Hits: 9

Najla Khairani

Pijar, Medan. Datangnya bulan Ramadan tentu disambut gembira oleh seluruh umat Islam. Meskipun harus melewati cuaca yang panas sekalipun, tetapi masyarakat tak lantas luntur antusias. Oleh karena itu, demi menumbuhkan semangat berpuasa masyarakat muslim, beragam tradisi penyambutan bulan suci Ramadan pun hadir di berbagai daerah Indonesia.

Tradisi yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat Sumatera Utara dalam menyambut Ramadan, yaitu Punggahan dan Mandi Pangir. Tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak zaman dahulu dan kerap dilakukan pada beberapa hari sebelum Ramadhan sebagai puncak kemeriahan menuju bulan suci Ramadan.

Awalnya, tradisi Punggahan disertai Mandi Pangir ini adalah warisan nenek moyang masyarakat muslim Kecamatan Natal alias suku Mandailing yang dilakukan sebagai bentuk acara sakral. Tradisi ini berguna untuk mempererat kekompakan dan silaturahmi di antara semua orang yang terlibat dalam prosesi acara ini.

Tradisi ini juga dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan sarana untuk berkumpul bersama masyarakat di sekitar tempat tinggal. Selain mengasyikkan, tradisi ini juga memiliki banyak nilai yang baik bagi kehidupan.

Secara harfiah, Punggahan berasal dari kata munggah yang artinya naik. Punggahan sendiri dapat dimaknai sebagai mampu menaikkan derajat manusia dalam menghadapi bulan suci Ramadan, baik secara lahir maupun batin.

Sementara itu, tradisi Mandi Pangir atau Marpangir adalah kegiatan mandi secara tradisional dengan tidak menggunakan wewangian dari sabun mandi atau sabun cair. Tradisi ini justru menggunakan paket dedaunan dan rempah yang disebut Pangir. Paket Pangir sendiri terdiri dari daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi, dan bunga pinang yang direbus terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mandi.

Marpangir ini biasanya dilakukan setelah masyarakat selesai mengadakan Punggahan. Faktanya, tradisi Marpangir tidak ada dalam ajaran Islam dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari India yang mensucikan diri di Sungai Gangga. Namun, tradisi ini bukanlah sesuatu yang dilarang karena tidak mengandung unsur syirik. Tradisi Marpangir hanyalah sebuah keinginan mendapatkan kesucian diri dalam memasuki bulan Ramadan.

Runtutan kegiatan dari dua tradisi ini biasanya dimulai dengan ritual doa bersama oleh kepala suku sesuai ajaran agama Islam sebagai ungkapan syukur menyambut datangnya Ramadan sekaligus untuk leluhur yang telah meninggal dunia.

Sebelum memulai Punggahan, masing-masing dari masyarakat membawa makanan (berkat) dari rumahnya untuk kemudian dikumpulkan di titik kumpul yang biasanya adalah masjid. Lalu dilanjutkan dengan acara inti, yakni kegiatan makan bersama dan saling bertukar berkat yang sudah dibawa sendiri dari rumah.

Sampai semuanya merasa sudah kenyang, tradisi Punggahan ditutup dengan kegiatan bermaaf-maafan kepada semua yang hadir tanpa terkecuali. Jika ada sisa maka dengan senang hati mereka akan membawanya pulang ke rumah.

Beberapa masyarakat yang selesai melakukan kegiatan Punggahan, kemudian akan pergi ke sungai terdekat untuk melaksanakan ritual Mandi Pangir bersama. Ritual ini tidak hanya dilakukan di sungai beramai-ramai, tetapi juga bisa bisa dilakukan di dalam rumah bagi masyarakat kota. Namun, keseruan Mandi Pangir bersama di sungai menjadi pilihan mayoritas masyarakat.

Tradisi yang tidak akan mudah dihilangkan hingga kini di masyarakat Sumatera Utara, Punggahan dan Marpangir, masih dilakukan serta bahkan menjadi suatu ritual yang umum dilakukan menjelang Ramadan. Kedua tradisi ini dilakukan dengan cara yang unik dan berbeda. Namun, di Sumatera Utara khususnya Kota Medan, biasanya tradisi-tradisi tersebut berlangsung hanya selama sehari atau dua hari di malam sebelum Ramadan.

Di balik itu, bukan hanya Sumatera Utara yang memiliki tradisi menjelang Ramadan yang unik seperti ini. Di beberapa daerah tentunya juga punya tradisi dengan tujuan sama, seperti Munggahan di Jawa Barat, Padusan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Meugang di Aceh, serta masih banyak tradisi menarik lainnya.

Nah, gimana nih keseruan Punggahan dan Mandi Pangir di daerah tempat tinggal kamu?

(Redaktur Tulisan: Rani Sakraloi)

 

 

 

Leave a comment