Hits: 11

Angel Charoline Panjaitan

Pijar, Medan. Pernahkah kamu membeli beberapa barang secara spontan tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu? Fenomena ini disebut dengan Impulsive Buying. Impulsive Buying sering disebabkan oleh diskon besar-besaran, gratis ongkos kirim (ongkir), keinginan untuk melepas stres, ataupun perasaan Fear of Missing Out (FOMO) yang diakibatkan oleh keinginan sesaat. Thetradedesk.com mengatakan bahwa hampir 42% populasi masyarakat Indonesia menjadi impulsive buyers karena adanya diskon produk.

Berdasarkan siloamhospitals.com, impulsif artinya perilaku ketika seseorang melakukan suatu tindakan tanpa memikirkan dampak dari apa yang dilakukan. Jadi, Impulsive Buying adalah sebuah kebiasaan membeli barang secara mendadak dan cenderung tidak dibutuhkan. Misalnya, kamu pergi ke pasar untuk hanya membeli minyak goreng. Namun, sesampainya di sana, kamu justru tiba-tiba menambah beras ke daftar belanja ketika sedang membayar di kasir. Ini dapat berlaku ke semua produk tanpa melihat harga dan kategorinya.

Faktor emosi yang mendukung seseorang untuk berbelanja secara impulsif antara lain adalah sifat materialisme. Hal ini justru dimanfaatkan oleh para pedagang untuk meningkatkan penjualan mereka. Karena, emosi memiliki peranan penting dalam perilaku Impulsive Buying. Hal yang sangat memengaruhi emosi pembeli yaitu saat adanya promo menarik atau tawaran gratis ongkir. Ketika seseorang sudah memiliki dorongan untuk membeli sesuatu, ia akan tetap mempertahankan keinginannya tersebut dan akhirnya membeli barang yang diinginkannya.

Meskipun kelihatannya sepele, tetapi Impulsive Buying dapat membawa dampak yang sangat serius. Beberapa dampak dari Impulsive Buying yang kerap dirasakan ialah mengalami kesulitan finansial di masa depan, abai dengan tanggung jawab, serta merusak hubungan dengan orang lain. Pembelian secara impulsif juga sering kali diikuti  dengan rasa menyesal dan stres, apalagi jika barang tersebut ternyata tidak sesuai harapan atau tidak terpakai dan berujung pada penumpukan barang. Di mana ini merupakan hal yang sangat merugikan bagi kehidupan kita.

Tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi remaja dan anak muda juga. Mereka biasanya lebih rentan terhadap perilaku ini. Ada beberapa cara agar kita terhindar dari fenomena ini, yaitu dengan cara membuat daftar belanja sebelum membeli barang, mengatur anggaran bulanan, membandingkan harga dan kualitas sebelum membeli, membedakan antara keinginan dan kebutuhan, menentukan prioritas barang yang akan dibeli, serta jangan lupa menyisihkan uang untuk tabungan dan investasi. Cara-cara tersebut merupakan bentuk self-control (pengendalian diri) dari perilaku Impulsive Buying.

Akhirnya, membeli sesuatu bukanlah hal yang salah, tetapi penting untuk memahami alasan di balik setiap keputusan pembelian. Keinginan untuk mendapatkan barang yang sedang tren atau memanfaatkan promosi memang sulit dihindari, terutama di tengah maraknya belanja online. Namun, jangan sampai godaan yang bersifat sementara membuat kita mengabaikan kondisi keuangan dan kebutuhan yang sebenarnya. Dengan begitu, berbelanja dapat tetap menjadi aktivitas yang menyenangkan tanpa meninggalkan penyesalan di kemudian hari.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment