Hits: 60

Alya Nuansa Putri / Erna Berliana

Pijar, Medan. Sebagai manusia, kita tidak bisa sembarangan memberikan saran kepada orang lain. Kita harus bisa menunjukan sikap empati, merasakan apa yang orang lain rasakan terlebih dahulu sebelum memberi nasihat. Hal ini disampaikan oleh Keigo Higashino dalam bukunya Keajaiban Toko Kelontong Namiya.

Keigo Higashino adalah seorang penulis asal Jepang yang terkenal karena novel-novelnya bergenre misteri. Dia menjabat sebagai Presiden ke-13 penulis Misteri Jepang dari 2009—2013.

Buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya pertama kali terbit pada tahun 2012 dan dipublikasikan melalui Kadokawa Shoten. Buku ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dari awal hingga akhir dengan mengusung genre magical-realism.

Tampilan buku ini rapih, simpel tetapi indah. Sebagai pembaca, kamu akan merasa puas dengan semua aspek yang ada di buku ini. Dari gradasi warna biru serta desain sederhana pada sampul dan judulnya, hingga jenis font yang dipilih penerbit.

Buku ini terbagi menjadi lima bab. Pada setiap babnya mengisahkan satu cerita yang dapat berdiri sendiri. Setiap bab dibagi lagi ke beberapa subbab yang pendek, sehingga tidak akan membuat pembaca sesak dan kelelahan.

Membaca novel ini rasanya seperti membaca kumpulan cerita, tetapi keseluruhannya saling berkaitan membentuk kisah yang utuh dan megah. Tokoh-tokohnya pun berbeda di setiap bab.

Pada bab pertama, penulis tanpa banyak perkenalan langsung menyodorkan sebuah misteri yang tidak bisa diterima dengan akal sehat. Tiga orang berandal Atsuya, Shota, dan Kohei yang baru saja merampok sebuah rumah bersembunyi di sebuah toko kelontong tua tak berpenghuni. Mereka berniat tinggal hingga menjelang fajar.

Namun, secara misterius sebuah surat jatuh dari lubang surat di pintu gulung toko. Surat yang setelah mereka selidiki ternyata datang dari masa lalu itu membuat mereka bingung setengah mati.

Selanjutnya pada bab kedua, cerita beralih ke masa 32 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1980. Seorang musisi amatir bimbang, apakah ia harus memperjuangkan mimpinya untuk menjadi musisi profesional atau menguburnya dalam-dalam, lalu melanjutkan usaha toko ikan milik keluarganya. Menariknya, ia dibesarkan di tempat yang sama dengan tempat di mana Toko Kelontong Namiya berdiri. Diceritakan pula latar belakang sang musisi dan kerja kerasnya untuk menggapai mimpinya.

Di bab ketiga, kamu akan diajak lebih mengenal siapa sebenarnya pemilik Toko Kelontong Namiya. Sampai di sini keajaiban yang diberikan penulis makin terasa. Banyak kejadian menarik, mengejutkan, dan mengharukan yang terjadi.

Di bab selanjutnya, cerita kembali ke masa sekarang, yaitu tahun 2012. Tokoh utama di bab ini pun berganti. Ia adalah seorang mantan penggemar berat band legendaris The Beatles. Banyak informasi baru yang akan kamu dapat. Kamu akan lebih mengenal band The Beatles berkat tokoh di bab ini. Di bagian akhir bab, Keigo akan membuat perasaanmu menjadi campur aduk.

Sampailah di bab terakhir. Latar waktunya kembali pada tahun 1980. Fokus utamanya ialah seorang gadis yang baru lulus sekolah menengah atas dan memutuskan untuk menjadi hostes yang berpenghasilan tinggi demi bisa membalas jasa nenek angkatnya. Akhir kisah pada bab ini akan membuat tercengang, tidak disangka-sangka memberi kenyataan yang mengejutkan.

Semua tokoh pada buku ini memiliki permasalahan yang pelik dan mengetahui kemasyhuran Toko Kelontong Namiya sebagai toko kelontong yang merangkap tempat konsultasi. Tokoh-tokoh yang ada walaupun hidup di masa yang berbeda-beda, tetapi saling memengaruhi. Bukan secara kebetulan, tetapi ada suatu tempat dan kisah terdahulu yang menghubungkan mereka.

Membaca buku ini rasanya seperti diberi setumpuk benang kusut. Mengikuti kisahnya dari awal hingga akhir terasa seperti meluruskan kembali benang tersebut. Butuh perjuangan memang, tetapi ini pengalaman menjelajah waktu yang mengasyikkan. Alurnya mengalir, setiap bagian tidak ada yang sia-sia dan mengokohkan cerita. Keajaiban dibangun pelan-pelan, disusun dengan cukup rapi, dan selalu ada sebab-akibat, memaksamu untuk terus-terusan membuka halaman selanjutnya.

Buku ini memberikan pelajaran bahwa ketika orang-orang mengetahui hidupnya akan segera berakhir, maka tidak lagi memikirkan nafsu dunia. Ia jadi cenderung memikirkan segala kenangan baik yang bisa diberikannya untuk sesama di sisa waktunya.

Melalui tokoh Yuji Namiya, pembaca juga akan memahami arti ketulusan lewat tulisan-tulisannya. Ia bahkan membalas surat kosong dengan kata-kata luar biasa yang mengubah jalan hidup seseorang.

Membaca buku ini hingga halam terakhir akan membuat perasaanmu mendadak penuh gembira dan pastinya sangat menyenangkan. Jadi bagaimana, tertarik untuk menelusuri kisah Keajaiban Toko Kelontong Namiya?

(Redaktur Tulisan: Hana Anggie)

Leave a comment