Hits: 23
Pijar, Medan. Alam merangkai ceritanya melalui bentuk dan warna yang terekam di atas kain. Cerita itu dimulai ketika kain serat alami dibentangkan, lalu dedaunan dan bunga disusun satu per satu sebagai awal proses ecoprint. Kain yang semula putih perlahan bertransformasi menjadi berwarna dan bermotif melalui teknik yang memanfaatkan daun, batang, getah, bunga, dan kulit kayu. Ecoprint menjadikan alam bukan hanya inspirasi visual, melainkan bagian dari proses yang menciptakan pola unik pada setiap helai kain.

(Fotografer: Ghina Raudhatul Jannah)
Proses ecoprint tersebut dijalankan oleh Nauli Ecoprint, sebuah rumah produksi kreatif yang mengolah alam sekitar menjadi tekstil bernilai seni tinggi dengan prinsip ramah lingkungan. Nama Nauli diambil dari bahasa Batak yang berarti cantik, dengan tujuan untuk merepresentasikan keindahan alam Sumatra Utara. Keindahan ini tidak hanya dipandang secara visual, tetapi juga dimaknai memiliki banyak manfaat bagi manusia.
Di ruangan Nauli Ecoprint, setiap lembar kain yang tersusun pada rak pajang menyimpan jejak daun, bunga, dan batang yang meninggalkan warna serta motif dengan caranya sendiri. Susunan kain ini bukan sekadar tampilan karya, melainkan pertemuan antara kesadaran terhadap alam dan kreativitas yang dituangkan ke dalam tekstil yang hidup dan bernilai.

(Fotografer: Adinda Amelia Putri Br. Tarigan)

Dalam prosesnya, ecoprint melalui beberapa tahapan penting. Tahap awal dimulai dari scouring, yaitu pencucian kain dengan menggunakan air rendaman tunjung, untuk membersihkan sisa kotoran, minyak, dan zat lain yang masih menempel pada serat. Proses ini bertujuan menyiapkan kain agar mampu menyerap warna dan motif alami secara optimal pada tahap selanjutnya.

(Fotografer: Marshella Febriyanti)

(Fotografer: Marshella Febriyanti)

(Fotografer: Marshella Febriyanti)
Setelah scouring, kain memasuki tahap mordant. Pada tahap ini, kain direndam dalam larutan garam-garam logam untuk meningkatkan daya ikat serat terhadap pigmen warna, sehingga warna alami dapat bertahan lebih lama sebelum kain masuk ke proses pengukusan.

(Fotografer: Marshella Febriyanti)

(Fotografer: Marshella Febriyanti)

(Fotografer: Marshella Febriyanti)
Tahap inti ecoprint dimulai ketika kain ditata dengan daun, digulung, diikat dengan tali, lalu dikukus selama beberapa jam bersama bahan alam. Melalui proses ini, pigmen daun berpindah ke kain dan membentuk motif yang lebih jelas.

(Fotografer: Marshella Febriyanti)

(Fotografer: Marshella Febriyanti)


(Fotografer: Marshella Febriyanti)

(Fotografer: Marshella Febriyanti)
Setelah pengukusan, bundelan kain didiamkan hingga dingin sebelum dibuka. Sisa daun dan bunga kemudian dilepaskan dari permukaan kain, memperlihatkan motif yang mulai terbentuk.

(Fotografer: Marshella Febriyanti)

(Fotografer: Ghina Raudhatul Jannah)


(Fotografer: Ghina Raudhatul Jannah)
Tahap berikutnya adalah fiksasi, yaitu proses penguncian warna agar pigmen alami tidak mudah luntur. Fiksasi dilakukan berulang kali dengan mencelupkan kain ke dalam larutan tawas atau bahan alami lain, seperti air dari buah lerak, air teh, soda abu, air cuka, dan air tunjung untuk menghasilkan variasi warna.

(Fotografer: Nazwa Nayla Salsabillah)
Setelah fiksasi, kain ecoprint dijemur di tempat teduh hingga kering, kemudian disetrika dan didiamkan sekitar tujuh hari sebelum dicuci. Pencucian awal dilakukan menggunakan lerak sebagai bahan pembersih alami. Tahapan ini menandai bahwa proses ecoprint telah selesai.

(Fotografer: Nazwa Nayla Salsabillah)
Kain ecoprint yang telah melalui seluruh tahapan akan menghasilkan motif daun dan bunga dengan warna yang lebih stabil dan tidak mudah luntur. Kain siap digunakan atau diolah lebih lanjut.

(Fotografer: Alya Amanda)

(Fotografer: Lainatus Syifa Hasibuan)
Berbagai foto ini bukan sekadar merekam proses penciptaan ecoprint pada kain, melainkan cerita tentang hubungan manusia dan alam yang saling berkaitan. Terlihat dari setiap motif yang mengajarkan bahwa keindahan dari alam dapat tercipta melalui tangan manusia. Kreativitas dapat tumbuh seiring dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan.
Di tengah maraknya produksi massal yang banyak menguras sumber daya alam, praktik ecoprint dapat menjadi solusi atas permasalahan tersebut. Meskipun upaya ini masih belum banyak diterapkan, mari bersama menjaga bumi sekaligus menjaga nilai-nilai kesenian dalam setiap kreativitas.
Esai foto ini disusun oleh Adinda Amelia Putri Br. Tarigan, Amanda Citra Ayu, dan Nabila sebagai konseptor, Najla Khairani dan Putri Theresia sebagai narator, Marshella Febriyanti dan Ferdi Rakiven Sianturi sebagai editor, serta Marshella Febriyanti, Adinda Amelia, dan Rifki Partogi sebagai desainer tata letak.

