Hits: 18

Kelompok 2 MKWK Berkurangnya Kesenjangan

Kelompok 2 Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Berkurangnya Kesenjangan Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan sosialisasi, bertemakan “Upaya Mengurangi Kesenjangan”. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa, mengenai kesenjangan pendidikan yang masih terjadi di lingkungan sekitar. Kegiatan berlokasi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Percut Sei Tuan, pada Selasa (21/10/2025).

Maria Sinaga, selaku Ketua Kelompok 2 MKWK Berkurangnya Kesenjangan, mengujarkan alasan mereka dalam memilih tema yang dibawakan.

“Pemahaman mengenai kesenjangan pada siswa masih sangat minim. Itulah yang memicu kami memilih topik ini,” ujar Maria.

Dalam penyusunan materi, Risnawaty Sinulingga, selaku dosen fasilitator, membimbing langsung agar materi yang disampaikan relevan bagi siswa menengah. Dalam mendukung materi yang dibawakan tersebut, menurut salah satu anggota kelompok, isu kesenjangan harus diperkenalkan sejak dini.

“Semua kaum muda harus tahu kalau permasalahan ini dekat dengan mereka. Jangan hanya paham soal dosa pendidikannya, tetapi [juga paham] apa akar masalahnya,” ungkapnya.

Kegiatan sosialiasi dimulai dengan pemaparan materi mengenai bentuk dan penyebab kesenjangan, hingga dilanjutkan ke sesi tanya jawab. Hasil awal menunjukkan bahwa sebagian siswa belum mampu menyebut contoh kesenjangan yang dekat dengan mereka, tanpa menyinggung ranah politik. Penemuan tersebut menunjukkan ketidakpekaan siswa terhadap isu yang sebenarnya sangat berdampak dalam kehidupan mereka.

Salah satu perwakilan peserta kelas X-2, menyebutkan satu contoh kesenjangan ketika dalam sesi tanya jawab.

“Seringnya kalau olimpiade nasional, yang menang selalu dari Jawa karena aksesnya lebih dekat ke ibu kota,” sebutnya.

Bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, mahasiswa mengajak siswa mengikuti permainan edukatif, seperti tebak kata dan kuis cepat. Aktivitas ini dirancang agar siswa bisa memahami tentang polarisasi yang seringkali menjadi akar dari kesenjangan melalui aktivitas edukatif secara langsung.

Pada akhir acara, berdasarkan kuisioner evaluasi yang dibagikan pada siswa, disimpulkan bahwa pemahaman siswa meningkat signifikan. Mereka mampu menjawab dengan lebih jelas pertanyaan seputar penyebab dan dampak kesenjangan. Bahkan, banyak jawaban kritis dan pionir ketika diminta menyampaikan kontribusi yang bisa dilakukan untuk menanggulangi isu ini dalam skala individu.

“Kegiatan sosialisasi bareng kakak dan abang dari USU itu bener-bener ngebuka pikiran. Kita menjadi mengerti kalau kesenjangan nggak bakal berkurang, kalau kita masih suka bedain teman,” ujar peserta kelas X-1.

Pihak sekolah menyambut positif kegiatan tersebut. Dalam wawancara singkat, kepala sekolah menilai sosialisasi ini membantu siswa memahami kesetaraan secara konkret.

“Kami berharap wawasan tentang kesetaraan bukan hanya konsep, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan sehari-hari,” jelasnya.

Sebagai penutup, kelompok berharap bahwa program ini menjadi langkah awal pembentukan budaya sekolah yang inklusif. Selain itu, juga mendorong keberlanjutan program sejenis di masa mendatang.

Leave a comment