Hits: 31

Najla Khairani/ Reny Elyna Ridwan

Pijar, Medan. Salah satu cara tenaga pendidik untuk menjadikan peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar mengajar adalah dengan mengadakan kegiatan atau proyek sebagai media pembelajaran. Metode pembelajaran semacam ini disebut sebagai project based learning (PjBL). PjBL ini masuk ke dalam pendekatan metode belajar outcome based education (OBE) bersama dengan kedua proyek lain, yaitu case based learning (CBL) dan problem based learning (PBL).

Sehubungan dengan itu, Kemendikbud telah mengakselerasikan ketiga pendekatan metode belajar ini sebagai pendekatan terbaru di kurikulum demi menunjang produktivitas mahasiswa. Mahasiswa diberi kecakapan pembelajaran melalui sikap, ilmu pengetahuan, serta keterampilan di internal maupun eksternal kampus. Nantinya, mahasiswa dapat mengelaborasikan teori dengan sikap realistis mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang sama diaplikasikan pada Prodi Ilmu Komunikasi FISIP USU. Sofiari Ananda selaku dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU mengharuskan PjBL ini dalam pendekatan mata kuliahnya, karena menurutnya tugas maupun ujian tertulis sudah terlalu konvensional di kalangan kolega dosen dan mahasiswa.

“Meskipun pembelajaran konvensional penting, tapi diperlukan hal yang lebih menarik untuk dapat mengukur kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dan keterampilannya sendiri. Pendekatan PjBL lebih menarik tanpa harus berhadapan dengan banyaknya hafalan teori,” jelasnya.

Adanya pendekatan PjBL juga nantinya berdampak pada citra positif mahasiswa yang akan meningkatkan prospek kerja dalam menunjang kariernya. Kumpulan dokumen seperti portofolio akan menjadi nilai tambah sebagai seorang calon tenaga kerja.

“Personal mahasiswa akan terbentuk dengan baik atas rasa bangga dan mengapresiasi apa yang telah dilakukan dan dihasilkannya melalui PjBL ini. Kemudian, PjBL dapat lebih memfasilitasi mahasiswa dalam dunia kerja, terutama dunia kerja industri Indonesia yang memprioritaskan pelamar kerja dengan berbagai skill dan keterampilan khususnya,” ungkapnya.

Azka, mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang seringkali terlibat dalam berbagai kegiatan PjBL mengaku menikmati metode pembelajaran tersebut.

“Menurut saya, PjBL membantu mahasiswa lebih fun dalam mengerjakan tugasnya, karena pembelajarannya intens dan mempraktekkannya secara langsung hingga turun ke lapangan untuk bersosialisasi dengan masyarakat,” ucap Azka.

Program PjBL akan tetap mendominasi dunia perkuliahan secara postif tergantung bagaimana situasi dan kondisi yang diciptakan oleh dosen dan tenaga pendidik lain saat memantik dan membimbing mahasiswanya.

Dosen dan tenaga pendidik lain juga perlu mengamalkan sikap ketelitian dan transparan dalam menilai mahasiswa, serta menganalisis keunikan mahasiswa dari hasil PjBL mereka. Dengan begitu, dosen dan mahasiswa secara kolaboratif menciptakan hubungan yang nyaman hingga proyek PjBL ini terselesaikan.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment