Hits: 582

Miftahul Jannah Sima

Pijar, Medan. Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal dengan Gestapu, masih menjadi topik menarik untuk dibahas oleh para sejarawan. Enam orang jenderal yang diculik hingga meregang nyawa di lubang buaya masih menjadi misteri, siapa dalang dibaliknya? Pasalnya, saksi hidup dalam peristiwa tersebut nyaris sudah tidak ada dan cerita-cerita yang tersebar juga masih menjadi misteri.

Walaupun media telah menyiarkan bahwa kejadian ini didasari oleh komunisme yang dilakukan PKI, namun masih banyak tanggapan mengenai hal tersebut. Bagaimana mungkin sebuah partai yang terorganisasi dengan baik dan reputasi sebagai partai yang berdisiplin tinggi, merencanakan tindakan amatiran semacam itu?

Sejak awal Oktober 1965, perdebatan mengenai siapa dalang dibalik peristiwa Gestapu itu pun tak kunjung reda. Apakah para perwira militer bertindak sendiri? Sebagaimana yang mereka nyatakan atau bahkan menipu beberapa tokoh PKI agar membantu mereka? Ataukah justru PKI yang menggunakan perwira militer sebagai alat perencana mereka, sebagaimana yang dikatakan Soeharto.

Walaupun beberapa pelaku kekejaman itu sudah tertangkap, namun kebenaran tak juga jelas. Para pimpinan kunci G30S/PKI tidak mengungkap banyak hal. Kesaksian yang mereka berikan di depan pengadilan pun lebih mencerminkan keterdesakan untuk menolak segala dakwaan. Tak ada ungkapan untuk menjelaskan secara rinci tentang bagaimana dan mengapa G30S/PKI dilancarkan.

Para terdakwa memilih tutup mulut, berbohong, dan menghindar demi melindungi diri mereka. Tidak ada satu orang pun yang dibawa ke pengadilan dibebaskan dari tuntutan. Dari lima orang pimpinan utama G30S/PKI, semua dinyatakan terbukti berkhianat, dijatuhi hukuman mati, dan dieksekusi oleh regu tembak.

Kematian mereka menutup semua kebenaran yang ada. Sampai saat ini orang-orang biasa hanya mengetahui bahwa dalang dibalik Gestapu adalah PKI. Namun beda dengan para sejarawan, mereka masih terus meneliti cerita dibalik semua peristiwa tersebut. Tidak mudah mengubah suatu narasi besar yang telah tersebar dari tahun ke tahun. Tak sedikit pula sebuah film yang menceritakan kejadian tersebut, tetapi lagi-lagi masih ada yang merasa bahwa cerita tersebut ada yang berbeda dengan kejadian sebenarnya.

Korban gestapu yang diberi penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi. (Sumber foto: Tribunnewswiki)
Korban gestapu yang diberi penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi.
(Sumber foto: Tribunnewswiki)

“Lalu sebenarnya, bagaimana kejadian tersebut?”

Salah satu saksi hidup, Sukitman seorang anggota polisi berpangkat Agen Polisi Dua yang tengah berjaga di posnya, di markas Seksi Vm Kebayoran Baru, Wisma AURI Jalan Iskandarsyah Jakarta, bersaksi bahwa ia mendengar suara tembakan pukul 03.00 WIB. Dan yang mengejutkan pada 1 Oktober 1965, suara itu datang dari rumah Jenderal TNI AD, DI Panjaitan.

Saat hendak mendekati bunyi suara, Sukitman dicegat dan ia pun menjadi tawanan. Selama menjadi tawanan, ia melihat sejumlah orang sudah dalam kondisi mengenaskan. Keesokan harinya, Sukitman menyaksikan tubuh-tubuh manusia dimasukkan ke dalam sumur. Kemudian suara berondongan peluru pun menyusul dari senjata laras panjang. Ia melihat semua kekejaman para militer berbaret merah menghujani enam orang Jendral dengan sangat brutal.

Siapapun yang mendengar kisah tersebut dapat merasakan kekejaman 55 tahun silam itu. Tak usai dengan kejadian Gerakan 30 September, terjadi lagi kerusuhan lainnya. Indonesia dibantai dengan penghilangan massal yang dianggap komunis.

Mengutip dari laman Wikipedia, pembantaian di Indonesia 1965–1966 merupakan peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh komunis. Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa terdapat setengah juta orang yang dibantai.

Melihat dari laman Youtube Dialog Sejarah, John Rossa berkata, “kejadian 65 ini merupakan penghilangan paksa yang dikatakan normalisasi kekerasan. Menurutnya, itu bukanlah sesuatu yang normal, itu adalah tindakan abnormal, dan sangat kejam”.

Kejadian G30S/PKI akan terus diungkap, karena hingga saat ini para sejarawan masih terus menyelidiki dan mencari kebenaran dari semua peristiwa berdarah tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak akan ada lagi kejadian kejam seperti itu di masa mendatang.

 (Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment