Hits: 131

Kelly Kidman Salim

Pijar, Medan. Sebagian orang yang ingin melanjutkan studinya setelah tamat sekolah akan merasakan rasanya diterima di universitas pilihan, dan menyandang status mahasiswa baru (maba). Dalam proses tersebut, ada persiapan yang dilakukan untuk menempuh dunia perkuliahan. Salah satunya adalah mengikuti rangkaian Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek).

Dalam beberapa bulan ke depan, Universitas Sumatera Utara (USU) akan kembali menggelar Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), yang harus diikuti oleh seluruh maba sebelum mengikuti perkuliahan. Mulai dari ospek lingkungan kampus secara keseluruhan, hingga ospek jurusan yang diikuti oleh mahasiswa sesuai fakultas dan jurusan masing-masing.

Kegiatan ospek jurusan dilakukan dengan tujuan untuk memperdalam pengetahuan para maba terhadap jurusan mereka. Selain dapat mempererat hubungan dengan maba lain, ospek jurusan sekaligus menjadi jembatan untuk berinteraksi dengan para senior atau kakak tingkat (kating).

Meski begitu, ospek jurusan ternyata tidak selalu menjadi wadah pendekatan yang baik bagi maba. Esensi dari kegiatan tersebut seolah menjadi kesempatan bagi para kating untuk “membalas dendam” terhadap apa yang turun-temurun mereka rasakan ketika menjadi maba.

Hal ini disampaikan oleh CS, salah satu mahasiswa Fakultas Teknik (FT) USU angkatan 2024, yang mendapati pengalaman kurang baik selama menjalani masa ospek jurusan.

“Saya sendiri pernah diperlakukan keras secara verbal, tetapi ada beberapa teman laki-laki saya yang menerima kekerasan fisik berupa tamparan kuat ketika mereka tidak sopan pada kating. Mungkin ada yang motivasinya untuk menertibkan, dan ada juga sebagian yang memang karena dendam,” jelasnya.

CS menambahkan bahwa perlakuan tersebut sudah menjadi tradisi fakultas yang dinormalisasikan setiap tahun.  Menurutnya, cara tersebut dapat dikatakan efektif untuk menertibkan mahasiswa di FT karena fakultas tersebut mayoritas laki-laki. Namun, ia berharap bahwa ospek jurusan cukup dilakukan secara tegas tanpa melibatkan kekerasan fisik seperti dulu.

Pengalaman serupa tentang kerasnya ospek jurusan juga dirasakan oleh SP, mahasiswa Fakultas Psikologi USU angkatan 2024, ia mengatakan bahwa perlakuan seperti ini seharusnya sudah tidak efektif dan relevan untuk dilakukan pada masa sekarang.

“Menurut saya, lebih baik memakai sistem skoring dalam menilai dan menertibkan mahasiswa. Meski dinormalisasikan di USU, saya tidak suka dengan cara kekerasan seperti ini, rasanya sangat ketinggalan zaman,” tegasnya.

Kedua mahasiswa tersebut setuju, bahwa sikap tegas adalah tindakan yang baik untuk ditanamkan kepada maba sebagai fondasi awal memasuki dunia perkuliahan. Namun, mereka juga berharap bahwa budaya menggunakan kekerasan oleh kating ketika masa ospek dapat berhenti di angkatan mereka, sehingga tidak diteruskan pada masa penerimaan maba 2025 kelak.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment