Dheandra Hanani Nalsalitha br Meliala

Medan, Pijar. Menjadi menyenangkan dan disenangi banyak orang merupakan harapan setiap orang. Namun, apa jadinya jika diri sendiri menjadi tertekan hanya untuk menyenangkan dan disenangi orang lain? Apakah sobat Pijar pernah merasakan hal tersebut? Kalau pernah, berarti sobat Pijar sudah termasuk seorang people pleaser.

Keadaan di mana kita selalu ingin menyenangkan orang lain meskipun merugikan diri sendiri sering disebut dengan people pleaser. Seorang people pleaser paling susah untuk mengatakan “tidak” untuk sesuatu hal. Bagi mereka, hal yang paling penting dalam hidupnya adalah untuk membahagiakan orang-orang di sekitarnya.

Seorang people pleaser akan selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Menjadi rugi bukan masalah baginya, asal orang lain puas dengan bantuannya. “Nggak enakan” menjadi salah satu alasan dalam diri seorang people pleaser. Karena alasan tersebut pula seorang people pleaser justru sering dimanfaatkan oleh orang di sekitarnya.

Seorang people pleaser akan menekan dirinya agar orang lain tidak merasa kecewa, dengan ekspektasi orang lain akan melakukan hal yang sama pada dirinya. Namun sering kali hal yang didapatkannya justru sebaliknya.

Sering menyalahkan diri sendiri untuk ketidakpuasan orang lain justru membuat dirinya semakin tertekan. Seorang people pleaser mempunyai angan-angan untuk lepas dari keadaannya, namun jika ada orang yang tiba-tiba meminta pertolongannya maka akan sangat sulit baginya untuk menolak.

Seperti dilansir dari tirto.id, seorang psikolog di Evolution of the Self, Leon F Seltzer mengatakan bahwa akar dari sikap tersebut adalah lingkungan keluarga. Pada umumnya, orang tua menuntut anaknya untuk menjadi yang terbaik di lingkungannya. Menuntut untuk bisa berguna bagi orang lain, sehingga anak menangkap bahwa setiap tindakannya harus bisa membahagiakan orang lain meskipun menyakiti dirinya.

Seorang people pleaser memang cenderung tidak bisa menjadi diri sendiri. Itu dibuktikan dengan adanya perasaan tidak percaya diri dan selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain. Jika terus-menerus dibiarkan, ini bisa menjadi boomerang bagi diri sendiri. Kondisi ini akan membentuk individu tidak bisa membuat keputusan sendiri dan tidak mandiri. Selalu memutuskan sesuatu atas penilaian orang lain dan terlalu memikirkan omongan orang lain.

Tapi kamu gak perlu khawatir, seperti dikutip dari alodokter.com ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk berhenti menjadi people pleaser.

  1. Kamu harus bersikap tegas terhadap dirimu maupun orang lain. Jika seseorang meminta bantuanmu dan itu diluar kemampuanmu, maka tolaklah dengan cara yang baik dan jelaskan alasanmu tidak dapat melakukannya.
  2. Sebelum melakukan sesuatu untuk orang lain, lebih baik dipikirkan dahulu. Jangan sampai itu membuatmu dimanfaatkan oleh orang lain.
  3. Jangan meminta maaf jika kamu tidak bersalah. Minta maaf seperlunya saja. Tidak semua hal yang terjadi adalah kesalahanmu.
  4. Prioritaskan kebahagianmu. Yang terpenting dari semuanya adalah tentang dirimu dan kebahagiaanmu. Sesekali tidak masalah membahagiakan orang lain, tapi jangan sampai membuatmu lupa akan dirimu.

Terlihat sulit, tapi yakinlah bahwa setiap hal butuh proses dan kamu pasti bisa terbebas dari julukan people pleaser jika kamu mau berproses dan konsisten terhadap dirimu sendiri.

Sobat Pijar, perlu diketahui bahwa kamu juga berhak bahagia dengan caramu sendiri. Kamu nggak punya hak untuk membahagiakan semua orang. Jadi, berhenti memikirkan perasaan orang lain. Berhenti membahagiakan orang lain meskipun akan menyakiti dirimu sendiri. Yuk, ubah kebiasaan “nggak enakan” mulai dari sekarang. Be Your Self!

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment