hadir di lapangan parkiran A Dua Coffee Jl. Abdullah Lubis Medan (2/6). Acara yang dimulai pada pukul tujuh hingga sebelas malam ini mengusung tema “Ikuti Jamanmu, Jangan Tinggalkan Budayamu”. Acara ini dibuat sebagai bentuk penyadaran bagi masyarakat, khususnya kaum anak mud auntuk menjaga budaya mereka agar tetap bestari.

Acara ini dikemas dengan serangkaian kegiatan menarik yang kental dengan budaya lokal dan nasional, seperti pameran fotografi, pameran sepeda tua, atribut budaya, permainan tradisional, musik dan tari daerah, musikalisasi puisi oleh anak – anak Kampung Nelayan, talkshow boemipoetera, pemutaran film dokumenter, souvenir boemi poetera dan Charity for Rohingya. Musisi, penari, budayawan, hingga berbagai komunitas seperti komunitas Sendal jepit Medan, Kenduri Kopi, Pariwisata Sumut, SepedaTua, Laskar Karo, Orang Indonesia (OI), Ujung Pensil ikut meramaikan acara ini.

“Acara ini memerikan gambaran tentang orang-orang Indonesia asli dalam bentuk seperti tarian, puisi, pakaian, dan makanan serta mengenalkan, bahwa budaya itu tidak selamanya kolot, budaya juga bisa disajikan dalam bentuk yang modern,” ujar Dudy Fazriansyah selaku koordinator acara Potret Boemi poetra sekaligus penggiat industri kreatif kota Medan. Menurutnya, budaya Indonesia yang kita kenal sekarang ini tidak hanya sebatas adat saja, namun juga bisa berupa budaya salaman, cium tangan, saling menghormati, makan bersama, duduk diatas tikar, dan bahkan antri pun juga termasuk kedalam kategori budaya bangsa kita.

Selain menikmati acara, kita juga diperbolehkan mencicipi kuliner khas nusantara seperti kue cimpamatah, cimpabalut (cimpapocong) ? dua makanan khas suku Karo yang menjad imakanan penting yang disuguhkan dalam acara – acara adat Karo. Terbuat dari beras ketan merah atau putih, gulaaren, kelapa parut, bingka?kue tradisional khas Melayu berbahan dasar ubi kayu dan santan, lemang?makanan yang juga khas Melayu, terbuat dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, paniaram?makanan khas Minang, terbuat dari tepung beras dan gula, dange?kue khas masyarakat Bugis berbahan dasar ketan hitam, dan masih banyak lagi.

“Pada masa sekarang ini, anak muda kurang mengenal kebudayaan karena mereka menganggap kebudayaan itu kunoda ngak modern. Mereka cenderung lebih suka budaya yang kebarat – baratan. Dengan adanya acara ini, kita akan semakin cinta dengan kebudayaan,” ujar Rusperi, salah satu pengunjung Potret Boemi poetra. Dia berharap agar untuk kedepannya acara ini lebih meriah dan dapat melibatkan pemda atau pemerintah.

Melihat antusias mepengunjung yang begitu luar biasa, acara ini dijadwalkan akan kembali digelar dalam kurun waktu tiga bulan sekali di tempat yang berbeda.

Leave a comment